Mendobrak Batasan Patriarki dalam Seni Pedalangan
Oleh: Setyasih Harini
Afiliasi: Dosen Universitas Slamet Riyadi Surakarta
ASKARA - Dalam jagat seni pertunjukan tradisional Indonesia, khususnya wayang kulit, peran dalang selama ini dipandang sebagai domain laki-laki. Tradisi yang sarat nilai patriarki ini menjadi tembok penghalang kuat bagi dalang perempuan yang berjuang merebut ruang ekspresi dan pengakuan. Kondisi ini mencerminkan bagaimana budaya patriarki yang melekat dalam masyarakat kita masih menghambat perempuan untuk berpartisipasi penuh dalam ranah seni yang selama ini dianggap eksklusif bagi laki-laki. Di balik bayang-bayang norma yang kaku, terdapat perjuangan gigih dari dalang perempuan yang tidak sekadar ingin tampil di panggung, melainkan juga ingin mengukir identitas dan kontribusi nyata dalam pelestarian budaya.
Realita di lapangan menegaskan bahwa dalang perempuan kerap menghadapi stigma dan diskriminasi dari lingkungan sosial yang masih mempertahankan pandangan konservatif. Misalnya, dalam pagelaran ritual sakral seperti ruwatan, dalang perempuan sering dianggap tabu hingga tidak diperbolehkan tampil. Sebaliknya, dalam pagelaran non-ritual yang sifatnya hiburan dan edukasi, dalang perempuan kurang mendapat perhatian dari masyarakat, pemerintah, dan media. Masih ada masyarakat yang kurang tertarik dan kurang percaya pada kemampuan dan keterampilan dalang perempuan dalam memainkan wayang kulit.
Selain hambatan kultural, terdapat pula tantangan teknis dan biologis yang dihadapi dalang perempuan. Secara fisik, masyarakat memandang keterbatasan stamina dan keterampilan olah suara menjadi belenggu dalang perempuan. Dalang perempuan terkadang dibenturkan dengan tokoh wayang yang membutuhkan suara berat. Sementara aspek biologis seperti menstruasi juga menjadi kendala dalam konteks sakralitas pertunjukan wayang. Anggapan sebagian masyarakat seringkali dikaitkan dengan dalang secara historis memegang peran kunci dalam setiap pertunjukan wayang. Sebab, kesenian tradisional wayang, isi ceritanya tidak hanya terbatas pada hiburan namun sarat akan pesan-pesan moral
Di sisi lain, dalang perempuan harus menyeimbangkan waktu dan energi di antara peran domestik sebagai istri dan ibu serta tuntutan profesional dalam seni pedalangan. Beban ganda ini menambah berat perjuangan dalang perempuan untuk mengasah kemampuan dan mendapatkan ruang pengembangan yang setara dengan dalang laki-laki. Selain beban domestik, dalang perempuan juga mengalami kesulitan dalam mendapatkan ruang yang memadai untuk berkarya dan tampil setara dengan rekan laki-laki. Dalam banyak kasus, akses dalang perempuan ke panggung dan kesempatan tampil masih dibatasi oleh norma sosial dan stereotip gender. Ruang apresiasi seni yang seharusnya menjadi wadah dalang perempuan untuk berkembang justru kerap menjadi tantangan tersendiri, karena harus berjuang keras membuktikan kompetensi di tengah dominasi dalang laki-laki.
Namun sayangnya, dukungan dari institusi dan media massa masih minim dalam mengangkat dan memperjuangkan peran dalang perempuan. Media belum maksimal memberi sorotan kepada kiprah perempuan di dunia pedalangan, sehingga persepsi stereotip masih mudah melekat. Pengakuan dan pemberdayaan dalang perempuan hanya bisa dicapai melalui kolaborasi lintas pihak, baik pemerintah, komunitas seni, maupun media yang harus aktif membuka ruang dialog dan dukungan.
Dukungan tersebut sangat penting, sebab ada hal yang cukup mengkhawatirkan yang sempat terjadi pada dalang perempuan. Beberapa dalang perempuan pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan di hadapan penonton yang masih memiliki sikap kurang menghargai atau bahkan melecehkan secara verbal dan non-verbal. Kondisi ini menimbulkan rasa ketidakamanan yang dapat menghambat semangat para dalang perempuan untuk tampil dan berkarya maksimal. Situasi ini menjadi panggilan penting bagi masyarakat untuk menciptakan iklim seni yang lebih ramah dan inklusif, agar dalang perempuan dapat berkembang tanpa rasa takut dan diskriminasi.
Padahal, ada sisi yang menarik di tengah berbagai keterbatasan, banyak dalang perempuan justru unggul dalam aspek kreatifitas olah vokal, pengolahan narasi, hingga olah humor—yang membuat pertunjukan menjadi hidup dan menarik. Dalang perempuan seperti Nyi Paksi Rukmawati bahkan telah membawa wayang kulit ke pentas internasional, membuka peluang diplomasi budaya yang mempromosikan keberagaman identitas gender dalam seni tradisi Indonesia. Seni pertunjukan wayang kulit bukan sekadar hiburan, melainkan cermin nilai budaya dan identitas bangsa yang dinamis. Oleh karenanya, upaya menghapus diskriminasi dan membuka ruang bagi dalang perempuan bukan hanya persoalan kesetaraan gender, tetapi juga pelestarian dan perkembangan budaya Indonesia yang inklusif dan berkeadaban. Melalui pemberdayaan perempuan dalam seni pedalangan, kita dapat menegaskan bahwa budaya bukan milik satu gender, melainkan milik semua warga bangsa yang saling menghormati keberagaman. Wayang kulit mencerminkan kearifan lokal, filosofi hidup, dan narasi sejarah yang menjadi bagian integral dari jiwa masyarakat Indonesia. Dalam konteks ini, menjaga kelestarian wayang kulit berarti juga merawat akar budaya yang membentuk karakter bangsa serta memperkuat rasa kebersamaan lintas generasi dan ruang sosial.
Masyarakat perlu semakin sadar bahwa stereotip patriarki harus ditanggalkan demi kemajuan seni dan budaya Nusanatara. Dalang perempuan yang memiliki potensi besar perlu didukung secara penuh agar dapat berkarya maksimal, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi budaya internasional. Melalui kesetaraan dan pemberdayaan ini, kita akan mewujudkan seni tradisi yang relevan untuk masa depan dan mampu menjawab tantangan sosial-budaya yang terus berkembang. Pemberdayaan perempuan dalam seni pedalangan juga membawa dampak sosial yang luas, karena mampu menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menghormati dan menghargai peran setiap individu tanpa memandang gender. Melalui cara ini, budaya menjadi instrumen yang menguatkan keadaban dan memperkokoh solidaritas antarwarga bangsa. Dengan mendukung dalang perempuan, kita mengukuhkan bahwa budaya adalah milik semua orang dan merupakan medium yang mampu menginspirasi nilai-nilai toleransi, demokrasi, dan penghormatan atas keberagaman yang menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa.
Oleh sebab itu, menghapus diskriminasi terhadap dalang perempuan dan membuka ruang yang setara merupakan langkah strategis bukan hanya bagi kesetaraan gender, tetapi juga pelestarian budaya yang inklusif dan berkelanjutan. Ketika perempuan diberikan kesempatan yang adil untuk berperan di dunia pedalangan, maka ekspresi seni ini akan menjadi lebih kaya dan dinamis, merefleksikan pluralitas dan keberagaman masyarakat kita. Hal ini sekaligus mempertegas pesan bahwa budaya Indonesia tidak eksklusif untuk satu kelompok, melainkan milik seluruh warga bangsa yang memiliki hak dan tanggung jawab untuk memelihara dan mengembangkannya secara bersama-sama.

Komentar