Antara Jurnalis dan Ketua RT, Keduanya Bertemu Pada Satu Titik: Kejujuran adalah Harga Mati
Oleh: Shendy Marwan
ASKARA – Menjadi seorang jurnalis adalah panggilan untuk menangkap fakta, menyampaikan kebenaran, dan memberikan pencerahan kepada publik.
Namun, ketika seorang jurnalis sekaligus dipercaya masyarakat sebagai Ketua RT, ada amanah ganda yang harus dijalankan, amanah pena dan amanah kepemimpinan.
Sebagai jurnalis, tugasnya adalah kritis, independen, bahkan sering kali berhadapan dengan berbagai kepentingan.
Namun sebagai Ketua RT, dituntut untuk menjadi pengayom, menjaga kerukunan, dan mencari solusi bersama tanpa menimbulkan perpecahan.
Dua peran ini kerap menimbulkan dilema. Ketika harus menulis dengan objektif, tapi juga memikirkan bagaimana tulisannya berimbas pada harmoni di lingkup kecil masyarakat.
Menangkap sebuah berita sebagai jurnalis tentu berbeda dengan menangkap aspirasi warga sebagai Ketua RT.
Pena bisa menjadi senjata untuk mengkritisi, tetapi telinga harus tetap peka untuk mendengar keluh kesah warga.
Menjadi Ketua RT berarti transparan soal dana, kegiatan, dan kebijakan kecil yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.
Sementara sebagai jurnalis, transparansi itu juga diwujudkan dalam kejujuran karya tulis. Pada akhirnya, keduanya bertemu pada satu titik, kejujuran adalah harga mati.
Tidak mudah memang, tapi inilah bentuk nyata kemerdekaan. Berani bersuara, namun juga bijak menjaga kebersamaan.
Karena pada hakikatnya, baik pena maupun kepemimpinan, sama-sama alat untuk mengabdi pada masyarakat.

Komentar