Rabu, 22 Juli 2026 | 00:00
OPINI

Narasi Tropikal: Di Bawah Lintang, Di Bawah Sistem yang Membuat Keberlanjutan Kesenjangan

Narasi Tropikal: Di Bawah Lintang, Di Bawah Sistem yang Membuat Keberlanjutan Kesenjangan
Prof. Agus Pakpahan (dok.alumniipb)

Oleh: Prof. Agus Pakpahan, Pakar dan Inovator Pertanian

ASKARA - Di sabuk tropis dunia, matahari bersinar tegak lurus, tanah subur membentang, dan biodiversitas melimpah. Namun, dalam peta ekonomi global, wilayah tropis justru tampil sebagai zona ketimpangan. Mengapa kekayaan justru menjauh dari garis khatulistiwa?

Regresi linier berganda sederhana terhadap seluruh negara di dunia tahun 2024 menghasilkan persamaan:

GDP per Kapita = 1910.29 + 1847.53 Jarak dari Equator - 72.13 Kepadatan Penduduk

Model ini menjelaskan 86.3% variasi pendapatan per kapita antar negara (R-square). Artinya, dua variabel geografis—jarak dari equator dan kepadatan penduduk—secara sistemik membentuk distribusi kekayaan global. Semakin jauh sebuah negara dari khatulistiwa, semakin tinggi pendapatan per kapitanya. Sebaliknya, semakin padat penduduknya, semakin rendah pendapatannya.

Namun, angka-angka ini bukan sekadar statistik. Mereka adalah jejak sejarah. Negara-negara tropis adalah bekas koloni. Mereka dijarah atas nama kemajuan, dipetakan bukan untuk pembangunan, tapi untuk ekstraksi. Kepadatan penduduk yang tinggi bukanlah “masalah demografis,” melainkan warisan dari sistem yang memusatkan kekayaan di lintang tinggi dan menyisakan tekanan struktural di sabuk tropis.

Dari Regresi ke Kesadaran

Koefisien +1,847.53 bukan hanya angka—ia adalah simbol jarak historis antara pusat kekuasaan dan pinggiran tropikal. Koefisien –72.13 bukan sekadar statistik—ia adalah metafora tekanan ekologis dan sosial yang menumpuk di wilayah-wilayah yang paling padat dan paling dijarah.

Namun, ada anomali. Singapura, Qatar, dan Uni Emirat Arab melawan pola ini. Mereka menunjukkan bahwa tropikalitas bukan kutukan, melainkan potensi—jika disertai dengan kedaulatan, strategi, dan transformasi struktural. Mereka adalah bukti bahwa tropis bisa bangkit, jika sistemnya diubah.

Menuju Restorasi Tropikal

Narasi tropikal bukan hanya kritik terhadap ketimpangan, tapi juga panggilan untuk restorasi. Restorasi bukan hanya ekonomi, tapi juga epistemik—mengembalikan cara kita memahami dunia, dari pusat ke pinggiran, dari utara ke selatan, dari dominasi ke keberagaman.

Dengan data sebagai alat, dan sejarah sebagai konteks, kita bisa membangun kerangka advokasi tropikal yang tidak hanya menuntut keadilan, tapi juga menawarkan arah baru:  
- Bahwa kepadatan penduduk adalah kekuatan kolektif, bukan beban.  
- Bahwa lintang adalah panggung spiritual, bukan batas ekonomi.  
- Bahwa tropikanisasi adalah jalan restoratif—menghidupkan kembali nilai-nilai tropis yang telah lama dimiskinkan: keberagaman, regenerasi, dan kebersamaan.

Semoga,kondisi sosial-ekonomi bangsa-bangsa tropika, apabila kita membuat regresi yang sama pada tahun 2045 nanti, polanya sudah berubah: pendapatan per kapita sudah tinggi bagi bangsa-bangsa tropika dan terbebas dari jarak terhadap garis lintang dan kepadatan penduduk bukan lagi menjadi beban bangsa-bangsa tropika tetapi sudah menjadi modal utama kesejahteraan.

Komentar