Inspirasi Jum'at: Prof. Rokhmin Dahuri Ajarkan Bersyukur dalam Setiap Langkah, Ikhlas dalam Setiap Peran
ASKARA - Di balik gelar profesor dan jabatan menteri yang pernah disandang, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS menyimpan kisah masa kecil yang sederhana. Dalam perbincangan hangat di "Beranda Joni" TV Parlemen, Anggota DPR RI 2024–2029 ini berbagi kisah hidup, nilai-nilai yang ia pegang, dan pelajaran yang membentuk perjalanan hidupnya.
Obrolan di "Beranda Joni" kali ini terasa berbeda. Bukan bahas politik berat, tapi soal mentalitas. Soal bagaimana silaturahim jadi aset, ikhlas jadi penawar kecewa, dan ikhtiar plus doa jadi pegangan.
Berangkat dari keluarga nelayan sederhana di pesisir Cirebon tahun 1960-an, beliau mengingatkan bahwa latar belakang bukanlah penghalang untuk terus belajar, berikhtiar, dan memberi manfaat. “Bapak saya nelayan buta huruf. Ibu saya kelas satu SD,” kenang Prof. Rokhmin.
Ia tumbuh di kampung nelayan, di pinggir pantai. Masa remaja dihabiskan di sana sebelum merantau. Kisah masa kecil itu menjadi potret perjalanan Prof. Rokhmin: dari anak nelayan di pesisir hingga menjadi Guru Besar IPB University, Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004, dan kini Anggota DPR RI.
Kisah di Balik Pengangkatan Prof. Rokhmin Dahuri Jadi Menteri KKP
Waktu itu, Gus Dur—Presiden Abdurrahman Wahid—memanggil seorang anak nelayan dari Cirebon untuk duduk di kabinetnya. Namanya Rokhmin Dahuri. “Tugas utama jadi Menteri Kelautan: mensejahterakan nelayan”
Prof. Rokhmin Dahuri mengenang pesan langsung dari Gus Dur saat beliau diangkat jadi Menteri Kelautan dan Perikanan.
“Dan beliau bilang, tetapi saya lebih tertarik lagi karena Mas Romin anak nelayan buta huruf dan dari keluarga bawah kan. Oke. Maka tolong amanah pesan saya jadi Menteri Kelautan tugas utamanya kata beliau nih mensejahterakan nelayan gitu.”
Latar belakang Rokhmin yang lahir dari keluarga nelayan miskin justru jadi alasan utama Gus Dur memilihnya. Bukan gelar, bukan koneksi politik. Gus Dur butuh orang yang paham betul getirnya hidup di pesisir. Padahal masa jabatannya cuma delapan bulan, 2001-2004. Tapi Gus Dur sudah mengincarnya jauh hari.
Ternyata, jauh sebelum jadi menteri, tulisan-tulisan Rokhmin di Harian Kompas sudah dibaca Gus Dur.
“Cuman beliau kan... maksud saya rupanya beliau mengikutin tulisan saya jadi saya sejak mahasiswa aktif menulis di Kompas.”
Kenapa opini di Kompas begitu penting? Rokhmin menjelaskan standar di sana sangat ketat.
“Bilang Mas Rahmin, kalau seseorang bisa masuk di Kompas eh halaman opini. Itu berarti dia mempunyai analis capability yang jago dan problem solving. Karena kalau Kompas kan bayangin ya setiap hari enam puluh tulisan tuh. Yang di-publish kan hanya tiga atau maksimum empat kan? Jadi very selective tuh. Jadi harus concise bahasanya mengalir.”
Dari 60 naskah yang masuk tiap hari, cuma 3-4 yang lolos. Artinya, Gus Dur tidak asal tunjuk. Beliau mencari pemikir yang terbukti tajam menganalisis masalah dan menawarkan solusi—dan menemukannya di halaman opini Kompas.
Cerita ini jadi menarik karena melingkar sempurna: anak nelayan buta huruf yang jadi profesor, lalu menulis untuk menyuarakan nasib pesisir di koran paling berpengaruh, dan akhirnya dipercaya presiden untuk mengubah kebijakan dari dalam.
Gus Dur tidak butuh menteri yang jago pidato. Beliau butuh seseorang yang tahu rasa asinnya laut bukan dari buku, tapi dari hidup. Dan beliau menemukannya lewat tulisan.
Lalu, Prof. Rokhmin Dahuri membagikan filosofi hidup yang ia pegang teguh: "ikhlas, networking, dan kerja terbaik tanpa pamrih".
Dalam obrolan santai ditemani alunan keyboard dan gitar akustik, ia menyinggung soal pentingnya silaturahim. "Faedah dari silaturahim itu, aduh saya mau nangis, banyak sahabat, banyak teman. Indah sekali itu," ungkapnya sambil gestur tangan terbuka. Ia menyebut, di era modern, network is an asset. Tapi dalam bahasa agama, itu namanya silaturahim.
Do The Best di Setiap Fase
Tak berhenti di situ, Prof. Rokhmin berpesan keras untuk generasi muda, terutama anak-anak petani, nelayan, dan buruh. "Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah. Yang penting do the best. Jadilah yang terbaik, mau jadi SD, SMP, wartawan, DPR, nelayan, apa pun. Niatkan untuk yang terbaik," tegasnya.
Poin paling menohok datang saat ia bicara soal berbuat baik. "Jangan pernah lelah untuk berbuat baik. Jangan pernah lelah untuk menolong orang. Walaupun kita acap kali air susu dibalas air tuba," kata Rokhmin.
Kuncinya, lanjut dia, adalah niat. "Kalau nolong orang jangan niat dapat balasan. Ikhlas saja karena Allah, karena Tuhan menurut agama kita masing-masing. Itu enggak ada hard feeling. Hidup kita jadi take it easy, enggak ada beban."
Ia menguraikan prinsip hidup yang sederhana tapi dalam: "Jangan pernah berharap sama manusia. Tapi berharaplah kepada Tuhan. Kita hidup hanya punya dua hak: hak ikhtiar dan hak doa."
Sebelumnya, Prof. Rokhmin juga menekankan pentingnya publish atau menulis. "Kita punya kemampuan apa pun kalau enggak publish, menulis, ya bos-bos di Jakarta enggak tahu," ujarnya. Itu jadi cara agar anak-anak dari keluarga miskin tahu bahwa jalan terbuka lebar.
Pesannya jelas: sukses bukan soal dari mana kamu berasal, tapi seberapa ikhlas kamu berproses dan seberapa luas kamu menjaga silaturahim.
Dangdut, Cinta, dan Kampung Halaman
Percakapan ini tak hanya membahas karier, tapi juga kecintaan pada keluarga, pendidikan, silaturahim, musik dangdut, dunia akademik, hingga semangat menjaga kesehatan di usia yang tak lagi muda.
Meski mengaku menyukai semua genre musik, Prof. Rokhmin Dahuri menyebut dangdut punya tempat khusus di hatinya. “Yang menghunjam ke hati, dangdut tuh. Ada rasanya,” katanya. Menurut dia, dangdut lekat dengan kehidupan kampung nelayan tempatnya dibesarkan. “Di kampung lain ya hanya dangdut.”
Tak hanya dangdut, Prof. Rokhmin juga menyukai lagu-lagu barat slow era 60-an. Ia menyebut First Love yang dibawakan Diana Ross sebagai salah satu yang berkesan. “Genre musik yang lain sepanjang itu tidak ingar-bingar ya. Kemudian narasinya ada. Narasi edukasi, saya senang,” ungkapnya.
Saat ditanya lagu dangdut yang membekas waktu kecil, Rokhmin tertawa. “Wah itu masa dulu kan remaja itu ya. Jadi ya itulah... kegagalan cinta itu,” ucapnya, disambut tawa host.
Ketulusan Lebih dari Sekadar Jabatan
Kisah sederhana ini menjadi inspirasi, terutama bagi generasi muda, bahwa setiap orang punya kesempatan untuk bertumbuh, berkarya, dan memberi manfaat, apa pun titik awal kehidupannya.
Sebuah obrolan sederhana, penuh hikmah, yang mengingatkan kita bahwa keberhasilan bukan semata tentang jabatan atau pencapaian, melainkan tentang ketulusan dalam belajar, bekerja, membantu sesama, dan terus bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan Allah SWT.
Salah satu pesan yang paling membekas: "Jadilah yang terbaik pada setiap fase kehidupan yang sedang dijalani. Berikhtiar dengan sungguh-sungguh, perbanyak doa, dan jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT."

Komentar