Skincare Nggak Selalu Care: Fakta Hydroquinone
Oleh: Sekar Rahadifa Citra Yusifa | Mahasiswi D4 Analisis Kimia IPB University
ASKARA - Kulit adalah organ terluas dan paling sensitif pada tubuh manusia. Fungsinya bukan hanya sebagai pelindung, tetapi juga cermin kesehatan dan penunjang penampilan. Tak heran, banyak orang rela merogoh kocek demi merawat kulit agar tetap sehat dan bercahaya. Sayangnya, keinginan untuk tampil sempurna kerap dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
Produk skincare yang beredar di e-commerce sering dijadikan “jalan pintas” pengobatan tanpa pemeriksaan dokter. Celah ini dimanfaatkan pedagang nakal yang mencampurkan bahan kimia berbahaya tanpa pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Awalnya, produk semacam itu tampak manjur dan mendapat banyak ulasan positif. Padahal, alih-alih menyembuhkan, konsumen justru menumpuk masalah baru di kulit dan tubuh.
Realita Industri Skincare
Industri skincare kini sedang booming. Namun, di balik kepopulerannya tersimpan masalah serius: overclaim dan penggunaan bahan keras berbahaya.
Produk tanpa izin edar resmi seharusnya sudah membuat konsumen curiga, tetapi banyak orang tergiur janji hasil instan. Padahal, perbaikan kondisi kulit membutuhkan proses konsisten, bukan keajaiban semalam.
Permintaan akan hasil cepat membuat konsumen mencari produk yang “katanya” ampuh. Akibatnya, banyak yang berakhir dengan kerusakan kulit akibat skincare ilegal yang mengandung bahan keras. Produk semacam ini memang memberikan efek instan—tetapi justru pertanda awal kerusakan kulit.
Bahan Berbahaya yang Sering Dicampurkan
1. Merkuri (Hg)
Digunakan karena mampu memutihkan kulit dengan menghambat pembentukan melanin. Dampaknya sangat berbahaya: iritasi, bintik hitam, kerusakan ginjal, gangguan saraf, hingga kanker kulit (Walangitan, 2018).
2. Steroid Kuat
Steroid bekerja dengan menghambat fungsi vitamin D sehingga kulit menjadi tipis dan mudah terkikis. Kulit tampak lebih putih dalam waktu singkat, tetapi lapisan pelindung alami rusak dan rentan iritasi (Wahjuni et al., 2022).
3. Hidrokuinon (Hydroquinone)
Hidrokuinon dikenal sebagai pencerah kulit karena menghambat enzim tirosinase dalam produksi melanin. Bahayanya sering tak langsung terlihat. Penggunaan konsentrasi di atas 2% tergolong obat keras dan hanya boleh dipakai dengan resep dokter.
Efek samping: iritasi, kemerahan, sensasi terbakar, gangguan ginjal (nefropati), kanker darah (leukemia), hingga kanker hati (hepatoseluler adenoma). Penghentian mendadak juga dapat memperparah kondisi kulit (Adriani & Safira, 2018).
Kasus Nyata di Indonesia
BPOM secara rutin melakukan pengawasan dan penarikan produk kosmetik ilegal. Data terbaru menunjukkan:
16 produk kosmetik berbahaya teridentifikasi mengandung merkuri, hidrokuinon, asam retinoat, dan resorsinol (BPOM, 2025 – ANTARA Sumbar).
Januari 2024, BPOM menarik 43 produk kosmetik impor yang terbukti mengandung hidrokuinon, banyak di antaranya dijual bebas di e-commerce (FARMASI Universitas Jambi).
Februari 2025, BPOM melaporkan ribuan produk kosmetik ilegal beredar dengan kerugian ekonomi mencapai Rp31,7 miliar (Siaran Pers BPOM No. HM.01.1.2.02.25.75).
Data ini menegaskan bahwa skincare berbahaya adalah realita nyata, bukan sekadar isu kecil.
Regulasi dan Himbauan Keselamatan
Menurut Peraturan BPOM No. 23 Tahun 2019, hidrokuinon dilarang digunakan dalam kosmetik pencerah kulit. Penggunaannya hanya diperbolehkan dalam produk tertentu (misalnya pewarna kuku) dengan konsentrasi sangat rendah dan pengawasan ketat.
BPOM menegaskan, penggunaan hidrokuinon tanpa resep dokter dapat menyebabkan:
Iritasi, rasa terbakar, dan kemerahan.
Dermatitis melanositik iritan dan dermatitis kontak alergi.
Okronosis (hiperpigmentasi kebiruan permanen).
Kerusakan ginjal dan organ lainnya.
Bijak Memilih Skincare
Kesadaran konsumen adalah kunci utama untuk melindungi diri dari skincare ilegal.
✅ Gunakan hanya produk berizin edar BPOM.
✅ Baca label dengan cermat.
✅ Konsultasikan dengan dokter kulit untuk perawatan intensif.
Ingat, kulit sehat bukan hasil bahan keras berbahaya, melainkan perawatan konsisten, aman, dan teruji. Jangan tertipu skincare yang hanya tampak “care” di luar, tetapi diam-diam merusak kulit dari dalam.

Komentar