Rabu, 22 Juli 2026 | 03:02
OPINI

Bukan Pangkat, Bukan Senjata, Tapi Hati: Natal Menguji Prajurit Sejati

Bukan Pangkat, Bukan Senjata, Tapi Hati: Natal Menguji Prajurit Sejati
Suasana natal bersama prajurit TNI (Dok Rm. Yos)

ASKARA - Advent hampir berakhir.
Natal sudah di depan mata.
Suasana makin ramai.
Lampu menyala di mana-mana.
Tapi Tuhan justru mencari sesuatu yang lain.

Bukan hiasan.
Bukan pesta.
Bukan seragam yang rapi.

Tuhan mencari hati.
Hati yang bersih.
Hati yang taat.

Hari ini, Firman berbicara tentang tanda.
Tanda yang sederhana.
Seorang anak.
Immanuel.
Allah yang hadir dalam keheningan.

Mazmur memberi syarat yang jelas.
Bukan pangkat tinggi.
Bukan kekuatan senjata.
Melainkan tangan yang bersih.
Dan hati yang murni.

Injil menghadirkan Yusuf.
Bukan tokoh besar.
Tidak banyak bicara.
Tidak tampil di depan.
Namun taat sepenuh hati.

Yusuf taat saat rencana hidupnya runtuh.
Yusuf taat saat nama baik dipertaruhkan.
Yusuf taat tanpa banyak tanya.
Diam.
Bangun.
Melaksanakan.

Itulah sikap prajurit sejati.
Teguh dalam tekanan.
Setia dalam gelap.
Melindungi yang lemah.

Gambaran ini dekat dengan kehidupan TNI dan Polri.
Tugas malam.
Perintah mendadak.
Situasi genting.
Godaan kuasa dan emosi.

Natal mengingatkan kembali arah panggilan.
Bukan menindas.
Bukan membalas.
Melainkan menjaga martabat manusia.

Pesan SAGKI 2025 bergema kuat.
Berjalan bersama.
Mendengar yang kecil.
Menjadi alat damai.

Bagi TNI dan Polri, panggilan ini nyata.
Saat menjaga demonstrasi dengan hati dingin.
Saat hadir di lokasi bencana tanpa pamrih.
Saat memilih jujur meski ada kesempatan menyimpang.

Natal bukan soal keramaian.
Natal soal kesetiaan.
Kesetiaan seperti Yusuf.
Kesetiaan yang lahir dari hati yang suci.

Di tengah tugas negara,
Immanuel tetap hadir.
Allah menyertai.
Diam-diam.
Namun sungguh nyata.

Selamat menyongsong Natal.
Semoga hati tetap bersih.
Langkah tetap taat.
Dan hidup menjadi tanda damai bagi Indonesia.

+ Salam sehat berlimpah berkat

 

 

Komentar