Dari Panggung Hari Guru, Azzam Sentuh Hati Presiden dan Bangsa
ASKARA - Suasana Indonesia Arena mendadak hening, Jumat (28/11/2025), ketika lantunan terakhir lagu "Terima Kasih Guruku" mengalun lembut dari suara Azzam Nur Mu’jizat. Siswa Kelas I SMPLB PKK Gedeg, Mojokerto, itu berdiri tegak di bawah sorot lampu panggung, menuntaskan persembahan yang membuat ribuan guru tertegun sebelum akhirnya memberikan tepuk tangan panjang, hangat, dan penuh haru.
Presiden Prabowo Subianto, yang sejak awal memperhatikan penampilan itu tanpa melepaskan pandangan, tampak larut dalam momen tersebut. Azzam tampil bersama Queenara Khairunnisa Sudirman. Duet keduanya menghadirkan harmoni jernih yang memancarkan rasa terima kasih, cinta, dan penghormatan mendalam kepada para guru, menjadikannya salah satu momen paling menyentuh dalam Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2025.
Namun, kehangatan terbesar justru terjadi setelah acara selesai.
Presiden Prabowo melangkah menghampiri Azzam. Senyumnya merekah, tangannya terbuka menyambut sang siswa yang masih terpana oleh sorakan ribuan hadirin. Dalam pelukan singkat namun penuh makna, Presiden menyapa Azzam dengan lembut, menanyakan kabarnya, memuji keberaniannya, dan menyampaikan rasa bangganya.
Di antara kerumunan kamera dan sorotan media, interaksi itu terasa sangat manusiawi, seorang pemimpin negara yang hadir bukan hanya sebagai Presiden, tetapi sebagai sosok yang mengakui potensi pada diri seorang anak dengan segala perjuangannya. Sebuah gestur yang mengingatkan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa kecuali, berhak mendapat dukungan, ruang, dan kesempatan untuk bersinar.
Bagi Azzam, momen itu mungkin akan menjadi kenangan seumur hidup.
Bagi ribuan guru yang menyaksikan, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa inti pendidikan bukan sekadar kurikulum dan nilai. Pendidikan adalah tentang melihat manusia kecil tumbuh menjadi besar, ketika kita memberi mereka panggung, keberanian, dan keyakinan bahwa mereka layak dilihat dan didengar.
Dan bagi bangsa Indonesia, Azzam mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: bahwa cahaya bisa datang dari mana saja, dari anak mana saja, selama kita mau memberi mereka kesempatan untuk bersinar.

Komentar