Rabu, 17 Juni 2026 | 22:12
NEWS

Ngaji Bareng Online, Prof. Rokhmin: Jika Islam Diamalkan Secara Kaffah, Bangsa Ini Akan Jaya

Ngaji Bareng Online, Prof. Rokhmin: Jika Islam Diamalkan Secara Kaffah, Bangsa Ini Akan Jaya
Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS (ist)

ASKARA - Rektor Universitas UMMI Bogor, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., menegaskan bahwa kunci keberhasilan hidup manusia, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa, terletak pada penerapan tiga pilar utama ajaran Islam: Iman, Syariah, dan Ihsan (Akhlak Mulia).

“Api Islam ada pada tiga pilar: iman, syariah, dan ihsan. Kalau kita menerapkannya dalam hidup sehari-hari, insya Allah kita akan selamat dan bahagia di dunia maupun akhirat,” ujar anggota Komisi IV DPR RI tersebut dalam acara Ngaji Bareng Online yang digelar via Zoom Meeting, Ahad (27/7).

Dengan kalimat ini, ia menyalakan obor pemikiran yang menyatukan spiritualitas dan solusi kehidupan nyata, sekaligus menjadi jawaban atas kompleksitas zaman.

Beliau menegaskan: kunci sukses dan bahagia dunia akhirat bukanlah kekuasaan, teknologi, atau kelimpahan materi semata, melainkan penerapan total tiga ilmu pokok:

1. Iman (Ilmu Tauhid):

Prof. Rokhmin menekankan bahwa setiap manusia telah dibekali keimanan oleh Allah SWT sejak lahir (QS. Al-A’raf: 172), dan rukun iman menjadi fondasi spiritual yang tak tergantikan.

2. Syariah (Ilmu Fiqih)

Syariah tidak hanya mengatur hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, tapi juga horizontal—dengan sesama manusia, diri sendiri, dan lingkungan (QS. Al-Maidah: 44-49).

3. Ihsan (Ilmu Tasawuf)

Inilah dimensi akhlak dan kemuliaan karakter. Shiddiq, amanah, fathonah, sabar, syukur, hingga teguh melawan kemaksiatan adalah karakter yang harus dihidupkan.

“Jika ketiga pilar itu kita aplikasikan, maka kita tidak hanya sukses duniawi, tapi juga dijauhkan dari siksa akhirat, dan menjadi penghuni surga (QS. Al-Imran: 133). Bahkan, Indonesia bisa menjadi Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur," ujarnya.

Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University itu juga menyoroti berbagai krisis yang mengancam dunia dan Indonesia saat ini: dari kemiskinan, krisis iklim, ketimpangan ekonomi, hingga dekadensi moral dan disrupsi teknologi. 

“Semua itu hanya bisa diatasi jika umat kembali pada ajaran Islam yang kaffah,” tegasnya.

Namun, dunia kini menghadapi badai besar:  
▪ Pengangguran, kelaparan, stunting.  
▪ Ketimpangan ekonomi.  
▪ Krisis ekologis dan iklim.  
▪ Konflik geopolitik dan perang dagang.  
▪ Kemaksiatan, kriminalitas, dan disrupsi teknologi.

Dalam kerusakan global ini, Prof. Rokhmin mengajak umat dan bangsa untuk menjadikan Iman, Syariah, dan Ihsan bukan sekadar wacana—tetapi solusi nyata yang membentuk manusia paripurna dan peradaban rahmatan lil ‘alamin.

Dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Pakar GESID itu menyoroti beberapa permasalahan utama dunia dan Indonesia, terutama terkait dengan pembangunan berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam. 

1. Pengangguran, kemiskinan, kelaparan, stunting, dan gizi buruk.
2. Ketimpangan kaya vs miskin (economic inequality).
3. Triple ecological crises: Pollution (pencemaran); Biodiversity Loss (penurunan
atau kehilangan keanekaragaman hayati); dan Global Climate Change
(Perubahan Iklim Global) beserta segenap dampak negatipnya seperti
gelombang panas, peningkatan permukaan laut, ocean acidification, cuaca
ekstrem, banjir, dan lainnya.
4. Ketegangan geopolitik: perang Rusia vs Ukraina, genosida Palestina oleh Israel,
perang Thailand vs Kamboja, dan konflik maritim di Laut Tiongkok Selatan, dll.
5. Perang dagang antara AS vs the rest of the world.
6. Kemaksiatan dan kriminalitas semakin massif dan merebak.
7. Disrupsi teknologi, khususnya teknologi Industry 4.0: digital, Big Data, IoT, AI, 
Blockchain, drone, robotics, bioteknologi (genetic engineering), dan 
nanoteknologi.

Menteri Kelautan dan Perikanan-RI 2001 – 2004 itu itu memaparkan, sejak Revolusi Industri pertama pada tahun 1750-an, paradigma pembangunan arus utama (Kapitalisme) telah mendorong pertumbuhan ekonomi dunia secara sangat pesat, yaitu sebesar 3–4% per tahun—dari Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar US$ 0,45 triliun per tahun menjadi US$ 100 triliun per tahun pada 2019 (Sach, 2015; Bank Dunia, 2020).

Sebelum tahun 1930-an, sebagian besar negara di dunia tergolong miskin. Sejak saat itu, jumlah dan persentase penduduk miskin dunia terus mengalami penurunan (Sach, 2015).  

Pada tahun 2015, terdapat 55 negara berpendapatan tinggi (34 negara OECD dan 21 negara non-OECD) dengan PDB per kapita > US$ 11.750, 103 negara berpendapatan menengah (PDB per kapita antara US$ 2.000 – 11.750), dan 36 negara berpendapatan rendah (PDB per kapita < US$ 2.000).  

Kapitalisme telah melahirkan kemajuan teknologi yang luar biasa melalui rangkaian Revolusi Industri (RI-1 hingga RI-4) yang membuat kehidupan manusia menjadi lebih sehat, mudah, cepat, dan nyaman.

"Namun, Kapitalisme telah gagal mengangkat warga dunia dari kemiskinan dan kelaparan. Sebelum pandemi Covid-19 pada Desember 2019, sekitar 1,3 miliar orang masih hidup dalam kemiskinan, dan 700 juta mengalami kelaparan," tegasnya  mengutip World Bank, 2020.

Kemudian, lanjut Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) itu, akibat pandemi Covid-19, perang Rusia vs Ukraina, konflik Israel vs Palestina, serta meningkatnya ketegangan geopolitik (terutama antara AS dan Tiongkok), dunia dihadapkan pada krisis pangan dan energi, inflasi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Sebagai konsekuensinya, jumlah penduduk miskin di dunia kini mencapai 3 miliar orang, dengan 1,5 miliar tergolong miskin ekstrem, dan 1 miliar mengalami kelaparan (World Bank dan UNDP, 2022).

Lebih dari dua miliar orang di seluruh dunia menghadapi ketidakamanan pangan, yang didefinisikan sebagai ketidakpastian dalam akses terhadap jumlah makanan yang cukup untuk kehidupan yang sehat. 

"Jumlah penduduk dunia yang mengalami ketidakamanan pangan terus meningkat—bertambah sekitar 300 juta orang sejak tahun 2014," sebutnya.

Kawasan Asia-Pasifik menempati peringkat kedua tertinggi dalam prevalensi ketidakamanan pangan, dengan 48% populasi dinyatakan mengalami ketidakamanan pangan.

Pada tahun 2020, 2 miliar orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air minum, 3,6 miliar orang (45% populasi global) tidak memiliki toilet di rumah, dan 2,3 miliar orang tidak memiliki fasilitas mencuci tangan di rumah—kondisi sanitasi yang buruk ini menjadi pemicu berbagai penyakit (UN, 2020).

Kondisi ini sangat jauh dari target ambisius yang ditetapkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) oleh PBB pada tahun 2015, salah satunya adalah: “Menjamin akses air bersih dan sanitasi yang layak bagi semua pada tahun 2030.”

Lebih jauh lagi, kapitalisme juga menjadi akar dari semakin lebarnya kesenjangan ekonomi—baik antar individu maupun antar negara. Sistem ini telah menciptakan jurang yang semakin dalam antara si kaya dan si miskin, memperkuat ketimpangan struktural yang sulit dijembatani.

Fakta Ketimpangan Ekonomi Dunia yang Mencengangkan

Pada tahun 2010, 388 orang terkaya di dunia memiliki kekayaan lebih besar daripada separuh populasi dunia (yakni 3,3 miliar orang). Namun pada tahun 2017, jumlah kelompok super-kaya yang memiliki kekayaan melebihi separuh populasi dunia menyusut drastis menjadi hanya 8 orang saja. Ketimpangan ekstrem ini terjadi bukan hanya antar negara, tetapi juga di dalam negara itu sendiri.

Saat ini, negara-negara maju (kaya) yang hanya mencakup 18% dari populasi dunia, justru mengonsumsi sekitar 70% energi global. Ironisnya, 87% dari energi tersebut berasal dari bahan bakar fosil, yang merupakan penyebab utama pemanasan global dan krisis iklim yang kita hadapi saat ini.

Kemiskinan dan Kelaparan: Ancaman yang Tak Kunjung Reda

"Bank Dunia (2022) memproyeksikan bahwa tanpa upaya serius untuk mengatasi ketimpangan, tingkat kemiskinan global tidak akan kembali ke level sebelum krisis bahkan hingga tahun 2030," ujar Duta Kehormatan (Honorary Ambassador) untuk Pulau Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan itu.

Selain kematian akibat kurangnya akses layanan kesehatan, kemiskinan juga membunuh melalui kelaparan. Selama beberapa dekade, kematian akibat kelaparan telah menjadi konsekuensi nyata dari kemiskinan. Menurut Oxfam (2022), setidaknya 5.773 orang meninggal setiap hari karena kelaparan.

Kapitalisme, Krisis Ekologis, dan Ancaman terhadap Kemanusiaan

Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa keserakahan manusia dan orientasi maksimalisasi keuntungan, sebagai prinsip dasar Kapitalisme, telah mendorong eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam dan pelepasan limbah serta gas rumah kaca (GRK) secara masif ke lingkungan. Akibatnya, dunia kini menghadapi tiga krisis ekologis besar: Perubahan Iklim Global, Kehilangan Keanekaragaman Hayati, Pencemaran Lingkungan.

"Jika tiga krisis ekologis ini tidak segera ditangani secara serius dan cepat, maka bukan hanya pembangunan ekonomi yang terancam—kelangsungan hidup umat manusia pun berada dalam bahaya," ujar Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se Indonesia) itu.

Selain itu, pengangguran, kemiskinan, kelaparan, ketimpangan ekonomi yang semakin melebar, dan ketidakadilan sosial telah menjadi akar dari radikalisme, kerusuhan, dan terorisme.  

Menurut Muhammad Yunus, jelasnya , sistem ekonomi saat ini telah gagal menciptakan dunia yang bebas dari kemiskinan dan pengangguran, dan justru memperparah ketimpangan serta kerusakan lingkungan.  

"Oxfam juga menyoroti bahwa ketimpangan ekstrem dan kemiskinan struktural menjadi pemicu ketidakstabilan sosial dan kekerasan," kata Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional untuk Pusat Pengembangan Pesisir dan Kelautan, Universitas Bremen, Jerman itu.

Komentar