Agar Warisan Bung Karno Tidak Terseret Pada Retorika Sesaat
Oleh: Juni R. Levesque, seorang jurnalis, pegiat sosial dan pendidikan
ASKARA - Blitar kembali menjadi panggung penting bagi politik simbolik Indonesia. Di kota yang identik sebagai “rumah nilai” Bung Karno itu, sebuah forum internasional digelar: bukan seminar akademik, bukan acara seremonial diplomatik, melainkan ruang untuk menghidupkan kembali spirit “To Build the World A New”—gagasan besar Bung Karno tentang dunia yang lebih adil, setara.
Forum seminar yang diselenggarakan pada 1 November 2025 lalu di Perpustakaan Proklamator Bung Karno – Kota Blitar ini bukan main-main. Delegasi dari lebih sepuluh negara hadir: Serbia, Rusia, Polandia, Italia, Hungaria, Jerman, Prancis, Brasil, India, dan sejumlah perwakilan Afrika. Mereka datang bukan sekadar untuk mendengar Indonesia berbicara, tetapi untuk menyaksikan bagaimana negara pelopor Konferensi Asia-Afrika memaknai kembali peran moralnya di tengah dunia yang retak.
Setiap acara yang membawa nama Bung Karno, terlebih yang berskala internasional— termasuk pidato Megawati Soekarnoputri dalam Seminar “Bung Karno in A Global History” ini akan selalu dinilai dengan ukuran moral tertentu: apakah acara itu benar-benar mewarisi api pemikiran sang proklamator, atau sekadar meminjam auranya?
Namun, alih-alih menghadirkan gagasan besar yang menggugah—sebagaimana diucapkan Bung Karno 65 tahun silam, pidato Megawati Soekarnoputri sebagai keynote speaker yang justru menimbulkan kegelisahan tersendiri.
Ketika Panggung Internasional Menjadi Ruang Keluh Kesah Domestik
Sebagai mantan presiden sekaligus putri Bung Karno, kehadiran Megawati tentu memiliki bobot simbolik. Namun isi pidato yang disampaikan terasa bergeser dari tema besar forum. Beberapa bagian bernada keluhan politik domestik, ungkapan emosional, hingga pengulangan narasi dendam sejarah yang sudah sering muncul dalam kesempatan lain.
Dalam forum kebangsaan internasional yang dihadiri para tamu mancanegara, nada seperti ini bukan hanya tidak tepat konteks, tetapi juga berpotensi mengecilkan ruang dialog global yang hendak dibangun. Delegasi dari luar negeri datang untuk melihat bagaimana Indonesia membaca kembali peran Bung Karno dalam sejarah dunia. Mereka mungkin menantikan gagasan tentang keadilan global, tatanan dunia multipolar, atau solidaritas bangsa-bangsa selatan. Yang mereka temui justru pidato yang berputar pada luka internal negeri sendiri.
Forum yang seharusnya “membuka jendela Indonesia kepada dunia” justru getir karena dipersempit menjadi panggung persoalan domestik.
Semangat Bung Karno: Besar, Jernih, dan Tepat Waktu
Bung Karno dikenal lantang. Tetapi kelantangan itu selalu ditempatkan pada konteks yang tepat.
Dalam “To Build the World A New”, Bung Karno berbicara tentang imperialisme, ketidakadilan global, dan harapan bagi bangsa-bangsa tertindas. Ia tidak membawa keluh kesah pribadinya. Ia tidak menyeret luka rumahnya ke forum dunia. Ia memilih berbicara pada skala yang lebih tinggi—skala peradaban.
Inti ajaran Bung Karno pada dunia ialah: berpikir besar, berbicara jelas, dan hadir dengan gagasan.
Bukan dengan dendam.
Karena itu, sebagian warga Blitar—yang setiap hari hidup berdampingan dengan sejarah Bung Karno—merasa perlu mengajukan pertanyaan yang wajar:
Apakah gaya pidato seperti itu selaras dengan warisan pemikiran sang proklamator?
Pertanyaan ini bukan untuk menyerang personal siapa pun. Tetapi untuk mengingatkan bahwa nama Bung Karno membawa standar moral tertentu.
Masalah Regenerasi: Bukan Soal Siapa, Tetapi Soal Nilai
Megawati telah memimpin PDI Perjuangan selama beberapa dekade. Fakta ini, bagi sebagian pihak, menimbulkan kegelisahan akan stagnasi regenerasi politik. Kekhawatiran seperti ini muncul kembali ketika gaya pidato yang ditampilkan terasa tidak berubah seiring kebutuhan zaman—lebih menegaskan jarak daripada merangkul.
Padahal forum seperti ini adalah kesempatan langka untuk menunjukkan kepemimpinan moral Indonesia kepada dunia. Untuk menjembatani masa lalu dan masa depan. Untuk menghadirkan gagasan besar dari tanah tempat Bung Karno beristirahat. Dan menegaskan bahwa Bung Karno selalu memikirkan masa depan dan Ia tidak melihat kepemimpinan sebagai warisan keluarga, tetapi sebagai amanat sejarah.
Sayang, kesempatan itu tidak digunakan sepenuhnya.
Bagaimana Seharusnya Sebuah Pidato di Forum Kebangsaan Internasional Dibawakan?
Jika ingin setia pada ruh Bung Karno, pidato dalam forum ini seharusnya menampilkan: visi global tentang pembangunan dunia baru, kritik elegan terhadap ketidakadilan internasional, penguatan solidaritas Asia-Afrika, refleksi peran Indonesia sebagai pemimpin moral dunia, pesan persatuan nasional, dan optimisme yang membesarkan hati.
Pidato seperti itu akan mengangkat marwah Bung Karno, menjaga kehormatan tuan rumah, dan memberi kesan positif bagi delegasi yang datang dari jauh.
Menghadirkan narasi dendam atau keluhan politik justru menyempitkan skala gagasan yang seharusnya besar.
Bung Karno pernah berkata bahwa Indonesia adalah “mercusuar dunia”. Maka pidato yang mencantumkan nilai kebangsaan harus menunjukkan kepemimpinan moral—bukan hanya keprihatinan politik.
Blitar, Sejarah, dan Tanggung Jawab Moral
Sebagai warga Blitar, ada tanggung jawab moral untuk menjaga warisan Bung Karno tetap bermartabat. Blitar adalah ruang sejarah yang hidup—tempat pertemuan antara gagasan besar dan masyarakatnya. Karena itu, ketika sebuah forum internasional yang membawa nama Bung Karno digelar di kota ini, masyarakat berhak berharap agar acara tersebut benar-benar mencerminkan nilai-nilai sang proklamator.
Harapan itu jelas: agar nama Bung Karno tidak direduksi menjadi jubah simbolik yang dipakai tanpa memperhatikan makna yang dibawanya.
Penutup
Forum kebangsaan internasional yang membawa tema “To Build the World A New” ini seharusnya menjadi ruang untuk memperbesar imajinasi global Indonesia. Sebuah ruang untuk menunjukkan bahwa semangat Asia-Afrika masih relevan, dan menjadi tonggak baru untuk memperkuat kembali posisi moral Indonesia di panggung dunia. Namun ketika pesan utama forum bergeser menjadi terlalu domestik, kesempatan historis itu meredup.
Pidato yang disampaikan Megawati tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan itu. Kritik ini bukan untuk menjatuhkan, tetapi sebagai ajakan untuk kembali pada esensi ajaran Bung Karno: berpikir besar, tepat konteks, dan membawa harapan.
Sebab sejarah—terutama sejarah sebesar Bung Karno, adalah warisan yang harus dirawat dengan kebijaksanaan, bukan hanya dengan nama.

Komentar