Minggu, 02 Agustus 2026 | 19:16
NEWS

Masyarakat Adat Gayo Desak Presiden Prabowo Buka Akses Jalan Linge Antara

Masyarakat Adat Gayo Desak Presiden Prabowo Buka Akses Jalan Linge Antara
Antrian Beras di Kota Takengon (Dok Zam Zam)

ASKARA - Sudah delapan belas hari masyarakat Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah hidup dalam keterisolasian akibat terputusnya dua akses utama, yakni Jalan Takengon-Bireuen dan Jalan Bener Meriah-Lhokseumawe (KKA), yang rusak parah diterjang banjir dan longsor. Kondisi ini melumpuhkan perekonomian kawasan tengah Aceh dan memicu kelangkaan bahan pokok yang berpotensi berkembang menjadi krisis kemanusiaan.

Di tengah situasi darurat tersebut, Masyarakat Adat Gayo melalui Pasak Opat Negeri Linge menyuarakan harapan besar kepada Presiden Prabowo Subianto untuk turun tangan secara langsung dengan “tongkat komando” membuka akses jalan alternatif Linge Antara yang menembus Sumatera Utara. Jalan ini dinilai sebagai solusi taktis sekaligus strategis untuk membuka isolasi wilayah pascabencana.

Presiden Prabowo sebelumnya telah mengunjungi Aceh Tengah dan Bener Meriah pada Jumat lalu untuk menemui para pengungsi. Namun, masyarakat menyayangkan tidak mengemukanya gagasan pembukaan jalan alternatif Linge Antara dalam pertemuan tersebut, padahal jalur ini diyakini dapat menjadi jawaban atas kebuntuan akses yang kini dihadapi masyarakat.

Ketua Umum Pasak Opat Negeri Linge, Zam Zam Mubarak, menegaskan bahwa gagasan pembangunan jalan nasional lintasan tengah Aceh sejatinya bukan ide baru. Jauh sebelum bencana terjadi, Kerajaan Adat Linge telah menyampaikan usulan pembangunan rute Aceh Tengah-Aceh Tamiang-Medan (Sumatera Utara) dalam pidato Raja Linge pada 3 November 2025, bertepatan dengan penobatan gelar kehormatan adat kepada Dandim 0106 Aceh Tengah.

“Tujuan jalan ini bukan hanya membuka isolasi, tetapi menjamin kelancaran distribusi pangan dan komoditas strategis kawasan tengah Aceh, serta menjadi bagian dari integrasi Jalan Tol Sumatera,” kata Zam Zam dalam pernyataan tertulisnya, Sabtu (13/12).

Selain berdampak ekonomi, akses Jalan Linge Antara juga dinilai penting untuk memperkuat integrasi teritorial pertahanan dan keamanan nasional. Jalur ini akan membuka keterhubungan Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Timur, hingga Aceh Tamiang, wilayah-wilayah yang kini terdampak langsung banjir dan longsor.

Lumpuhnya akses transportasi semakin memperparah kondisi petani di tengah panen raya kopi Arabika Gayo dan cabai. Hasil bumi tak dapat dibawa keluar daerah, bahkan terancam gagal masuk pasar ekspor. Harga kopi Arabika Gayo pun anjlok jauh dari harga normal, memukul keras ekonomi masyarakat.

Berdasarkan observasi lapangan, jalur Linge Antara dinilai lebih landai dan memungkinkan dibuka lebih cepat dibandingkan Jalan Takengon–Bireuen maupun Jalan KKA. Karena itu, Pasak Opat Negeri Linge mendesak Presiden Prabowo melalui kementerian teknis serta para bupati di wilayah Gayo untuk segera mengoordinasikan pembukaan akses ini sebagai bagian dari percepatan tanggap darurat dan pemulihan ekonomi.

“Masyarakat tidak hanya butuh janji, tetapi kepastian. Pemerintah harus jujur dan terukur dalam menyampaikan kondisi sebenarnya, meski pahit, agar rakyat bisa merencanakan langkah ekonomi dan kehidupan mereka,” tegas Zam Zam, seraya mengingatkan agar pemerintah tidak sekadar memberi “obat penenang” melalui target-target yang tak kunjung terealisasi.

Bagi masyarakat Adat Gayo, pembukaan Jalan Linge Antara bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan jalan harapan untuk keluar dari isolasi, menyelamatkan ekonomi rakyat, dan menjaga masa depan kawasan tengah Aceh.

 

 

Komentar