Paus Leo XIV Ajak Warga Lebanon Bangkit dari Keputusasaan dan Menata Harapan Baru
ASKARA - Dalam kunjungan singkat yang penuh muatan moral di tengah kondisi Lebanon yang masih diguncang konflik, krisis ekonomi, dan trauma ledakan pelabuhan 2020, Paus Leo XIV menyerukan agar rakyat Lebanon tidak menyerah pada keputusasaan. Di hadapan sekitar 150.000 umat yang memadati kawasan tepi laut Beirut, 2 Desember, Paus menegaskan pentingnya menjaga harapan, menolak kekerasan, serta tidak tunduk pada “berhala uang” yang menjadi sumber berbagai kehancuran sosial.
Pada misa penutup kunjungannya ke Timur Tengah itu, Paus juga mengarahkan pesan kuat kepada para pemimpin politik dan sosial di negara-negara yang dilanda perang. “Dengarkan jeritan rakyat kalian yang merindukan perdamaian!” serunya. Misa yang menghadap Laut Tengah tersebut menjadi puncak perjalanan Paus di Lebanon yang berlangsung kurang dari 48 jam, namun sarat simbol dan empati.
Sebelumnya, Paus Leo XIV mengunjungi rumah sakit bagi penyandang disabilitas mental serta berdoa di lokasi ledakan kimia tahun 2020 yang menewaskan lebih dari 218 orang dan melukai ribuan lainnya. Ia juga bertemu sekitar 60 keluarga korban, memberikan penguatan agar mereka tetap tabah dan terus memperjuangkan keadilan.
Dalam homilinya, Paus menegaskan bahwa masa depan Lebanon tidak akan bangkit tanpa komitmen bersama untuk kepentingan umum. Mengingat keunikan Lebanon sebagai negara dengan keberagaman agama yang jarang ditemui di kawasan itu, Paus menyerukan pentingnya meruntuhkan sekat etnis, politik, dan religi demi membangun kembali persatuan nasional. “Melembutkan hati adalah satu-satunya jalan,” ucapnya.
Kepada seluruh kawasan Timur Tengah, Paus Leo XIV menegaskan perlunya pendekatan baru untuk meninggalkan pola balas dendam dan kekerasan. Ia mengingatkan bahwa kehancuran yang terlihat hari ini adalah akibat dari jalur permusuhan yang berkepanjangan. “Kita perlu mengubah arah, mendidik hati untuk mencintai perdamaian,” tegasnya.
Dengan Presiden Joseph Aoun yang hadir di barisan depan, Paus menutup pesannya dengan harapan besar: terciptanya Lebanon yang damai, adil, dan mampu bangkit dari luka-luka masa lalunya.

Komentar