Sabtu, 13 Juni 2026 | 17:51
NEWS

Gubernur Akpol Ajak Perwira Siswa Bangun Citra Polri Lewat Filsafat Kamera

Gubernur Akpol Ajak Perwira Siswa Bangun Citra Polri Lewat Filsafat Kamera
Gubernur Akpol Irjen Pol Midi Siswoko SIK saat menyampaikan pembekalan Penulisan Manuskrip sebagai Tugas Akhir Pasis Akpol Angkatan 57 (Dok Humas Akpol)

ASKARA - Gubernur Akademi Kepolisian (Akpol) Irjen Pol Midi Siswoko SIK mengajak para Perwira Siswa (Pasis) Akpol untuk mengembalikan citra dan kepercayaan publik terhadap kepolisian dengan membangun integritas melalui refleksi Filsafat Kamera. Ajakan itu disampaikan dalam acara Penyamaan Persepsi Dewan Penguji dan Pembimbing Tugas Akhir Manuskrip Pasis Akpol 57/Batalyon Adhi Wiratama di Auditorium Paramartha Akpol, Semarang, Senin (20/10/2025), yang juga dihadiri Wagub Akpol Brigjen Pol Muhammad Taslim Chairuddin, para dosen dari Universitas Diponegoro dan Universitas Negeri Semarang, serta ratusan Pasis.

Dalam presentasinya berjudul Manajemen Media dan Tugas Kepolisian: Filsafat Sebuah Kamera, Irjen Pol Midi menekankan bahwa citra Polri kini tidak lagi dibentuk oleh kamera institusi, melainkan oleh jutaan kamera masyarakat. Menurutnya, kamera adalah alat yang menangkap cahaya, namun di tangan manusia ia menjadi alat penangkap makna. “Kamera hanya merekam cahaya. Kalau yang kita pancarkan adalah integritas, maka hasilnya akan tetap terang, meski direkam dari ruang yang gelap,” ujarnya. Ia menambahkan, gambar yang jernih lahir bukan karena alat yang hebat, melainkan karena sumber cahayanya murni.

Irjen Pol Midi menjelaskan tiga unsur penting dalam Filsafat Kamera sebagai prinsip manajemen media Polri, yaitu Lensa yang mewakili perspektif, Aperture yang berarti transparansi dan kecepatan, serta Fokus yang berkaitan dengan integritas dan konsistensi. Polisi, katanya, harus memahami lensa publik, menjaga kejernihan moral, dan menyesuaikan aperture komunikasi agar tetap dipercaya masyarakat. “Polri tidak harus berbicara paling cepat, tetapi harus berbicara paling bisa dipercaya,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa dalam dunia kepolisian, operator kamera adalah nurani—karena hati yang jernih akan memantulkan tindakan yang terang.

Sementara itu, Konsultan Komunikasi Strategis AM Putut Prabantoro dalam paparannya Redefining dan Manajemen Media menegaskan bahwa kepercayaan publik terhadap Polri hanya dapat diraih jika Tri Brata dan Catur Prasetya dijalankan tanpa kompromi. Ia menjelaskan, pusat kekuatan (center of gravity) Polri terletak pada poin kedua Tri Brata dan poin ketiga Catur Prasetya, yang menekankan penegakan hukum berdasarkan kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Menurut Putut, Polri perlu melakukan redefinisi dalam manajemen media mengingat kompleksitas komunikasi di era digital dengan beragam kanal dan generasi pengguna yang berbeda.

Putut menegaskan bahwa kekuatan Polri dalam membangun citra terletak pada kemampuan mengelola isu, konten, dan persepsi publik melalui media sosial secara cerdas. “Polri memiliki semuanya—SDM, jaringan, teknologi, dan finansial. Itu semua modal untuk membuat konten sesuai konteks, lalu dikomunikasikan lewat berbagai platform digital untuk menciptakan tone positif Polri,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa di era digital, komentar netizen bisa lebih tajam dari guillotine, sehingga setiap informasi harus disampaikan dengan kejujuran, konteks, dan empati agar membangun kepercayaan masyarakat secara berkelanjutan.

 

 

Komentar