Pembakaran Mahkota Adat Cendrawasih Picu Kecaman, Aktivis Muda Papua Minta BBKSDA Gunakan Pendekatan Edukatif
ASKARA - Tindakan pembakaran mahkota adat Papua yang terbuat dari ornamen asli Burung Cendrawasih oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua pada 15 Oktober lalu menuai reaksi keras dari berbagai kalangan di Tanah Papua. Aksi pemusnahan barang sitaan tersebut dinilai menyinggung nilai-nilai budaya yang sakral bagi masyarakat adat.
Kepada Askara.com, aktivis muda Papua Feby Griffith Saroy, yang tergabung dalam Forum Co-Kreasi Lestari Papua, Lindungi Hutan Papua, serta volunteer WWF Indonesia, menyampaikan keprihatinannya atas tindakan itu. “Cendrawasih bukan sekadar hewan endemik, tapi simbol keindahan, kebanggaan, dan identitas budaya Tanah Papua. Ketika mahkota yang indah itu dibakar, yang hilang bukan hanya benda, tapi juga nilai dan sejarah yang melekat padanya,” ujarnya.
Perempuan lulusan Jinan University Guangzhou tahun 2015 ini menilai tindakan pembakaran menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap simbol budaya Papua, meski di sisi lain langkah tersebut diambil untuk melindungi satwa langka dari perdagangan ilegal. “Tujuannya memang baik, tapi seharusnya dilakukan dengan cara yang lebih edukatif, bukan represif,” tambahnya.
Feby mengusulkan agar benda-benda sitaan yang mengandung nilai budaya tidak dimusnahkan, melainkan dimuseumkan atau dijadikan inventarisasi negara. Menurutnya, hal ini bisa menjadi sarana edukasi publik tentang pentingnya menjaga satwa dilindungi tanpa mengorbankan makna budaya yang melekat pada masyarakat Papua.
Ia berharap BBKSDA Papua ke depan bisa menerapkan pendekatan yang lebih manusiawi dan berkeadilan dengan melibatkan masyarakat adat. “Pelestarian lingkungan harus berjalan seiring dengan keadilan sosial dan penghormatan budaya. Kami ingin kebijakan yang tidak hanya melindungi burungnya, tapi juga menghargai manusianya—khususnya masyarakat Papua yang selama ini menjadi penjaga alam sesungguhnya,” tegas Feby.

Komentar