Kamis, 04 Juni 2026 | 07:17
Parodi

Hari Nusantara: Laut Dipuja, Darat Merana

Hari Nusantara: Laut Dipuja, Darat Merana
Ilustrasi Hari Nusantara di tengah bencana (Dok Askara/freepik)

ASKARA - Peringatan Hari Nusantara kembali digelar dengan narasi kejayaan maritim dan semangat negara kepulauan. Spanduk biru laut, pidato soal kedaulatan bahari, hingga jargon poros maritim dunia menggema di berbagai sudut. Namun di saat yang sama, daratan Nusantara justru sibuk menanggung akibat dari eksploitasi gunung dan hutan yang nyaris tanpa jeda.

Di sejumlah daerah, bencana banjir, longsor, dan aliran lumpur menjadi “hadiah tahunan” yang datang bersamaan dengan seremoni peringatan. Gunung-gunung yang dulu hijau kini tampak gundul, hutan beralih fungsi, dan sungai berubah warna, seolah menjadi saluran resmi pengantar lumpur menuju pemukiman warga.

Ironisnya, kerusakan darat itu kerap disebut sebagai musibah alam. Padahal, menurut pengamatan satir di lapangan, alam hanya sedang menyampaikan laporan dampak dari kebijakan yang terlalu gemar mengeksploitasi, namun enggan memulihkan.

Sementara itu, laut, yang setiap Hari Nusantara dielu-elukan sebagai masa depan bangsa, masih lebih sering hadir sebagai latar foto dan materi pidato. Potensi perikanan, energi gelombang, hingga budidaya kelautan belum diolah secara maksimal, kalah cepat dibanding laju perizinan tambang, pembukaan hutan, dan pengerukan gunung.

“Laut dipuja, darat dikorbankan,” menjadi kesan yang mengemuka. Di satu sisi, jargon maritim digaungkan; di sisi lain, daratan terus diperas untuk menutup defisit ekonomi jangka pendek, dengan biaya ekologis yang ditanggung masyarakat.

Hari Nusantara pun kembali berlalu. Laut tetap luas dan penuh janji, sementara lumpur dari gunung yang terluka perlahan mengalir ke pantai. Sebuah perayaan yang lengkap: merdeka dalam pidato, darurat dalam kenyataan.

 

 

Komentar