Cerpen: Bayar Parkir, Bisnis Kami yang Tersedak
ASKARA - Pagi di deretan ruko kecil kawasan Cibubur datang dengan sinar yang pelan tapi panasnya cepat menusuk. Dari celah pintu besi yang baru dibuka separuh, Lani menatap halaman depan tokonya. Debu, daun kering, dan sisa puntung rokok berserakan di bawah papan bertuliskan “Ayam Geprek Lani Pedesnya Bikin Balik Lagi.”
Ia menarik napas panjang. Sejak sepekan terakhir, tidak ada yang “balik lagi.”
Biasanya pukul sebelas siang sudah ada dua atau tiga pelanggan dari kantor seberang. Tapi hari ini, jam sudah hampir dua belas, dan suara motor pun jarang terdengar. Nasi di panci mulai mengeras. Ayam goreng yang masih hangat tadi pagi kini dingin seperti semangatnya sendiri.
Nina, penjual es teh di sebelahnya, datang membawa kursi plastik.
“Masih sepi juga, Lan?” tanyanya pelan.
“Dari pagi, Ni. Kayaknya orang-orang udah males mampir,” jawab Lani sambil menutup wadah sambal.
“Males parkir, maksudmu?” Nina menatap ke depan. Di sana, dua orang berseragam oranye berdiri di pinggir jalan, bersiul tiap kali ada kendaraan berhenti.
“Sekarang parkir aja harus bayar dua ribu. Kalau mobil lima ribu. Belum tentu yang beli di sini makannya segitu untungnya,” kata Lani, suaranya serak.
Dua ribu bukan jumlah besar, tapi bagi pembeli yang cuma ingin makan cepat, itu cukup membuat mereka berpikir ulang. Seorang pelanggan pernah berkata jujur kepadanya:
> “Bu, makan 18 ribu, tapi keluar 20 ribu cuma gara-gara parkir. Mending saya pesan online aja.”
Lani hanya bisa tersenyum waktu itu. Tapi senyum yang terasa seperti luka kecil.
Ia tahu dirinya bukan satu-satunya yang tercekik. Para penjual di sepanjang deretan ruko itu mengalami hal yang sama. Seno, penjual bakso yang biasa ramai tiap sore, kini lebih banyak duduk di bangku plastik, mengaduk kuah yang tidak habis-habis.
Malam itu, setelah toko tutup, mereka berkumpul.
“Kita nggak bisa begini terus,” kata Seno. “Kalau terus sepi, semua bisa gulung tikar.”
“Terus mau gimana?” tanya Lani.
“Bikin pernyataan. Biar orang tahu kita keberatan dengan parkir ini.”
Keesokan harinya, spanduk putih terbentang di depan ruko:
“BISNIS SEPI, KAMI MENOLAK PARKIR BERBAYAR.”
Tulisan hitam dan merah itu bergoyang pelan diterpa angin. Wajah-wajah pedagang yang menatapnya tampak lega, seolah akhirnya bisa bicara setelah lama menahan.
Beberapa pengendara berhenti memotret. Ada yang tersenyum, ada yang melambai, bahkan ada ojek online yang berteriak, “Mantap, Bu! Kami dukung!”
Namun, tidak semua orang senang. Sore harinya, seorang juru parkir mendekati Lani. Tubuhnya tinggi, wajahnya keras oleh matahari.
“Bu, ini maksudnya apa? Ngejatuhin kami, ya?”
“Bukan begitu, Pak. Kami cuma pengin pembeli balik lagi. Kami juga cari makan,” jawab Lani dengan tenang.
“Ya saya juga, Bu,” katanya, menatap tajam. “Sama-sama cari makan.”
Lani terdiam. Ia melihat matanya, bukan marah, tapi lelah. Mungkin benar, semua orang di sini hanya berjuang di sisi berbeda dari nasib yang sama.
Malamnya, Lani menerima pesan di ponselnya.
> “Bu, hati-hati. Jangan bikin ribut, nanti malah susah sendiri.”
Ia membaca pesan itu berkali-kali. Tidak tahu siapa pengirimnya, tapi cukup membuatnya sulit tidur. Di luar, angin membawa bau gorengan basi dan suara jauh kendaraan yang melintas.
Keesokan harinya, dua petugas dari kelurahan datang. Mereka meminta spanduk diturunkan.
“Tanpa izin, Bu. Nggak boleh pasang begituan di area umum.”
“Kalau jualan kami mati gimana, Pak?”
Salah satu petugas menunduk. “Kami cuma jalanin perintah.”
Spanduk itu pun dilepas. Tapi semangat para pedagang tidak ikut hilang. Mereka memotret spanduk itu sebelum dicopot dan mengunggahnya ke media sosial dengan tagar #TolakParkirBerbayar.
Tak disangka, postingan itu menyebar cepat. Ratusan komentar datang. Ada yang marah, ada yang memberi semangat, bahkan beberapa pelanggan lama berjanji akan datang kembali.
Beberapa hari kemudian, juru parkir yang biasa berjaga di depan ruko tidak terlihat lagi. Tidak ada lagi yang menagih uang parkir. Orang-orang mulai mampir lagi ke warung. Mobil-mobil berhenti tanpa ragu.
Lani tersenyum untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu.
“Mungkin suara kita didengar juga,” katanya pada Nina.
“Alhamdulillah,” jawab Nina. “Semoga nggak ada kejadian apa-apa lagi.”
Dua minggu berlalu dalam suasana yang lebih cerah. Tapi pada suatu sore, seorang kurir datang membawa amplop cokelat dari pengelola ruko. Lani membukanya dengan jantung berdebar.
> “Dengan ini kami sampaikan bahwa biaya sewa ruko akan naik 15% per bulan untuk perawatan area parkir dan peningkatan keamanan lingkungan.”
Tangan Lani bergetar. Ia menatap surat itu lama, lalu tersenyum getir. Ia menatap ke luar halaman yang kini bersih dan rapi, tanpa juru parkir. Tapi di sana terpasang papan kecil bertuliskan:
“Parkir Gratis Dikelola Bersama Pengelola Ruko.”
Malam itu, saat ia menutup warung, seseorang lewat membawa sapu panjang. Lani mengenal wajahnya—juru parkir yang dulu ia marahi.
“Udah rame lagi, ya, Bu?” katanya sambil tersenyum.
“Iya, alhamdulillah,” jawab Lani.
“Saya sekarang kerja bantu pengelola, Bu. Ngurus kebersihan, keamanan juga.”
Lani mengangguk. “Baguslah. Semoga rezekinya lancar, Pak.”
Pria itu pergi perlahan, menyapu dedaunan kering di bawah lampu jalan. Lani menatap punggungnya sampai menghilang di ujung ruko. Lalu ia menatap lagi surat kenaikan sewa di tangannya.
Angin malam membawa bau sambal dari dapur kecilnya. Dalam hati ia tertawa kecil pelan dan pahit.
Semuanya memang berubah. Tapi kadang, perubahan hanya soal nama.
Yang dulu disebut “uang parkir,” kini berganti “biaya perawatan.”
Yang dulu disebut “pemalak,” kini disebut “pegawai.”
Dan bisnis kecilnya, yang baru mulai bernapas lagi, masih saja tersedak oleh hal yang sama. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar