OPM Pulang ke NKRI, Pendekatan Ini Jadi Kuncinya
ASKARA - Kisah lima pemuda Papua yang memilih kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukan sekadar peristiwa keamanan. Ia adalah potret tentang bagaimana negara hadir atau absen di wilayah yang selama ini kerap dipersepsikan melalui kacamata konflik semata.
Keputusan lima anggota kelompok bersenjata pimpinan Joni Botak untuk “pulang” di Kampung Jampul, Kabupaten Puncak, menunjukkan satu pesan penting: pendekatan humanis bukan jargon, melainkan kebutuhan. Pendekatan yang menempatkan manusia sebagai subjek, bukan sekadar objek operasi keamanan.
Apa yang dilakukan Satgas Yonif 732/Banau melalui berbagai program teritorial, mulai dari pelayanan kesehatan door to door, pembelian hasil tani warga, hingga kegiatan sosial berbasis komunitas, menggarisbawahi satu fakta mendasar. Kepercayaan tidak lahir dari senjata, melainkan dari kehadiran yang konsisten, dialog yang setara, dan pelayanan yang nyata.
Papua memiliki sejarah panjang kecurigaan terhadap negara. Dalam konteks itu, pilihan lima pemuda ini patut dibaca sebagai respons terhadap perubahan cara negara menyapa warganya. Ketika aparat hadir sebagai sahabat, bukan semata penjaga keamanan, ruang dialog terbuka, dan pilihan damai menjadi masuk akal.
Namun demikian, editorial ini memandang bahwa momen “pulang” tidak boleh berhenti pada seremoni ikrar kesetiaan. Tantangan sesungguhnya justru dimulai setelahnya. Reintegrasi sosial, jaminan keamanan, akses pendidikan, pekerjaan, dan martabat hidup adalah ujian keberlanjutan dari pendekatan humanis itu sendiri.
Negara tidak cukup hanya menerima kepulangan, tetapi wajib memastikan masa depan. Jika para pemuda ini kembali hanya untuk menghadapi stigma, kemiskinan, dan keterasingan baru, maka pendekatan humanis berisiko kehilangan maknanya.
Keberhasilan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa stabilitas keamanan di Papua tidak dapat dicapai melalui pendekatan tunggal. Dialog, pelayanan, dan penghormatan terhadap peran tokoh adat serta komunitas lokal harus menjadi fondasi kebijakan jangka panjang, bukan sekadar strategi taktis di lapangan.
Kisah lima pemuda di Kampung Jampul adalah kisah tentang harapan. Harapan bahwa Papua tidak selalu harus dibaca sebagai wilayah konflik, melainkan sebagai ruang rekonsiliasi. Negara, melalui TNI dan seluruh instrumen pemerintahan, ditantang untuk menjaga agar jalan pulang ini tetap terbuka—bukan hanya bagi lima orang, tetapi bagi masa depan Papua itu sendiri.

Komentar