Rabu, 17 Juni 2026 | 18:05
COMMUNITY

Inspirasi Prof. Rokhmin Dahuri: Makna Hidup dan Cahaya Ilahi Meniti Jalan Abadi

Inspirasi Prof. Rokhmin Dahuri: Makna Hidup dan Cahaya Ilahi Meniti Jalan Abadi
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS (dok.askara)

ASKARA - Dalam dunia yang terus bergerak, di tengah hiruk-pikuk ambisi dan pencapaian duniawi, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, hadir sebagai sosok yang mengingatkan kita akan esensi terdalam dari keberadaan manusia. Bagi beliau, hidup bukan sekadar perjalanan singkat di bumi, melainkan sebuah misi spiritual untuk meraih kebahagiaan abadi yang hanya dapat dicapai dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits.

“Manusia diciptakan bukan sekadar untuk hidup di dunia yang sementara, tetapi untuk meraih kebahagiaan abadi dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits," ujar anggota DPR RI 2024-2029 ini dalam Quotes Inspirasi Pagi, Selasa (28/10).

Kalimat ini bukan hanya kutipan, melainkan kompas hidup yang beliau pegang erat dalam setiap langkahnya baik sebagai akademisi, pemimpin, maupun hamba Tuhan.

Sebagai tokoh yang telah menorehkan jejak dalam dunia kelautan, perikanan, dan pembangunan berkelanjutan, beliau tidak pernah memisahkan antara ilmu dan iman. Ia percaya bahwa kemajuan teknologi dan ekonomi harus berjalan seiring dengan kemuliaan akhlak dan ketundukan kepada Sang Pencipta. 

"Dalam setiap kebijakan yang ia rumuskan, dalam setiap pidato yang ia sampaikan, tersirat pesan bahwa ilmu tanpa nilai spiritual adalah kosong, dan pembangunan tanpa arah ilahi adalah rapuh," kata Rektor Universitas UMMI Bogor ini.

Dalam pesannya, Prof. Rokhmin Dahuri mengajak umat muslim menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dalam meraih kebahagiaan dan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat dengan cara bertaqwa yaitu menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

“Betapa beruntungnya kita menjadi seorang muslim, karena agama islam yang kita anut merupakan pedoman yang mengatur hidup manusia dari berbagai hal sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an,” ujarnya,

Ia mengungkapkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada harta, jabatan, atau popularitas, melainkan pada ketenangan hati yang lahir dari kedekatan dengan Allah SWT. “Al-Qur’an dan Hadits bukan hanya pedoman ibadah, tetapi juga sumber solusi untuk segala persoalan hidup, dari urusan pribadi hingga tata kelola negara," tegasnya.

Prof. Rokhmin juga menekankan pentingnya pendidikan yang menyatukan kecerdasan intelektual dan spiritual. Ia mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengejar gelar dan prestasi, tetapi juga membangun karakter yang kokoh, berlandaskan nilai-nilai Islam. 

“Kita harus mencetak pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga jujur, amanah, dan berorientasi pada akhirat,” ujar Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini.

Dalam era digital yang serba cepat, pesan Prof. Rokhmin menjadi oase yang menyejukkan. Ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat, dan manusia tetap harus menjadi subjek yang sadar akan tujuan hidupnya. 

“Jangan sampai kita sibuk membangun dunia, tetapi lupa menyiapkan bekal untuk akhirat,” tuturnya dengan nada lembut namun penuh makna.

Kebahagiaan Abadi Bukanlah Utopia

Melalui keteladanan hidupnya, Menteri Kelautan dan Perikanan 2004-2009 itu mengajarkan bahwa kebahagiaan abadi bukanlah utopia, melainkan janji Allah bagi mereka yang istiqamah. Ia mengajak kita semua untuk kembali kepada sumber cahaya, menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pelita dalam gelapnya zaman, dan meniti jalan abadi dengan penuh harapan.

Ia mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat yang tetap relevan hingga akhir zaman, termasuk mengatasi permasalahan kehidupan manusia termasuk di era modern abad-21 ini.

“Sebagai contoh, permasalahan Individu Manusia: stress (tekanan jiwa), gelisah, cemas, frustasi, bunuh diri, dan melakukan tindakan kriminal  Solusi antara lain: QS. Ar-Ra’d (13): 28,” jelasnya.

Sementara terkait dengan masalah kolektif (masyarakat, bangsa dan dunia), seperti: Pertama, Kemiskinan. Solusi: Tugas Pemerintah bersama warga negara yang kaya (aghniya)  untuk membuat seluruh rakyatnya bekerja (yang usia produktif, 15 – 64 tahun), dan hidup sejahtera secara berkeadilan (QS. Quraisy [106]: 4; QS. Al-Ma’un [107]: 2,3, dan 7).

Kedua, Ketimpangan Ekonomi (Kesenjangan Kaya vs Miskin) semakin melebar  Solusi: (1) Rukun Islam ke-5 (Membayar Zakat) (QS.2: 43); (2) larangan menumpuk harta (QS. Al-Humazah [104]: 2) dan hidup bermegah-megah (QS. At-Takasur [102]: 1); dan (3) Infaq, shodaqoh, dan Waqaf (QS. 3: 133 – 135).

Ketiga, Triple Ecological Crisis (Pollution, Biodiversity Loss, dan Global Warming) akar masalahnya adalah karena Laju (Tingkat) Pembangunan melampui Daya Dukung suatu Wilayah (Desa, Kabupaten/Kota, Propinsi, Negara, dan Dunia).  Laju Pembangunan di suatu wilayah: f (Jumlah Penduduk, Tingkat Penggunahan Lahan atau Ruang [seperti untuk pemukiman, perkotaan, kawasan industri, dan infrastruktu], Konsumsi SDA perkapita, Laju Buangan Limbah perkapita, dan Laju Emisi GRK perkapita).  Solusi: manusia harus hidup sederhana, hemat, dan merawat lingkungan hidup (QS.2: 11).

Keempat, Tensi Geopolitik yang semakin memanas  Perang, Inflasi sangat tinggi, dan Resesi Ekonomi Global. Solusi:  QS. Al-Hujurat (49) : 13. “Kelima, Kemajuan IPTEK berdasarkan IMTAQ  Solusi: QS. Al – ‘Alaq (96): 1; QS. Al-Mujadilah (58): 11; dan QS. Az – Zumar (39) : 9,” kata Dosen Kehormatan Mokpo national University Korea Selatan itu.

Komentar