Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:25
NEWS

Reuni atau Rekayasa? Kejanggalan demi Kejanggalan di Balik 'Kepulangan' Jokowi ke UGM

Reuni atau Rekayasa? Kejanggalan demi Kejanggalan di Balik 'Kepulangan' Jokowi ke UGM
Ilustrasi kasus yang melibatkan Jokowi (AI-Anrico)

ASKARA - Di tengah gelombang skeptisisme publik terhadap keaslian ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, muncul momen yang seolah ingin membalikkan keadaan: reuni angkatan 1980 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Terjadi pada Sabtu, 26 Juli 2025—acara itu digadang-gadang sebagai ajang nostalgia. Tapi, alih-alih membawa kesejukan, yang muncul justru serentetan kejanggalan yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Pertanyaannya: apakah ini reuni tulus penuh kenangan, atau panggung simbolik yang penuh rekayasa?

Mulyono alias Wakidi: Saksi atau Aktor Figuran?

Drama ini dimulai dengan kemunculan sosok "saksi kunci" bernama Mulyono, yang mengaku sebagai teman seangkatan Jokowi. Namun identitasnya segera menjadi bahan perdebatan sengit di jagat maya. Dokter Tifa, salah satu kritikus paling vokal, menyebut Mulyono tak lebih dari "Wakidi" — calo bus dari Terminal Tirtonadi, Solo.

Tudingan ini bukan sekadar guyonan. Beberapa cuplikan video menunjukkan Mulyono menyebut dirinya berasal dari jurusan “Ekonomi Manajemen UGM”—sebuah kesalahan fatal, mengingat Jokowi sendiri berasal dari Fakultas Kehutanan. Ditambah lagi, caranya berbicara terkesan ‘menghafal’—tidak natural seperti seseorang yang benar-benar pernah kuliah bersama.

Jika benar, siapa sebenarnya Mulyono? Dan bagaimana ia bisa tampil di acara resmi kampus sebagai ‘teman seangkatan’ presiden?

Bus Kuning dan Rombongan Misterius

Yang juga mencuri perhatian adalah rombongan "teman-teman Jokowi" yang datang menumpangi satu bus kuning. Bukannya datang sendiri-sendiri sebagaimana lazimnya reuni alumni, mereka muncul seragam, seperti rombongan undangan.

Apakah mereka benar alumni? Atau hanya rombongan yang ‘dikoordinasi’ untuk mengisi kursi dan kamera?

Publik berhak bertanya, karena dalam reuni sesungguhnya, hubungan emosional dan keakraban tidak bisa dibuat-buat. Dan suasana dalam video yang beredar terasa janggal: interaksi terlihat canggung, nyaris tanpa chemistry.

Ijazah yang Tak Pernah Reda

Jokowi memang sempat melontarkan candaan soal ijazahnya di depan para hadirin.

"Eh, jangan senang dulu lho. Karena ijazah saya masih diragukan,” katanya, diikuti tawa dari kerumunan.

Nmun di balik kelakar itu, fakta pahit tetap menggantung di udara. Pakar telematika Roy Suryo menyebut momen ini “tidak mengubah hipotesis apapun.” Bahkan, ia menantang Presiden untuk menunjukkan skripsi dan pembimbingnya secara terbuka.

Masalahnya, nama Ir. Kasmudjo yang disebut sebagai dosen pembimbing, justru diklaim oleh Roy sudah membantah pernah membimbing Jokowi. Jadi, jika dosen pembimbing pun tak bisa diverifikasi, darimana ijazah itu berasal?

Ketika Banyak Alumni Justru Tidak Mengenal Jokowi

Ahli digital forensik Rismon Sianipar menambahkan bahan bakar ke api kontroversi. Ia mengaku menerima banyak email dari alumni UGM angkatan 1980 dan 1985 yang menyatakan tidak pernah mengenal Jokowi sebagai teman seangkatan.

Ini bukan hal sepele. Di era kampus 1980-an, mahasiswa Fakultas Kehutanan masih berjumlah ratusan, bukan ribuan. Mustahil seseorang bisa ‘terlupakan’ sepenuhnya oleh rekan-rekannya — apalagi jika ia kelak menjadi Presiden Republik.

Kedatangan Seperti Pejabat, Bukan Alumni

Roy Suryo juga menyoroti gaya Jokowi yang dinilai datang seperti pejabat kunjungan dinas, bukan alumni yang ingin bernostalgia. Jokowi hanya muncul sebentar di kampus, dengan pakaian berbeda dari alumni lainnya, dan tidak menghadiri acara utama di Wanagama.

Pertanyaannya, jika reuni ini benar-benar penting secara emosional, mengapa Jokowi hanya datang sejenak dan tidak ikut berkumpul seperti yang lain?

Upaya Merakit Narasi atau Klarifikasi yang Gagal?

Bagi sebagian pihak, reuni ini jelas dimaksudkan sebagai simbol bahwa Jokowi adalah alumni sah UGM. Namun bagi pengamat skeptis, peristiwa ini justru semakin memperkuat dugaan bahwa narasi sedang "dirakit", bukan dibuktikan.

Seorang alumni, Mustoha Iskandar, memang sempat membela Jokowi dan menyatakan siap menjadi saksi di pengadilan jika dibutuhkan. Tapi satu-dua pembelaan personal belum cukup menutup celah yang terbuka lebar—apalagi ketika yang dipertaruhkan adalah kredibilitas akademik seorang mantan kepala negara.

Reuni Ini Menjawab Apa?

Opini publik saat ini ibarat skala Richter. Setiap guncangan kecil akan menggema luas. Dan alih-alih meredam, reuni Jokowi di UGM justru membuka lebih banyak ruang tanya daripada memberikan jawaban pasti.

Apakah ini hanya reuni biasa yang dibaca terlalu jauh oleh publik? Atau, justru ini adalah bagian dari upaya sistematis untuk mengaburkan masalah yang lebih besar?

Satu hal yang pasti: publik tidak bisa dibohongi oleh simbol. Mereka menuntut bukti.
"Kebenaran tak butuh drama. Ia hanya butuh dibuktikan.”

 

 

Komentar