Mencari Kebenaran di Keheningan Malam
ASKARA - Kita hidup di zaman yang penuh hiruk-pikuk dan kebisingan informasi. Lingkungan rusak, bumi makin panas, laut tercemar, pemukiman penduduk pesisir digenangi rob, kualitas udara perkotaan tercemar polusi, pembuangan sampah bertumpuk tanpa solusi berarti. Di balik semua itu—ada keserakahan manusia.
Manusia modern menjadi terlalu sibuk mengejar materi, terlalu rakus menimbun kekayaan, terlalu tergesa untuk menikmati dunia, sampai lupa: hidup ini fana.
Kitab Keijaksanaan menyuarakan jeritan hati manusia: “Kesia-siaan belaka. Segalanya sia-sia.” Raja Salomo yang bijak saja menyadari—sebanyak apa pun kekayaan, setinggi apa pun jabatan, semuanya akan berlalu. Mati tak bawa apa-apa.
Surat Paulus pada Jemaat di Kolose menegaskan: “Carilah perkara yang di atas.” Hidup bukan soal punya apa, tapi jadi siapa di hadapan Allah. Maka kita diajak berhenti sejenak. Diam. Masuk dalam hening. Di sanalah kita temukan arah hidup yang sejati.
Santo Lukas mengingatkan kita lewat perumpamaan orang kaya yang mengira bisa hidup tenang karena gudangnya penuh. Tapi Tuhan berkata: “Malam ini juga nyawamu diambil.” Apa gunanya harta, jika hidup tak berdasar pada Allah?
Di sinilah keheningan menjadi sangat penting. Alam bukan sekadar latar belakang hidup kita. Alam adalah rumah bersama, tempat kita merenung, mendengar suara Tuhan, dan menyadari bahwa hidup adalah anugerah, panggilan, dan perutusan.
Belajar dari berbagai kegiatan retret Kaum Muda di alam pegunungan dan Camping Rohani liburan akhir tahun pelajaran, tersimpul satu benang merah yang kuat: keheningan alam membuka mata iman kita. Dalam sunyi saat menikmati sejuknya hawa pegunungan dan rindangnya pepohonan, orang muda menemukan kembali Allah yang hidup. Keheningan menyadarkan bahwa kita ini kecil, tetapi dicintai.
Mari kita jadikan pribadi yang mengabdi pada Panji Kristus yang peduli pada bumi.
Bangun Gerakan Peduli Lingkungan bukan karena sedang tren, tapi karena itu wujud iman kita. Merawat bumi adalah bagian dari hidup rohani. Hidup selaras dengan alam berarti hidup selaras dengan kehendak Allah.
Mari kita belajar hening. Mengurangi bising. Membuka telinga hati. Karena justru di tengah sunyi, kita mendengar Allah bicara. Di situlah kita menemukan kebenaran sejati.
Karena buah-buah keheningan adalah kerendahan hati, peka pada derita sesama dan semesta, lebih menyala dalam cinta pada Allah.
Dunia yang rapuh ini menunggu para laskar Kristus berjalan bersama, memulihkan bumi, dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia.
Salam sehat, berlimpah berkat
+ Rm Yos Bintoro, Pr

Komentar