Senin, 15 Juni 2026 | 20:25
COMMUNITY

Bukan Sekadar Sembelih Hewan: Ini Makna Qurban Sesungguhnya Menurut Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied

Bukan Sekadar Sembelih Hewan: Ini Makna Qurban Sesungguhnya Menurut Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied
Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied (dok.adkara)

ASKARA – Wakil Ketua Umum Yayasan Madani Al Washiyyah, Ustadz Muhammad Harun Al Rasyied, menyampaikan khutbah Idul Adha 1447 H di Masjid S. Parman, Kantor BAIS TNI Kalibata, Jakarta, Rabu (27/5), yang menggugah dengan mengupas tuntas filosofi qurban dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS. Di hadapan jamaah, beliau menegaskan bahwa esensi qurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan puncak ujian ketaatan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Qurban: Kilas Balik Pengorbanan "Abul Anbiya"

Mengawali khutbah dengan QS. Ali Imran: 92, “Kalian tidak akan mungkin mendapatkan kebaikan yang sempurna, sampai kalian menginfakkan sebagian dari apa yang paling kalian cintai,” Ustadz Harun membawa jamaah menapak tilas perjuangan Nabi Ibrahim AS, sang Abul Anbiya’ atau Bapaknya Para Nabi.

Beliau mengisahkan, Nabi Ibrahim AS lahir di Kota Ur, Iraq, sekitar tahun 1997 – 1822 SM di bawah kekuasaan Babylon. Sejak muda, ujian hidupnya luar biasa berat. Ayahnya sendiri adalah pembuat berhala yang menentang dakwahnya, bahkan mengusirnya. Namun Ibrahim AS tetap sabar dan taat.

Ujian tak berhenti. Setelah puluhan tahun berdakwah di Iraq, Allah perintahkan beliau hijrah ke Makkah bersama istri, Hajar. Di usia 80 tahun, beliau belum juga dikaruniai anak. Doa panjangnya diabadikan dalam Al-Qur’an: “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang yang saleh.”

Allah pun menjawab kesabaran itu dengan lahirnya Ismail AS. Seorang anak shalih yang sejak kecil membantu dakwah ayahnya dan sangat disayangi Ibrahim AS.

Ujian Puncak: Sembelih Putra Tercinta

Puncak ujian datang saat Ismail menginjak remaja. Allah memerintahkan Ibrahim melalui mimpi untuk menyembelih putra semata wayangnya itu. Dialog keduanya menjadi bukti ketaatan luar biasa. Ibrahim bertanya, “Wahai anakku, apa pendapatmu?” Ismail menjawab, “Wahai Ayah yang aku cintai dan hormati, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Di Bukit Jabal Qurban, dengan hati berat, keduanya mendahulukan perintah Allah di atas perasaan. Saat pisau di leher Ismail, Allah membuktikan kelulusan mereka dari ujian. Ismail diganti dengan hewan sembelihan besar. Keduanya hanya mampu bertakbir, “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar Walillahil Hamd.”

Korbankan yang Terbaik untuk Raih Surga

Ustadz Harun menegaskan, kisah ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah adalah prioritas utama. “Perintah yang paling tidak masuk akal sekalipun di mata manusia, apabila itu datang dari Allah maka WAJIB bagi kita untuk melaksanakannya & tidak mengeluh atasnya,” tegasnya.

Beliau menganalogikan dengan Sapta Marga TNI: kesatria bertakwa yang patuh pada pimpinan, terlebih lagi kepada Allah SWT.

Pelajaran kedua: untuk meraih yang terbaik, yaitu surga, kita harus berani mengorbankan yang terbaik pula. Entah itu harta, jabatan, waktu, tenaga, bahkan keluarga. QS. Ali Imran: 92 jadi penegas.

Para sahabat Nabi langsung mengamalkan ayat ini. Umar bin Khattab membebaskan budak kesayangannya. Abu Talhah, sahabat terkaya di Madinah, menginfakkan kebun kurma terbaiknya, Bairuha. Mereka berlomba memberi yang TERBAIK.

Hambatan Terbesar Justru dari Orang Tercinta

Ustadz Harun mengingatkan, justru anak dan istri yang kita cintai bisa jadi hambatan terbesar dalam taat kepada Allah. QS. At-Taghabun: 15 menyebut, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah ujian, dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Jadilah "Ibrahim-Ibrahim Baru

Menutup khutbah, beliau mengajak jamaah menjadikan Idul Adha 1447 H sebagai momentum lonjakan iman dan takwa. “Marilah kita menjadi Ibrahim-Ibrahim baru, yang rela mengorbankan apapun demi menjalankan perintah Allah SWT,” serunya.

Qurban bukan ritual tahunan semata, tapi madrasah untuk melatih keikhlasan melepas apa yang paling kita cintai demi Allah. Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.

Komentar