Wisata Pasir Langlang Panyawangan Dikelola Bersama, Perhutani Gandeng Koperasi Giri Pusaka
ASKARA - Di tengah upaya penguatan pariwisata berbasis alam dan kemitraan produktif, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Koperasi Jasa Giri Pusaka Purwakarta. Kolaborasi ini terkait pengelolaan Wisata Pasir Langlang Panyawangan, yang terletak di kawasan hutan Petak 68a, RPH Wanayasa, BKPH Cisalak, Dusun Pasirmuncang, Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta.
Penandatanganan dilakukan belum lama ini dengan dihadiri Kepala Seksi Pembinaan Sumber Daya Hutan dan Kemitraan Produktif, Deni Permana, serta pejabat lainnya dari Perhutani dan Koperasi Giri Pusaka.
Administratur KPH Bandung Utara, Dedy SJ Mulyanto, menyambut baik kerja sama ini dan menyatakan komitmennya untuk mendukung pengembangan Pasir Langlang Panyawangan sebagai destinasi wisata tematik yang mengandalkan keindahan alam dan wahana rekreasi sebagai daya tarik utama.
“PKS ini adalah bentuk kepastian hukum agar pengelolaan wisata berjalan sesuai regulasi Perum Perhutani. Masa berlaku kerja sama enam bulan melalui skema Kemitraan Kehutanan Perhutani Produktif (KKPP), dan akan dievaluasi untuk perpanjangan,” ujarnya, Selasa (5/8).
Wisata Pasir Langlang Panyawangan dikenal dengan suasana sejuk khas pegunungan dan panorama hutan pinus yang menyegarkan. Kawasan ini berpotensi menjadi ikon baru wisata alam Purwakarta dengan pendekatan kolaboratif.
Ketua Koperasi Jasa Giri Pusaka, Dede Warsid, menegaskan keterbukaan pihaknya terhadap partisipasi Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) yang berada di sekitar kawasan. “Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi LMDH untuk terlibat dalam pengembangan wisata, termasuk dalam aspek ide, dukungan keamanan, dan kegiatan pemberdayaan lainnya,” ungkapnya.
Melalui kerja sama ini, diharapkan terbangun model pengelolaan wisata berbasis kemitraan yang tidak hanya memperkuat kelembagaan masyarakat lokal, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi yang merata.
Kolaborasi antara pelestarian hutan dan pariwisata berbasis masyarakat membuka jalan bagi model pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.

Komentar