Rabu, 17 Juni 2026 | 18:32
NEWS

Eko Patrio Balas Video Joget di DPR, Publik Melontarkan Kritik Pedas

Eko Patrio Balas Video Joget di DPR, Publik Melontarkan Kritik Pedas
Eko Patrio (screenshot IG bukan_fufupapa)

ASKARA – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eko Patrio, kembali menjadi sorotan usai akun media sosial "bukan fufufafa" mengunggah Anggota DPR RI itu berdiri di depan seolah menjadi disc jockey pada hari Selasa (19/08). 

Unggahan video dari akun "bukan fufufafa" tersebut bernarasi “Emang dasar gak tau malu. Dikritik masyarakat bukannya minta maaf malah perlihatkan bodohnya”

Video itu diduga merupakan respons atas video viral sebelumnya yang memperlihatkan aksi joget-joget di dalam gedung DPR/MPR Jakarta.

Dalam video tersebut, bertuliskan keterangan: “biar jogednya lebih keren pakai sound ini aja,” yang kemudian diiringi beberapa orang berjoget di depannya seolah-olah mengejek. 

Unggahan ini kontan menuai beragam komentar keras dari warganet.

Beberapa akun memberikan tanggapan tajam:

@dhyrga_88_ menulis: “Cari gara-gara yaa.”

@chaphoenk_doank berkomentar: “Para pahlawan dan pejuang yg gugur menangis melihat kelakuan anggota DPR yg tidak mempunyai rasa malu.”

@whaystress_ menegaskan: “Budayakan mikir sebelum bertindak.”

@pendekar9910 bahkan menyebut: “Pemilu depan kita nol kan suaranya.”

Publik menilai unggahan tersebut tidak menunjukkan sikap kenegarawanan, apalagi dilakukan oleh seorang wakil rakyat yang seharusnya memberi teladan.

Kritik yang muncul bukan sekadar menyoal aksi joget itu sendiri, melainkan soal sensitivitas anggota dewan terhadap marwah lembaga DPR sebagai simbol demokrasi.

Unggahan ini memperkeruh persepsi publik bahwa sebagian anggota DPR tidak mampu menjaga etika di ruang publik. Alih-alih meredam polemik, unggahan tersebut dianggap mempertegas citra DPR yang kerap abai terhadap kritik masyarakat.

Peristiwa ini menunjukkan jurang yang masih lebar antara perilaku wakil rakyat dan harapan masyarakat. Bagi sebagian publik, tindakan tersebut dianggap sebagai pelecehan simbolik terhadap kehormatan parlemen.

Komentar