Minggu, 07 Juni 2026 | 19:41
COMMUNITY

Prof. Rokhmin Dahuri Ungkap Empat Sumber Rasa Sakit Manusia dan Jalan Menuju Hidup Bahagia

Prof. Rokhmin Dahuri Ungkap Empat Sumber Rasa Sakit Manusia dan Jalan Menuju Hidup Bahagia
Prof. Rokhmin Dahuri (dok.askara)

ASKARA – Rektor Universitas UMMI Bogor, yang juga Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, yang juga , menyampaikan refleksi mendalam tentang akar penderitaan manusia. 

Dalam tausiyahnya, ia menegaskan bahwa sebagian besar rasa sakit yang dialami manusia bersumber dari empat hal mendasar: ambisi yang belum waktunya, iri terhadap milik orang lain, lalai dalam ibadah, dan kurangnya rasa syukur.  

Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan ini menjelaskan, di antara sumber-sumber rasa sakit yang dirasakan oleh manusia, kebanyakan berasal dari 4 hal ini:

1. Ambisi yang Melampaui Waktu

Menurut Prof. Rokhmin, banyak orang terjebak dalam keinginan untuk segera memiliki sesuatu yang belum waktunya. Terlalu ingin memiliki sesuatu yang di mana hal tersebut belum waktunya untuk dimiliki.

“Hasilnya tidak sabaran, memaksakan diri, hidup di luar kemampuan, dan terbebani dengan banyak tanggungan yang sebenarnya tidak perlu,” ujarnya, Senin (16/1).

Sikap tergesa-gesa ini, lanjutnya, justru menimbulkan beban psikologis dan sosial yang berujung pada penderitaan.  

2. Iri terhadap Milik Orang Lain

Beliau juga menyoroti kecenderungan manusia untuk menginginkan apa yang dimiliki orang lain, tanpa memahami pengorbanan di baliknya. Menginginkan apa yang ada di tangan orang lain tanpa mau tahu apa yang mereka korbankan untuk mendapatkannya.

Padahal setiap nikmat, selalu ada konsekuensinya. "Semakin mahal kendaraan, semakin tinggi pajaknya. Semakin besar rumah, semakin susah perawatannya. Begitulah kira-kira," katanya.

Belum pada hal yang lain. Karena sebenarnya, dari setiap hal baik yang kau lihat dari hidupnya seseorang. Pasti ada sesuatu yang Alloh ambil darinya, yang jika kita tahu.. mungkin kesedihannya belum tentu mampu kita tanggung.

Prof. Rokhmin mengingatkan bahwa setiap kenikmatan selalu datang bersama konsekuensi. Apa yang tampak indah dari kehidupan seseorang, seringkali menyimpan kesedihan yang tidak terlihat.  

3. Lalai dalam Ibadah

Lebih jauh, ia menekankan bahwa banyak kekecewaan manusia muncul karena fokus hidup hanya tertuju pada hal-hal duniawi: Hampir semua rasa sakit dan kekecewaan manusia, lantaran yang menjadi fokusnya adalah sesuatu yang sifatnya duniawi. Harta, pekerjaan, cinta, kedudukan dan pengakuan. Begitu tidak dapat? Kecewa, sedih dan marah.

“Begitu tidak dapat, kecewa, sedih, dan marah. Padahal ada aktivitas yang tak perlu berebut untuk bisa melakukannya: ibadah kepada Allah. Bisa kapan saja, peluang terbuka lebar, dan belum pernah ada ceritanya orang stres karena kebanyakan ibadah,” tegasnya. 

4. Kurang Syukur atas Takdir Allah

Sumber rasa sakit terakhir, menurut Prof. Rokhmin, adalah kurangnya rasa syukur. Padahal setiap rezeki sudah ada takarannya. Sudah sesuai dengan kadarnya.
.
Allah tahu setiap kadar manusia. Mungkin kita berpikir bahwa banyak itu enak. Tapi Allah lebih tahu.. Bahwa ada sebagian manusia yang begitu diberi banyak, dia malah celaka.

“Air kalau cukupan, itu menyegarkan dan jadi sebab kehidupan. Tapi kalau berlebihan, dia jadi musibah dan menenggelamkan. Terima ukuranmu, dan bersyukurlah dengan itu,” pesannya.  

Selalu merasa kurang dengan pembagian Alloh adalah sebab kesedihan di dunia. "Semoga kita terhindar dari yang demikian. Aamiin,' ucap Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004.

Singkatnya, Allah SWT (Islam) memberi pedoman hidup insan yang sukses dan bahagia di dunia dan akhirat adalah:
 
1. Beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.  
2. Berikhtiar dan bekerja sebaik mungkin dengan niat karena Allah.  
3. Menyerahkan hasil dengan ikhlas (tawakal).  
4. Berbuat baik kepada sesama, menjaga silaturahmi, serta menjauhi hasad dan dengki.  

“Semoga kita terhindar dari rasa sakit yang bersumber dari empat hal tersebut, dan senantiasa diberi kebahagiaan oleh Allah SWT di dunia maupun akhirat,” tutupnya penuh harap.

Komentar