Rabu, 17 Juni 2026 | 20:49
Ruang Menulis

Cerpen: Asal Tak Selingkuh, Semua Bisa

Cerpen: Asal Tak Selingkuh, Semua Bisa
Ilustrasi

ASKARA - Arini duduk di beranda rumah sambil memandangi halaman basah sehabis hujan. Udara sore terasa lembap, aroma tanah bercampur dengan harum bunga melati di pot tanah liat. Di pangkuannya, sebuah buku catatan harian terbuka. Ia menulis dengan tangan sedikit bergetar, seakan ingin meneguhkan sesuatu yang berulang kali ia bisikkan pada dirinya sendiri:

"Prinsipku kalau urusan hubungan, asal gak selingkuh, semuanya masih bisa diperbaiki."

Kalimat itu bukan sekadar mantra. Ia adalah perisai, sekaligus pembenaran, yang sudah bertahun-tahun Arini gunakan untuk menjaga agar rumah tangganya tidak runtuh.

Bayu, suaminya, bukan orang jahat. Ia pekerja keras, penuh tanggung jawab. Tapi ia juga manusia dengan segala kekurangannya. Bayu sering pulang larut malam, bukan karena mabuk atau bermain dengan perempuan lain, melainkan karena pekerjaan di kantornya menuntut banyak hal. Kadang ia pulang dengan wajah letih, kadang tanpa sepatah kata pun.

Arini, di sisi lain, terbiasa dengan sepi. Ia belajar menyibukkan diri dengan mengajar les privat, membaca buku, atau menonton serial lama. Setiap kali hati mulai resah, ia kembali mengingat prinsipnya: selama Bayu tidak selingkuh, semua ini bisa diperbaiki.

Dan memang benar. Setelah pertengkaran kecil atau dinginnya malam tanpa percakapan, mereka selalu menemukan cara untuk saling tersenyum lagi, walau sederhana sekedar secangkir teh hangat di meja makan, atau obrolan ringan tentang kabar tetangga.

Suatu sore, saat hujan deras mengguyur, listrik padam. Bayu yang baru pulang kerja menyalakan lilin. Cahaya temaram membuat wajahnya terlihat jauh lebih tua. Arini menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Kita baik-baik saja, kan, Mas?”

Bayu terdiam, lalu mengangguk. “Kita baik-baik saja, Rin.”

Jawaban itu cukup. Selama bertahun-tahun, kata-kata sederhana seperti itu sudah menjadi jangkar Arini. Ia tidak pernah menuntut lebih. Tidak ada pesta kejutan ulang tahun, tidak ada liburan romantis. Ia hanya ingin rumah tangga mereka tetap utuh.

Namun, seiring waktu, Arini mulai merasakan sesuatu yang tak bisa ia sebutkan dengan jelas. Bukan selingkuh. Bayu tidak pernah memberi tanda-tanda mengkhianati secara fisik atau hati dengan orang lain. Tapi ada jarak yang tumbuh, tak kasat mata, makin hari makin lebar.

Bayu jarang bertanya kabar tentang hidupnya, tentang harapannya, tentang mimpinya. Semua obrolan hanya seputar pekerjaan atau kebutuhan rumah tangga. Kadang, saat Arini menceritakan hal-hal kecil yang ia alami di kelas les, Bayu hanya mengangguk tanpa benar-benar mendengar.

Malam-malam panjang Arini semakin sunyi. Ia kembali berpegang pada prinsipnya: asal tidak selingkuh, semua ini masih bisa diperbaiki.

Suatu malam, Arini menemukan Bayu duduk sendirian di ruang tamu. Laptop terbuka, ratusan angka dan grafik bertebaran di layar. Di meja, berserakan tumpukan kertas. Wajah Bayu terlihat tegang.

“Mas, sudah jam dua belas. Tidur, yuk,” ajaknya lembut.

Bayu hanya menjawab pendek, “Tidur duluan, Rin. Aku masih banyak kerjaan.”

Arini mengangguk, meski hatinya menegang. Ia tak pernah tahu pekerjaan apa yang membuat Bayu harus begadang seperti itu. Tapi ia menahan diri, berpegang pada prinsip: asal tidak selingkuh, semua ini bisa diperbaiki.

Waktu terus berjalan. Arini mendapati Bayu semakin larut dalam dunia yang tidak bisa ia pahami. Hingga suatu hari, seorang petugas bank datang membawa surat pemberitahuan.

“Mohon maaf, Bu. Rumah ini sudah masuk daftar sita. Ada tunggakan pinjaman besar yang belum dilunasi.”

Arini tercengang. Ia tak pernah tahu menahu soal utang. Segera ia menunggu Bayu pulang malam itu. Saat pintu terbuka, ia langsung menodong dengan pertanyaan:

“Mas… apa maksud semua ini? Rumah kita mau disita?”

Bayu terdiam lama. Matanya sayu, tubuhnya limbung. “Aku… aku sudah lama berutang, Rin. Untuk menutup kerugian bisnis yang gagal. Aku tidak ingin kau tahu, aku pikir bisa kukejar lagi lewat kerjaan di kantor. Tapi malah semakin dalam.”

Arini gemetar. “Kenapa tidak bilang? Kenapa sembunyikan?”

Bayu menunduk. “Aku takut kau kecewa. Aku tidak mau kau pergi. Tapi… aku salah. Aku sudah menipu kepercayaanmu.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, Arini menangis keras.

Selama ini ia berpikir, hanya perselingkuhan yang bisa merobohkan sebuah hubungan. Tapi kenyataannya, pengkhianatan tidak selalu berupa cinta kepada orang lain. Pengkhianatan bisa berupa kebohongan, bisa berupa ketidakjujuran yang ditutupi rapat hingga membuat fondasi rumah tangga runtuh pelan-pelan.

Ia mengingat lagi prinsip yang selama ini ia genggam erat: asal tidak selingkuh, semua masih bisa diperbaiki.

Kini, ia sadar, prinsip itu terlalu sempit. Luka yang diberikan oleh kebohongan ternyata sama pedihnya, bahkan mungkin lebih, dibanding pengkhianatan cinta.

Beberapa bulan setelah rumah mereka dijual untuk menutup utang, Arini duduk lagi di beranda rumah kontrakan baru yang lebih kecil. Di pangkuannya, buku catatan harian terbuka. Ia menulis dengan tangan mantap:

"Prinsipku kalau urusan hubungan: asal jujur, semua masih bisa diperbaiki."

Ia menutup buku itu dengan senyum pahit. Bukan selingkuh yang merobek hatinya, melainkan dusta.

Keesokan harinya, Arini mendapat telepon. Suara di ujung sana bergetar, “Bu… saya ingin minta maaf. Suami Ibu ternyata punya keluarga lain. Ia menjaminkan rumah Ibu untuk kebutuhan kami.”

Catatan harian Arini terjatuh dari pangkuannya. Dunia berputar. Prinsip yang selama ini ia pegang dan baru saja ia ubah ternyata kembali dipatahkan dengan cara yang lebih menusuk. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar