Hutan Diganti Sawit, Sungai Kehilangan Ibu
Belajarlah dari Baduy untuk Hindari Bencana
ASKARA - Hutan-hutan yang selama ini dikenal sebagai “ibu kandung” sungai kini resmi dipensiunkan. Perannya sebagai penjaga air dan penyangga kehidupan digantikan oleh barisan rapi kelapa sawit, tanaman yang rajin berbuah namun malas menyerap air.
Para ahli alam dadakan kembali dibuat kagum. Hutan dengan akar tunggang yang kuat, mampu menahan tanah dan menyimpan air, dianggap terlalu ribet. Sebagai gantinya, kelapa sawit dengan akar serabut dipilih karena lebih efisien secara ekonomi, meski kurang berbakat dalam urusan menahan banjir.
Akibatnya, ketika hujan turun, sungai tak lagi mengalirkan berkah, melainkan paket lengkap: air bah, lumpur, dan kayu glondongan. Sungai berubah fungsi dari sumber kehidupan menjadi jalur logistik alami hasil pembabatan hutan. Gratis, tanpa ongkos angkut.
Ironisnya, air yang seharusnya membawa kesuburan dan harapan kini datang sebagai bencana. Warga di hilir diminta bersabar, sementara hulu tetap sibuk memproduksi “kejutan” berikutnya setiap musim hujan.
Di tengah absurditas ini, masyarakat adat Baduy justru tampil sebagai pihak yang dianggap ketinggalan zaman. Dengan aturan adat ketat bernama pikukuh, mereka melarang pengrusakan hutan dan menetapkan kawasan hutan larangan yang tidak boleh disentuh. Hasilnya sederhana namun memalukan bagi dunia modern: banjir dan longsor jarang mampir.
Tanpa seminar, tanpa studi banding ke luar negeri, masyarakat Baduy memahami bahwa hutan adalah sumber kehidupan. Pepohonan rimbun dibiarkan berdiri, air diserap, tanah ditahan, dan sungai tetap mengalir tenang.
Mungkin sudah saatnya negara yang gemar belajar ke luar negeri mulai menengok ke dalam. Sebab, ketika hutan dijaga, air membawa berkah. Dan ketika hutan dihabisi, sungai hanya menjalankan perintah manusia, mengirim kembali apa yang ditebang.

Komentar