Iman Membutuhkan Kecerdikan Akal Budi
ASKARA - Ada sebuah pepatah sederhana tapi mengena: “ Kejujuran itu mahal, tapi lebih mahal lagi kalau kita kehilangan alam.”
dI Zaman di mana generasi milenial dan Gen Z—sering dituduh cuek atau hanya sibuk dengan dunia digital, namun, justru dalam tangan merekalah masa depan bumi ini dititipkan.
Dalam kisah seorang bendahara yang dikatakan tidak jujur, namun justru dipuji oleh tuannya karena kecerdikannya (Luk 116:1-13). Yesus tidak memuji kelicikannya, melainkan kepandaiannya menggunakan akal budinya untuk menyelamatkan dirinya.
Pesan yang kita tangkap: setiap orang harus bertanggung jawab atas apa yang dipercayakan kepadanya.
Nabi Amos (Am 8:4-7) bersuara lantang tentang kejahatan sosial: menindas orang kecil, berlaku curang dalam timbangan, dan mengeksploitasi. Ketidakadilan sosial ini juga bisa kita baca ulang dalam konteks zaman sekarang: ketika hutan digunduli, sungai dicemari, udara kotor, siapa yang paling menderita? Orang-orang kecil. Anak-anak desa yang airnya tercemar. Petani yang tanahnya rusak. Nelayan yang lautnya penuh sampah plastik.
Ekaristi yang kita rayakan hari ini bukan hanya roti dan anggur yang dipersembahkan di altar. Ekaristi adalah hidup baru. Kita semua adalah bendahara-bendahara Allah, yang dipercaya mengelola bumi ini. Pertanyaannya: sudahkah kita jujur dan bertanggung jawab dalam mengelola alam ini?
Pertobatan dimulai dari hal kecil. Jangan menunggu punya jabatan besar baru berbuat baik. Generasi muda bisa mulai dari tindakan sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hemat listrik, dan berani bersuara melawan ketidakadilan. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini akan membentuk budaya baru: budaya cinta lingkungan dan kejujuran dalam hidup.
Menjadi orang Katolik yang merayakan Ekaristi berarti bersedia berubah—berbalik dari cara hidup egois menuju cara hidup yang jujur, adil, dan peduli. Alam ini bukan milik kita semata, melainkan warisan yang harus diteruskan bagi anak-cucu dan generasi penerus bangsa.
Mari, belajar dari narasi Injil: gunakanlah akal budi dengan bijak, jadilah bendahara yang bertanggung jawab, dan hiduplah jujur dalam relasi dengan sesama dan alam ciptaan.
Jika hari ini kita bisa mulai dari langkah kecil—jujur dalam hal sederhana, peduli pada sampah yang kita hasilkan, hemat energi—maka kita sedang ikut membangun dunia yang lebih adil, lestari, dan indah. Itulah Ekaristi yang nyata: hidup baru yang bertanggung jawab di hadapan Tuhan dan sesama.
Salam sehat, berlimpah berkat
+ Rm Yos Bintoro, Pr

Komentar