Kamis, 18 Juni 2026 | 03:38
NEWS

Kisah Tiga Putri Raja, Jeritan Papua Gelap Tanpa Listrik

Kisah Tiga Putri Raja, Jeritan Papua Gelap Tanpa Listrik
Ilustrasi pemukiman di Papua tanpa listrik (Dok Gemini)

ASKARA - Sebuah kisah reflektif tentang kebijaksanaan kepemimpinan dan pentingnya penerangan kembali diangkat untuk menyoroti tantangan pembangunan di Tanah Papua, khususnya terkait akses listrik yang hingga kini belum merata. Kisah tersebut disampaikan oleh Ketua Umum LSM PIKAD, Hironimus Taime, sebagai ilustrasi tentang pentingnya solusi cerdas dan berdampak luas bagi masyarakat.

Dalam kisah itu diceritakan seorang raja yang telah lanjut usia dan ingin menyerahkan tahta serta kekayaannya kepada salah satu dari tiga putrinya. Sang raja memberikan syarat sederhana namun penuh makna: siapa yang mampu mengisi gudang kosong hingga penuh dalam waktu paling singkat, maka dialah yang berhak menerima tahta kerajaan.

Putri sulung mengisi gudang dengan potongan kayu hingga penuh. Putri kedua menggunakan potongan kertas untuk memenuhi gudang. Keduanya bekerja keras dan berhasil memenuhi gudang sesuai syarat yang ditentukan. Namun, putri bungsu memilih cara berbeda. Ia menyalakan lampu penerang hingga seluruh ruang gudang dipenuhi cahaya dalam waktu yang sangat singkat.

Melihat hasil tersebut, sang raja memuji ketiga putrinya atas usaha dan kerja keras mereka. Namun, tahta kerajaan akhirnya diberikan kepada putri bungsu karena dinilai mampu menghadirkan solusi paling efektif, cepat, dan bermanfaat melalui cahaya penerangan.

Menurut Hironimus Taime, kisah tersebut menyimpan pesan mendalam bahwa penerangan adalah kebutuhan dasar bagi setiap rumah, permukiman, dan wilayah, baik di lingkungan tempat tinggal maupun di jalan umum.

“Inspirasi dari kisah ini adalah bahwa terang membawa kehidupan, keamanan, dan kemajuan. Cahaya bukan sekadar penerangan, tetapi simbol peradaban,” ujarnya, Selasa(20/1).

Dalam konteks Papua, Hironimus menyoroti hasil evaluasi 20 tahun pertama pelaksanaan Otonomi Khusus (Otsus) Papua yang mencatat masih terdapat sekitar 1.250 kampung atau kelurahan yang belum pernah menikmati aliran listrik.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi pekerjaan rumah besar bagi enam provinsi, 40 kabupaten, dan dua kota di Tanah Papua untuk menuntaskan pemerataan listrik dalam masa 20 tahun Otsus Jilid II.

“Penerangan listrik harus menjadi prioritas utama. Tanpa listrik, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan keamanan sulit berkembang secara optimal,” tegasnya.

Ia berharap kisah sederhana tersebut dapat menjadi pengingat sekaligus pemantik bagi para pemangku kebijakan untuk menghadirkan solusi yang inovatif, cepat, dan berpihak pada kebutuhan dasar masyarakat Papua.

 

Komentar