Senin, 17 Agustus 2026 | 06:16
NEWS

HUT RI ke-81, Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied: Kemerdekaan Adalah Amanah, Jika Disyukuri Allah Tambah Nikmatnya

HUT RI ke-81, Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied: Kemerdekaan Adalah Amanah, Jika Disyukuri Allah Tambah Nikmatnya
Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied (dok.askara)

ASKARA - Dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8), Wakil Ketua Umum Yayasan Madani Al Washiyyah, Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied, menyampaikan tausiyah kebangsaan yang sarat makna dan berlandaskan dalil Al-Qur'an.

Tausiyah yang disampaikan di hadapan jamaah dan warga tersebut mengangkat tema "Kemerdekaan Sebagai Amanah dan Nikmat yang Wajib Disyukuri." Menurut Ustadz Harun, tema ini sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini.

Dalam tausiyahnya, ia menegaskan bahwa akar dari berbagai krisis bangsa adalah hilangnya nilai amanah. Amanah adalah cahaya dan fondasi bangsa yang harus kembali ditegakkan.

KEMERDEKAAN ADALAH NIKMAT YANG WAJIB DISYUKURI

Ustadz Harun membuka tausiyah dengan mengingatkan bahwa kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah nikmat besar dari Allah SWT yang wajib disyukuri oleh seluruh rakyat Indonesia.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur'an sebagai dalil utama:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'” (QS. Ibrahim: 7)

"Jika kita bersyukur atas nikmat kemerdekaan dengan mengisi kemerdekaan itu dengan pembangunan, keadilan, dan ketaatan, maka Allah akan tambah nikmat kemakmuran dan kedaulatan. Tapi jika kita kufur nikmat, dengan korupsi, memecah belah bangsa, dan tidak peduli rakyat, maka azab Allah sangat berat, bisa berupa perpecahan dan hilangnya keberkahan negeri," jelas Ustadz Harun.

AMALAH KEMERDEKAAN JANGAN DIKHIANATI

Selanjutnya, Ustadz yang dikenal aktif dalam dakwah pemberdayaan umat itu menekankan bahwa kemerdekaan adalah amanah dari para syuhada dan dari Allah SWT.

Ia mengutip dalil: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...” (QS. An-Nisa: 58)

Menurutnya, amanah kemerdekaan hari ini berada di tangan pemimpin dan seluruh rakyat. Pemimpin diberi amanah kekuasaan untuk menyejahterakan rakyat, bukan untuk memperkaya diri dan oligarki. Rakyat diberi amanah menjaga persatuan.

"Ini yang sering kita lupakan. Kekayaan alam kita melimpah, tapi jika pengelolanya khianat terhadap amanah, maka kemerdekaan hanya dinikmati segelintir orang," tegasnya.

PERSATUAN ADALAH KUNCI KEBERKAHAN NEGERI

Di usia ke-81 tahun, Ustadz Harun juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dalam kebhinekaan, sesuai dengan tema nasional "Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur."

Ia menyampaikan dua dalil Al-Qur'an tentang persatuan dan tujuan berbangsa: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...” (QS. Ali Imran: 103)

"Allah ciptakan kita berbeda suku, ada Sunda, Jawa, Cirebon, Papua, Aceh, agar kita saling mengenal, bukan saling membenci. Di HUT RI ke-81 ini, jangan mau diadu domba. Persatuan adalah prasyarat negeri yang berdaulat," ujarnya.

Ia juga mengingatkan doa Nabi Ibrahim AS untuk negerinya, yang sangat relevan untuk Indonesia:
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, 'Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.'” (QS. Al-Baqarah: 126)

NASIB BANGSA TIDAK AKAN BERUBAH KECUALI RAKYATNYA BERUBAH

Menutup tausiyahnya, Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan muhasabah dan perubahan, dengan mengutip firman Allah:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

"81 tahun merdeka adalah waktu yang panjang. Jika ingin Indonesia benar-benar menjadi negara maju, adil dan makmur, maka kuncinya ada pada diri kita sendiri. Mulai dari jujur, menjaga amanah, bekerja keras, dan peduli sesama. Itulah cara kita mensyukuri kemerdekaan yang hakiki," pungkasnya.

Tausiyah tersebut disambut antusias jamaah dan ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara, agar Indonesia senantiasa menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur - negeri yang baik dan diampuni Allah SWT.

Komentar