Rabu, 22 Juli 2026 | 20:04
OPINI

Bersukacita, Tuhan Sudah Dekat

Bersukacita, Tuhan Sudah Dekat
Ilustrasi lilin advent (Dok Rm Yos)

ASKARA - Yang membuat hidup sungguh hidup bukanlah ketiadaan masalah, melainkan hadirnya sukacita di tengah luka, derita, dan persoalan.

Sukacita -Gaudete-  bukan karena semua urusan beres.
Bukan karena hidup mendadak ringan. Melainkan karena satu pengalaman sederhana namun mendalam: di balik peristiwa yang pelik, ada Tuhan yang hadir—dan hadir begitu dekat.

Seorang ibu yang tetap bangun pagi,
meski hatinya penuh cemas karena penghasilan pas-pasan.
Ia menyeduh kopi, menyiapkan bekal anaknya, bukan karena masalahnya selesai, tetapi karena ia tahu: hari ini Tuhan tidak meninggalkannya.

Atau seorang pekerja pulang larut, lelah, namun masih sempat menyapa tetangga yang berduka. Tidak banyak kata. Tidak menyelesaikan masalah, tapi kehadiran itu sendiri menjadi tanda: Karya Allah sedang bekerja.

Di sanalah sukacita Gaudete lahir: bukan dari kemudahan hidup, melainkan dari kepastian bahwa Tuhan menyertai.

Nabi Yesaya melukiskan Gaudete sebagai gurun yang berbunga, tanah gersang yang bersorak, yang lemah diteguhkan, yang takut dikuatkan.

Orang zaman now bilang nada itu terdengar puitis, tapi jauh dari realitas.

Namun lihatlah realitasnya: Gaudete hadir di tengah bencana Di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.

Di tengah masyarakat yang kehilangan orang terkasih,
rumah yang runtuh,
ladang yang hilang,
masa depan yang terasa gelap.

Disana juga tampak pijar-pijar sukacita menuai asa. Para relawan yang tidak sedikit hadir tanpa pamrih,
menembus hujan, lumpur, dan keterbatasan, bergabung bersama aparat, tenaga medis, tokoh agama bersama-sama mewujudkan belarasa.

Ketika dapur umum menyala,
logistik dibagikan,
anak-anak kembali tersenyum hangat meski berselimut sederhana.

Di situlah janji Tuhan bukan kata-kata kosong. Allah hadir.
Allah bertindak dan memilih tangan manusia sebagai alat-Nya.

Seperti kata Mazmur:

> Tuhan berpihak pada yang tertindas, memberi makan yang lapar, membebaskan yang terbelenggu, membuka mata yang tertutup. Bukan dengan petir dari langit, tetapi lewat solidaritas yang nyata.

Menanti kedatangan Tuhan selalu butuh waktu, kesabaran. Dan kesabaran ini bukan pasif, melainkan keteguhan hati untuk terus berbuat baik,
meski hasil belum terlihat,
meski dunia terasa lamban berubah.

Tanda kehadiranNya tak terbantahkan. Yohanes Pembaptis bertanya dari penjara: “Apakah Engkau yang dinantikan?”

Yesus pun tidak menjawab dengan teori.
Ia menunjuk pada fakta:
yang buta melihat,
yang lumpuh berjalan,
yang miskin mendengar kabar baik.

Inilah tanda-tanda kegembiraan yang menanti kedatangan Sang Mesias.
Bukan kekuasaan.
Bukan senjata.
Melainkan belas kasih yang bekerja dalam kenyataan.

Sukacita Advent itu hening namun kokoh.
Ia lahir dari hati yang setia melayani:
dari setiap tindakan adil,
dari setiap pilihan jujur,
dari setiap upaya melindungi yang lemah.

Semua itu adalah tanda Tuhan sedang bekerja.

Tidak harus sempurna.
Cukup setia.
Cukup sabar.
Cukup mau menjadi saluran kebaikan.

Karena setiap beriman menyakini bahwa Tuhan sedang datang.
Dan sesungguhnya,
Ia sudah bekerja—melalui tangan-tangan yang mau melayani.

Menuju Natal,
biarlah hati tetap gembira,
langkah tetap lurus,
dan pengharapan tetap menyala.

Salam sehat, berlimpah berkat.
+ Rm Yos. Bintoro, Pr

 

Komentar