Senin, 15 Juni 2026 | 20:23
NEWS

Terbongkar! Misteri Gunung Padang Memilih Jiwa, Salah Satunya Ali Akbar

Terbongkar! Misteri Gunung Padang Memilih Jiwa, Salah Satunya Ali Akbar
Foto kolase Cahaya Adi Wibowo (kiri) dan Ali Akbar (kanan) (Dok Askara)

ASKARA - Gunung Padang kembali menjadi ruang perbincangan lintas disiplin, tidak hanya dalam kajian arkeologi dan sejarah, tetapi juga dalam tafsir spiritual tentang perjalanan peradaban Nusantara. Praktisi spiritual Cahaya Adi Wibowo menilai, keterlibatan Ali Akbar sebagai Ketua Tim Kajian dan Pemugaran Situs Gunung Padang memiliki dimensi batin yang lebih dalam dari sekadar tugas akademik.

Dalam pembacaan spiritualnya, Cahaya Adi Wibowo melihat Ali Akbar sebagai sosok yang memiliki serat jiwa yang terhubung kuat dengan leluhur Nusantara. Melalui apa yang ia sebut sebagai pandangan batin atau "mata ketiga", ia merasakan adanya garis leluhur dari sebuah kerajaan di wilayah Sumatera yang mengalir dalam jiwa Ali Akbar, diduga melalui jalur keturunan kakek buyut dari pihak permaisuri kerajaan tersebut.

Menurut Bowo, panggilan akrab Cahaya Adi Wibowo, keterhubungan ini bukanlah soal silsilah semata, melainkan resonansi batin yang menjelma menjadi panggilan jiwa. Panggilan inilah yang diyakininya mempertemukan Ali Akbar dengan Gunung Padang, sebuah tempat yang dipandang sebagai simpul memori leluhur Nusantara.

"Gunung Padang bukan sekadar situs batuan tua. Ia adalah ruang doa dan kesadaran, tempat leluhur Nusantara dahulu memanjatkan harap bagi keberkahan, perlindungan, dan kekuatan peradaban," ujar Bowo, Rabu (24/12).

Ia menjelaskan, Gunung Padang diyakini memiliki vibrasi batin tertentu yang dapat memanggil jiwa-jiwa yang selaras dengannya. Ketika panggilan itu datang, seseorang dapat hadir tanpa mampu menjelaskannya secara logis, bahkan dalam kondisi tubuh yang tidak sepenuhnya sehat. Dalam pengalaman spiritual, lanjutnya, kehadiran tersebut kerap disertai asupan energi atau kekuatan yang bekerja melalui koneksi jiwa dan leluhur.

Cahaya Adi menambahkan, mereka yang hadir di Gunung Padang sejatinya datang untuk mendengar, bukan sekadar melihat. Pesan-pesan yang disampaikan, katanya, hanya dapat ditangkap dalam keheningan batin. Tidak semua orang mampu merasakannya, sebab hanya jiwa-jiwa tertentu yang dinilai siap dan "terpilih" untuk berada di teras-teras tertentu situs tersebut.

Dalam pandangan spiritual ini, Gunung Padang juga dipahami sebagai ruang pertemuan batin para leluhur lintas dimensi. Mereka diyakini berkumpul karena terpanggil oleh getaran penderitaan manusia masa kini, akibat ketidakseimbangan alam dan penyimpangan arah kepemimpinan.

"Pertanyaannya bukan apakah alam marah, tetapi apakah manusia masih mampu memperbaiki kesadarannya. Jika tidak, alam memiliki caranya sendiri untuk mendaur ulang kehidupan," kata Cahaya Adi Wibowo.

Ia menutup pandangannya dengan keyakinan bahwa proses-proses ritual, kajian, dan kesadaran yang tengah berlangsung di Gunung Padang, termasuk yang dijalankan oleh Ali Akbar dan timnya, adalah bagian dari upaya membuka kembali pesan leluhur Nusantara, agar peradaban hari ini mampu belajar sebelum terlambat.

Pandangan ini menjadi salah satu tafsir spiritual yang hidup berdampingan dengan kajian ilmiah, menegaskan bahwa Gunung Padang terus memanggil manusia untuk membaca ulang hubungan antara sejarah, jiwa, dan masa depan Nusantara.

 

 

Komentar