Rabu, 22 Juli 2026 | 04:42
OPINI

Membangun Ketahanan Kesehatan Nasional: Refleksi dari Pandemi, Banjir Aceh, dan Praktik Internasional

Membangun Ketahanan Kesehatan Nasional: Refleksi dari Pandemi, Banjir Aceh, dan Praktik Internasional
Ilustrasi membangun kesehatan nasional (Dok Freepik)

Oleh: dr. Novita Sari Yahya

Pendahuluan

ASKARA - Awal Desember lalu, pemberitaan mengenai banjir besar di Aceh Tamiang menyentuh nadi kemanusiaan kita. Foto-foto mobil yang berisi jenazah membusuk terjebak di tengah genangan air membuat banyak orang terdiam. Bau busuk yang menyengat, korban yang belum bisa dievakuasi, serta terbatasnya tenaga medis yang mampu menjangkau lokasi menjadi gambaran betapa rapuhnya respons darurat ketika bencana datang dalam skala besar. Situasi itu mengingatkan saya pada masa awal pandemi COVID-19 tahun 2020, ketika berbagai daerah kelimpungan menghadapi lonjakan kasus dan keterbatasan fasilitas.

Melihat kembali kajian yang saya tulis pada masa awal pandemi, saya menyadari adanya benang merah yang kuat antara pandemi dan bencana alam. Keduanya menguji ketahanan sistem kesehatan, mengharuskan respons cepat, dan menuntut koordinasi lintas sektor yang tidak bisa berjalan setengah hati. Ketika mempelajari cara negara lain menangani bencana besar, saya melihat bagaimana kecepatan dan kedisiplinan tim SAR Rusia pada gempa Turki–Suriah menjadi pelajaran penting bagi negara dengan risiko bencana tinggi seperti Indonesia.

Kajian ini disusun ulang untuk memberikan gambaran bagaimana Indonesia dapat memperkuat ketahanan sistem kesehatan agar mampu bertahan tidak hanya pada pandemi, tetapi juga bencana hidrometeorologi dan geologis yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Pandemi sebagai Ujian Ketahanan

Pandemi COVID-19 menjadi salah satu krisis terbesar yang dialami Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Dampaknya merembes ke seluruh sektor: kesehatan, ekonomi, pendidikan, budaya, dan psikososial. Berbagai pencapaian dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sempat terganggu karena perubahan sosial terjadi begitu cepat.

Pada awal pandemi, pemerintah di seluruh dunia mengalami kesulitan mengambil keputusan yang cepat dan tepat karena penyebaran penyakit berlangsung masif. Di Indonesia, tantangannya semakin besar karena wilayah yang luas tidak diimbangi dengan distribusi tenaga kesehatan yang merata. Banyak daerah kekurangan dokter, fasilitas terbatas, dan sistem logistik belum mampu memenuhi kebutuhan yang meningkat secara tiba-tiba.

Kondisi itu membuat banyak tenaga kesehatan kelelahan. Sistem pelaporan yang belum terintegrasi mengakibatkan data sering terlambat diterima pusat. Sementara itu, masyarakat belum sepenuhnya mengenal pola penularan virus. Namun krisis ini membuka kesadaran bahwa ketahanan kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat. Ketangguhan masyarakat, keluarga, dan komunitas terbukti menjadi pilar penting dalam menghadapi situasi darurat.

Konsep Ketahanan Sistem Kesehatan

Ketahanan sistem kesehatan mencakup kemampuan nasional menghadapi keadaan darurat kesehatan, wabah penyakit, pandemi global, serta bencana kimia, biologi, atau nuklir. Indonesia, melalui International Health Regulation (IHR) 2005, diwajibkan membangun kapasitas inti dalam deteksi dini, respons cepat, mitigasi, dan koordinasi lintas sektor.

Komponen ketahanan sistem kesehatan meliputi:

ketangguhan tenaga medis dan nonmedis,

ketersediaan infrastruktur kesehatan,

kesiapan logistik,

daya tahan ekonomi masyarakat,

kekuatan sistem sosial dan komunitas,

serta kesadaran lingkungan.

Pandemi membuka celah kelemahan dalam sistem yang telah berjalan, tetapi juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki modal sosial kuat untuk bangkit jika dipandu dengan baik.

Tujuan Kajian

Kajian ini disusun untuk:

1. Menganalisis kebijakan percepatan penanganan COVID-19 melalui pembentukan Kampung Siaga COVID-19, Relawan Desa Lawan COVID-19, dan Satgas Perubahan Perilaku.

2. Mengevaluasi program berbasis keluarga seperti Ketuk Pintu Layani dengan Hati di DKI Jakarta dan Kampung Siaga COVID-19.

3. Menawarkan model pendamping tenaga kesehatan yang dapat diterapkan pada situasi darurat, termasuk banjir besar seperti di Aceh Tamiang.

Banjir Aceh dan Keterlambatan Respons

Krisis di Aceh Tamiang menjadi contoh nyata bagaimana keterlambatan respons dapat memperburuk kondisi kemanusiaan. Evakuasi terhambat karena akses darat tertutup banjir. Mobil-mobil yang berisi jenazah terendam selama berhari-hari tanpa bisa dipindahkan. Warga yang selamat mengalami trauma, sementara tenaga kesehatan sangat terbatas.

Situasi ini menggambarkan pola yang juga terjadi pada masa awal pandemi: komunikasi tidak lancar, tenaga terbatas, dan koordinasi kebijakan tidak sampai ke lapisan paling bawah. Menteri Pertahanan bahkan meminta Kementerian Kesehatan mengerahkan dokter magang untuk membantu daerah terdampak. Permintaan itu memperlihatkan betapa besar kebutuhan tenaga kesehatan ketika sistem lokal kewalahan.

Krisis Aceh menunjukkan perlunya sistem kesehatan yang resiliens, yang mampu bergerak cepat meski infrastruktur fisik lumpuh.

Pembelajaran dari Respons Rusia pada Bencana Internasional

Respons cepat Rusia pada gempa besar Turki–Suriah memberikan contoh bagaimana sebuah negara mengelola operasi kemanusiaan dalam skala besar. Beberapa hal yang dapat menjadi acuan bagi Indonesia adalah:

1. Mobilisasi dalam Hitungan Jam

Rusia mengirim pesawat khusus berisi tenaga SAR, dokter militer, dan alat evakuasi segera setelah laporan diterima. Mobilisasi cepat terbukti menyelamatkan banyak nyawa pada fase emas evakuasi.

2. Tim Kecil namun Sangat Terlatih

Rusia mengandalkan unit kecil dengan spesialisasi tinggi: dokter trauma, ahli pencarian reruntuhan, tim K-9, dan teknisi komunikasi.

3. Komando yang Jelas

Sistem komando tunggal membuat operasi berjalan tanpa hambatan birokrasi. Setiap tindakan langsung diarahkan dari pusat operasi nasional.

4. Penggunaan Teknologi

Sensor pendeteksi detak jantung di bawah reruntuhan, drone termal, dan komunikasi satelit membantu mempercepat proses pencarian korban.

Pelajaran ini penting bagi Indonesia yang memiliki risiko bencana tinggi. Standar evakuasi cepat dapat menjadi kebijakan nasional agar penanganan banjir, gempa, atau tanah longsor berjalan efektif.

Kebijakan Nasional dan Program Berbasis Komunitas

1. Kampung Siaga dan Relawan Desa

Kampung Siaga COVID-19 dan Relawan Desa Lawan COVID-19 terbukti efektif pada masa pandemi. Pendekatan komunitas memungkinkan:

evakuasi warga dilakukan dalam skala kecil per RT,

pendataan korban lebih cepat,

dapur umum lokal bergerak lebih sigap,

identifikasi jenazah dilakukan dengan koordinasi masyarakat,

tenaga kesehatan dibantu relawan terlatih.

Model ini dapat diadopsi untuk penanganan banjir Aceh maupun bencana lain.

2. Ketuk Pintu Layani dengan Hati

Program ini menunjukkan pentingnya pendekatan keluarga dalam layanan kesehatan. Petugas mendatangi rumah warga, melakukan pemeriksaan, dan memastikan deteksi dini berjalan.

Dalam konteks bencana, pendekatan ini dapat diterapkan melalui:

pos pelayanan kesehatan keliling,

pemeriksaan penyakit pascabanjir,

pendataan korban yang belum dievakuasi,

prioritas bagi kelompok rentan seperti lansia dan ibu hamil.

Model Pendamping Tenaga Kesehatan

Pendamping tenaga kesehatan adalah strategi yang dapat mempercepat respons darurat. Pendamping dapat berupa:

kader kesehatan desa,

relawan muda,

mahasiswa kesehatan,

organisasi sosial,

tokoh masyarakat.

Mereka dapat diberi pelatihan dasar mengenai evakuasi, manajemen jenazah, pencatatan medis awal, mitigasi risiko, dan komunikasi dengan warga. Kehadiran pendamping membantu tenaga profesional bekerja lebih efektif, sekaligus mengurangi beban pada rumah sakit rujukan.

Model ini sangat relevan diterapkan di daerah rawan bencana yang kekurangan tenaga kesehatan.

Kesimpulan

Kajian ini menegaskan bahwa ketahanan sistem kesehatan harus menjadi prioritas nasional. Pandemi COVID-19, banjir Aceh, serta contoh respons cepat negara lain menunjukkan bahwa sistem yang kuat bergantung pada koordinasi, kesiapan komunitas, serta kemampuan mobilisasi yang terstruktur.

Indonesia perlu memperkuat:

kapasitas komunitas,

pelatihan pendamping tenaga kesehatan,

sistem mobilisasi cepat,

pendekatan keluarga dalam kebijakan kesehatan,

serta integrasi teknologi untuk respons bencana.

Tanpa ketahanan yang tangguh, pandemi atau bencana apa pun dapat dengan mudah berubah menjadi krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Negara harus belajar dari pengalaman dan praktik internasional agar setiap bencana dapat ditangani dengan cepat, tepat, dan manusiawi.

Komentar