Ustadz Muhammad Harun: Dzulqa’dah, Bulan Mulia dan Waktu Tepat Mengejar Maghfirah Allah
ASKARA - Bulan Dzulqa’dah mungkin terdengar asing bagi sebagian kita, namun sejatinya ini adalah salah satu dari empat bulan suci (arba’atun hurum) yang dimuliakan oleh Allah SWT.
"Bulan ini adalah momen untuk mendekatkan diri kepada Allah, menghindari larangan-Nya, serta memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih sejahtera di dunia dan akhirat," ujar Wakil Ketua Umum Yayasan Madani Al Washiyyah, Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied, dalam tausiyahnya, Ahad (18/5).
Dalam QS At-Taubah ayat 36, Allah SWT menegaskan bahwa dari dua belas bulan dalam setahun, ada empat yang khusus, dan Dzulqa’dah adalah salah satunya. "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus." (QS At-Taubah ayat 36)
Ustadz Harun mengingatkan bahwa dosa di bulan suci ini akan dilipatgandakan hukumannya. Syeikh Muhammad bin Jarir At-Thabari, dalam tafsirnya mengutip Ibnu Abbas RA, menyatakan bahwa balasan atas dosa yang dilakukan di bulan-bulan haram lebih besar dari bulan lainnya. Ini adalah peringatan agar kita semakin menjaga diri dan menjauhi kesalahan.
Kemudian, Ustadz Harun menjelaskan, ketika kita telah memasuki bulan Dzulqa’dah, sesungguhnya kita telah mendekati akhir tahun Hijriyah. Ini saatnya untuk merenung: sejauh mana kita memanfaatkan hidup yang Allah beri? Masa kehidupan makin menyempit, tapi apakah kita semakin mendekat kepada-Nya?
Allah SWT memberikan solusi untuk hidup sejahtera di dunia dan akhirat: ampunan (maghfirah). Dalam QS Ali Imran ayat 133, Allah berfirman: "Dan bersegeralah kalian untuk merebut ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa."
"Ampunan Allah (maghfirah) adalah kunci bagi kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia maupun akhirat. Tetapi bagaimana cara kita mendapatkannya?" imbuhnya.
Lima Syarat Mendapatkan Maghfirah Allah SWT
Allah SWT menjelaskan lima kriteria utama bagi hamba yang ingin mendapatkan maghfirah-Nya:
1. Berinfak di jalan Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sulit. Ketika ekonomi sedang sulit, berinfak menjadi tantangan besar, tetapi juga ujian keimanan yang berharga.
2. Menahan amarah: marah adalah sifat alami manusia, tetapi Allah meminta kita untuk mampu mengendalikan diri, karena menguasai amarah adalah jalan menuju kesabaran dan kedewasaan.
3. Memaafkan kesalahan orang lain: hal yang berat dilakukan, tetapi dengan memaafkan, kita belajar memahami bahwa segala kejadian adalah bagian dari takdir Allah.
4. Segera bertaubat saat berbuat dosa: jangan terjebak dalam kesalahan yang terus berulang. Segera kembali kepada Allah dan mohon ampunan-Nya.
5. Berusaha tidak mengulangi dosa setelah bertaubat: kesungguhan dalam taubat harus dibarengi dengan *usaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh ke dalam kesalahan yang sama.
"Mereka yang memenuhi lima kriteria ini akan mendapatkan maghfirah dari Tuhan mereka, serta surga yang penuh dengan berbagai kenikmatan, dan mereka kekal di dalamnya," ujarnya.
Di akhir tahun Hijriyah ini, marilah kita merenung dan memperkuat amal kita, agar kita menjadi insan yang sejahtera di dunia dan akhirat. "Allahummaj’al yaumana khairan min amsina, Waj’al ghodana khairan min yaumina, Wa ahsin’aqibatana fil umuri kulliha, Wa ajirna min khizyid dunya, wa adzabil akhirah."
"Semoga Allah menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin, dan menjadikan hari esok lebih baik dari hari ini. Semoga kita termasuk orang yang mendapatkan maghfirah-Nya dan mencapai kesuksesan sejati di dunia dan akhirat! Aamiin Ya Rabbal Alamin," tutup Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied.

Komentar