Rabu, 17 Juni 2026 | 18:28
NEWS

Operasi Zebra Jateng Awasi Ketertiban Publik

Operasi Zebra Jateng Awasi Ketertiban Publik
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Artanto (dok.askara)

ASKARA - Jawa Tengah bersiap menjalani salah satu operasi keselamatan jalan raya terbesar tahun ini. Polda Jateng resmi memulai Operasi Zebra 2025 pada 17 hingga 30 November, dengan pengerahan lebih dari dua ribu personel di seluruh kabupaten dan kota. Operasi ini tidak hanya fokus pada penindakan, tetapi juga pada evaluasi menyeluruh atas disiplin berlalu lintas masyarakat.

Di halaman Mapolda Jateng, persiapan operasi tampak intens. Kendaraan dinas diperiksa, perangkat ETLE mobile dites, dan para instruktur memberikan pengarahan mengenai titik-titik rawan kecelakaan. Beberapa ruas yang mendapat perhatian khusus meliputi jalur Pantura, jalur selatan, serta sejumlah persimpangan padat di Semarang, Solo, dan Banyumas wilayah yang dalam beberapa tahun terakhir mencatat tingkat kecelakaan cukup tinggi.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, menjelaskan bahwa sasaran Operasi Zebra tahun ini dirancang berdasarkan analisis tren pelanggaran yang konsisten menjadi penyebab fatalitas. “Fokus kami adalah perilaku yang paling membahayakan. Pengemudi mobil tanpa sabuk keselamatan, pemotor tanpa helm SNI, pelanggaran rambu dan marka, penggunaan HP saat berkendara, kendaraan tidak laik jalan, over load angkutan barang, serta balap liar. Itu yang akan kami tindak secara prioritas,” jelasnya.

Artanto menyebutkan, penindakan dilakukan dengan dua skema: tilang manual dan Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). Penggunaan ETLE mobile akan diperluas untuk menangkap pelanggaran yang selama ini sulit dideteksi, terutama penggunaan ponsel dan pengendara tanpa helm di wilayah yang belum terpasang kamera ETLE statis. Tilang manual tetap diterapkan untuk situasi yang membutuhkan pemeriksaan langsung, khususnya pada kendaraan barang dan kondisi teknis kendaraan.

Meski penindakan menjadi instrumen penting, kepolisian juga akan mengedepankan edukasi. Di sejumlah titik, petugas akan membagikan imbauan keselamatan dan menggelar penyuluhan singkat kepada pengendara. Hal ini dilakukan menyikapi fakta bahwa banyak pelanggaran bukan hanya soal kesengajaan, tetapi juga kurangnya pengetahuan tentang risiko.

Pengamat transportasi dari salah satu perguruan tinggi di Semarang, Dito Waskita, menilai Operasi Zebra harus dipahami sebagai refleksi rutin atas kondisi lalu lintas Jawa Tengah. “Pelanggaran seperti tidak memakai helm atau bermain ponsel saat mengemudi menunjukkan adanya masalah budaya. Penindakan perlu, tetapi perubahan perilaku membutuhkan pendekatan edukatif yang konsisten,” ujarnya.

Di tingkat masyarakat, sejumlah warga menyambut operasi ini sebagai langkah penting untuk meningkatkan ketertiban. Siti Hapsari, warga Temanggung, mengatakan bahwa kecelakaan sering terjadi di sekitar wilayahnya akibat pengendara ugal-ugalan. “Kalau operasi bisa membuat orang lebih disiplin, itu bagus. Yang penting penindakan tidak tebang pilih,” katanya.

Operasi Zebra tahun ini juga menjadi momentum untuk menilai efektivitas ETLE dalam jangka panjang. Sejak diterapkan beberapa tahun lalu, ETLE terbukti meningkatkan kepatuhan di titik-titik terpasang kamera, tetapi pelanggaran malah bergeser ke wilayah yang tidak terawasi. Dengan ETLE mobile, polisi berharap celah tersebut bisa ditutup.

Polda Jateng menegaskan bahwa tujuan operasi bukan memperbanyak jumlah tilang, melainkan menekan kecelakaan yang masih menjadi penyumbang tingginya angka korban jiwa. Kombes Artanto menyampaikan bahwa evaluasi setiap tahun menunjukkan korelasi kuat antara operasi penertiban dan penurunan fatalitas. “Kami ingin masyarakat selamat sampai tujuan. Itu inti dari seluruh operasi ini,” tegasnya.

Seiring berjalannya operasi selama dua pekan ke depan, masyarakat diimbau memeriksa kondisi kendaraan, memastikan dokumen lengkap, mematuhi rambu, serta menahan diri untuk tidak menggunakan ponsel selama berkendara. Dengan kepatuhan kolektif, diharapkan ruas jalan di Jawa Tengah tidak hanya lebih tertib, tetapi juga lebih manusiawi bagi semua pengguna jalan.

Operasi Zebra 2025 pun menjadi cermin bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab kepolisian, melainkan komitmen bersama untuk menciptakan ruang publik yang aman, tertib, dan beradab. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar