Kamis, 04 Juni 2026 | 11:59
NEWS

Langkah Sunyi Para Biksu: Doa Perdamaian Menyusuri Negeri Amerika

Langkah Sunyi Para Biksu: Doa Perdamaian Menyusuri Negeri Amerika
Peta perjalanan para biksu (Dok Askara)

ASKARA - Dengan langkah perlahan namun penuh keyakinan, sekelompok biksu Buddha terus menapaki jalan panjang lintas negara dalam misi spiritual Walk for Peace. Perjalanan yang dimulai dari Fort Worth, Texas, pada 26 Oktober itu kemarin telah membawa mereka tiba di wilayah Midlands, Carolina Selatan. Setiap langkah kaki yang mereka ayunkan bukan sekadar perpindahan jarak, melainkan doa hidup untuk perdamaian dunia.

Tanpa pengeras suara, tanpa spanduk politik, para biksu ini menyampaikan pesan yang paling hening namun paling dalam: perdamaian lahir dari batin yang tenang. Berjalan ratusan kilometer menuju Washington, DC, yang akan menjadi titik akhir perjalanan mereka, para biksu menjadikan tubuh mereka sebagai sarana meditasi, dan jalan raya sebagai altar pengabdian.

Dalam tradisi Buddhisme, berjalan adalah bentuk praktik kesadaran. Setiap tarikan napas dan pijakan kaki dilakukan dengan penuh perhatian, sebagai simbol bahwa perdamaian tidak bisa dicapai secara instan, melainkan diperjuangkan langkah demi langkah, dengan kesabaran, welas asih, dan ketulusan.

Di setiap kota yang mereka lewati, para biksu berhenti sejenak untuk bermeditasi dan berdoa bagi dunia yang terluka oleh konflik, bagi manusia yang terpecah oleh kebencian, dan bagi bumi yang lelah menanggung kekerasan. Kehadiran mereka kerap mengundang keheningan, membuat orang-orang yang menyaksikan turut menundukkan kepala, seolah diingatkan bahwa damai berawal dari dalam diri.

Perjalanan ini bukanlah perjalanan fisik semata, melainkan ziarah batin yang menegaskan ajaran Buddha tentang non-kekerasan (ahimsa) dan cinta kasih universal. Para biksu meyakini bahwa ketika satu manusia memilih berjalan dalam damai, maka energi kedamaian itu akan menjalar, menyentuh hati-hati lain yang mungkin tak pernah mereka jumpai.

Saat mereka terus melangkah menuju Washington, DC, hingga beberapa pekan ke depan, para biksu membawa harapan sederhana namun mendalam: semoga dunia mau berhenti sejenak, menarik napas, dan belajar kembali berjalan bersama—bukan menuju pertikaian, melainkan menuju perdamaian.

 

 

Komentar