Pernyataan Kontroversial Berujung Sanksi, Partai NasDem Pecat Ahmad Sahroni & Nafa Urbach
ASKARA – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem resmi menonaktifkan Ahmad Sahroni dari keanggotaan DPR RI Fraksi NasDem. Keputusan ini ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Surya Paloh dan Sekjen Hermawi Taslim.
Dalam siaran pers yang dirilis hari ini, Minggu (31/8/2025), NasDem menegaskan bahwa perjuangan politik harus berpijak pada aspirasi publik dan semangat kerakyatan. Langkah tegas ini diambil setelah keduanya dinilai melukai hati rakyat dan menyimpang dari semangat restorasi yang digaungkan partai.
NasDem menyatakan: “Terhitung sejak 1 September 2025, Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dinonaktifkan dari keanggotaan DPR RI Fraksi Partai NasDem.”
“Kami tidak mentolerir sikap yang merendahkan rakyat. Restorasi bukan hanya slogan, tapi komitmen Partai NasDem berdiri untuk memperjuangkan suara mereka, bukan mengabaikannya. ,” tegas Surya Paloh.
Sanksi juga dijatuhkan kepada Nafa Urbach, Bendahara Fraksi NasDem, yang dinilai tidak peka terhadap kondisi ekonomi masyarakat setelah menyatakan dukungan terhadap tunjangan rumah DPR sebesar Rp 50 juta.
Langkah ini bukan sekadar penegakan disiplin internal, tetapi juga sinyal kuat bahwa NasDem tidak akan kompromi terhadap penyimpangan nilai perjuangan.
NasDem juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya sejumlah warga dalam aksi unjuk rasa, termasuk Affan Kurniawan, driver ojol yang meninggal pada 28 Agustus. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa aspirasi rakyat bukan sekadar statistik, melainkan nyawa dan harapan yang harus dijaga.
“Aspirasi masyarakat adalah kompas perjuangan kami. Tidak boleh ada satu pun suara rakyat yang diremehkan,” tutup siaran pers tersebut.
Sahroni dikecam setelah menyebut para pengkritik DPR sebagai "mental manusia tertolol sedunia", sementara Nafa Urbach dinilai tidak sensitif saat mendukung tunjangan rumah DPR sebesar Rp 50 juta, di tengah tekanan ekonomi rakyat.
Sahroni sebelumnya telah dicopot dari jabatan Wakil Ketua Komisi III DPR dan dipindahkan ke Komisi I, sesuai surat bernomor F.NasDem.758/DPR-RI/VIII/2025.
Gelombang kritik terhadap DPR makin memuncak sejak demo besar 25–28 Agustus 2025, yang menuntut pembatalan kenaikan tunjangan. Emosi publik memuncak saat seorang driver ojol, Affan Kurniawan, tewas tertabrak rantis Brimob di Pejompongan.
Pemecatan Sahroni dan Nafa dianggap terlambat oleh sebagian pihak, namun tetap dilihat sebagai langkah penting NasDem untuk menjaga kredibilitas di mata rakyat. Warganet menyebut, “Lebih baik terlambat daripada terus membiarkan elit politik memaki rakyat yang bersuara.”

Komentar