Rabu, 22 Juli 2026 | 04:49
COMMUNITY

Ustadz Muhammad Harun: Amanah adalah Cahaya, Fondasi Bangsa yang Harus Kembali Ditegakkan

Ustadz Muhammad Harun: Amanah adalah Cahaya, Fondasi Bangsa yang Harus Kembali Ditegakkan
Wakil Ketua Umum Yayasan Madani Al Washiyyah, Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied (dok.askara)

ASKARA - Hari ini, Jika kita secara objektif menilai, maka akan kita temukan bahwa bangsa kita tercinta sedang mengalami problematikan di berbagai macam aspek. Aspek ekonomi misalnya; adanya disparitas akses kepada kekayaan bangsa kita, purchasing power masyarakat semakin menurun akibat semakin berkurangnya lapangan pekerjaan, dalam aspek hukum dan sosial politik misalnya; bagaimana terjadinya ketidakadilan dan ketidakpastian dalam penegakan hukum, yang berakibat menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, dari aspek moral misalnya;  bagaimana semakin menurunnya moralitas dan pergaulan pemuda bangs akita, dan dalam berbagai aspek lainnya, merupakan bukti bahwa bangsa kita sedang menuju ke arah yang salah.  

Mengapa beragam kondisi negatif ini bisa terjadi pada bangsa kita?

Dalam tausiyahnya, Wakil Ketua Umum Yayasan Madani Al Washiyyah, Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied, menegaskan bahwa akar dari krisis bangsa adalah hilangnya nilai amanah. 

Amanah bukan sekadar tanggung jawab jabatan, melainkan kepercayaan yang melekat pada setiap aspek kehidupan: kejujuran dalam bekerja, keadilan dalam memimpin keluarga, menjaga kehormatan diri, hingga mengimplementasikan syariat Allah SWT.  

Bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang kaya harta semata, melainkan bangsa yang teguh menjaga amanah. Dari amanah lahir kepercayaan, dari kepercayaan lahir persatuan, dan dari persatuan lahir kejayaan. 

Tahukah kita, bahwa Amanah, iman, dan aman ternyata berasal dari akar kata yang sama; yang bermakna ”Kepercayaan yang dalam”. Tidak sempurna keimanan seorang hamba, jika ia tidak memiliki sikap amanah dalam dirinya.

Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al Anfal ayat 27:  "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."  

Ustadz Muhammad Harun menekankan bahwa dua ujian terbesar yang sering menggoyahkan amanah manusia adalah harta dan keluarga. Banyak yang tergelincir karena ambisi memperkaya diri atau memenuhi tuntutan keluarga, hingga rela mengkhianati kepercayaan. Padahal, keduanya hanyalah ujian yang harus dilalui dengan iman dan keteguhan hati.  

Di rangkaian ayat di surah al anfal tersebut, Allah menjelaskan bahwa secara garis besar ada 2 variable utama yang menggelincirkan banyak manusia dari menunaikan amanah dengan semestinya.
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
”Dan ketahuilah bahwa harta benda dan anak-anak kalian adalah ujian bagi kalian. Dan bagi yang bisa melaluinya, untuknya balasan kebaikan yang besar dari Allah”

Variabel pertama adalah harta benda. Jika sudah bicara tentang harta, berapa banyak manusia yang menjadi gelap mata; tidak lagi sungkan untuk mengkhianati amanat dan menabrak aturan-aturan yang ada, dengan tujuan untuk mengamankan dan menambah asset mereka, menjaga posisi atau sumber nafkah mereka, dan gaya hidup mereka. 

Variabel kedua adalah anak istri dan keluarga. Tentunya, sebagai seorang ayah, seorang suami, seorang anak laki², kita pasti berkomitmen untuk melindungi dan menjaga keluarga kita. Dan berapa banyak orang yang tidak segan-segan untuk mengkhianati amanah karena dorongan permintaan² dari anak, istri dan keluarga mereka. 

Harus kita sadari, bahwa ini adalah ujian bagi keimanan kita. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan adalah kembali meluruskan hati dan pikiran kita untuk menunaikan amanah yg kita emban dengan sebaik²nya. Harus kita ingat, selain peran kita yg mulia sebagai seorang ksatria yang mengaabdi pada negara, peran utama kita adalah abdinya Allah; hamba Allah SWT. 

Maka dari itu, marilah kita kuatkan tekad kita untuk menjalankan amanah dengan sebaik mungkin, dan kita teguhkan hati untuk menjaga diri dari melakukan tindakan yang bisa merusak amanah tersebut. 

Beliau mengajak seluruh umat untuk kembali meneguhkan tekad:  Menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya, Menjaga diri dari godaan yang merusak kepercayaan, Menyadari bahwa peran utama kita adalah sebagai hamba Allah, bukan sekadar abdi negara  

Doa pun dipanjatkan agar Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu menunaikan amanah, dan menjadikannya jalan menuju surga-Nya.

Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wahablana min landunka rahmatan innaka antal wahhaab. Ya allah, janganlah engkau palingkan hati kami setelah engkau berikan pentujukMu kepadanya, dan Anugerahkanlah kami kasih sayangMu, sesungguhnya engkaulah yang maha memberikan anugerah yang besar 

Allahumma Waffiqnaa li tha'atika wa Amaanatik, wa atmim taqshirana, wa taqabbal minna, innaka antas sami'ul 'alim. Ya Allah, bimbinglah kami dalam menunaikan keta’atan dan amanah-amanahMu, serta sempurnakanlah segala ketidaksempurnaan kami, dan terimalah segala amal dan kinerja kami, sesungguhnya engkaulah Dzat yang maha mendengar lagi maha mengetahui.

"Mudah-mudahan Allah jadikan kita hamba-hamba-Nya yang mampu menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya, dan mudah-mudahan hal tersebut Allah jadikan sebagai wasilah yang mengantarkan kita menuju surga Allah SWT. Aamiin," tutupnya.

Komentar