Senin, 15 Juni 2026 | 17:33
NEWS

Iran Nyaris Mendidih! Gelombang Panas 50°C Lumpuhkan Air dan Listrik, Teheran Terancam Kolaps!

Iran Nyaris Mendidih! Gelombang Panas 50°C Lumpuhkan Air dan Listrik, Teheran Terancam Kolaps!
Ilustrasi gelombang panas (Dok Anrico)

ASKARA - Iran tengah dihantam gelombang panas ekstrem yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern negara itu. Suhu yang melonjak hingga di atas 50 derajat Celsius melumpuhkan pasokan air dan listrik di berbagai wilayah, termasuk ibu kota Teheran.

Melansir kantor berita AFP, gelombang panas mulai melanda sejak Jumat (18/7/2025) dan diperkirakan baru akan mereda pada Kamis mendatang. Setidaknya 18 dari 31 provinsi Iran terdampak, termasuk wilayah metropolitan Teheran. Kantor-kantor pemerintahan di sedikitnya 10 provinsi ditutup pada Rabu demi menghemat energi dan air.

Menurut laporan media pemerintah pada Selasa (22/7), permukaan air di bendungan utama yang menyuplai kebutuhan jutaan warga telah anjlok ke titik terendah dalam satu abad terakhir. Krisis ini diperparah oleh musim kering terparah dalam 60 tahun terakhir, yang membuat curah hujan merosot drastis.

Di wilayah selatan dan barat daya, termometer menunjukkan angka mencengangkan: di atas 50°C. Sementara itu, Teheran untuk pertama kalinya tahun ini mencatat suhu di atas 40°C. Kondisi ini menyebabkan pemadaman air di berbagai distrik, memicu keluhan publik dan kepanikan warga.

Perusahaan Air Provinsi Teheran bahkan menyarankan warga menggunakan tangki dan pompa sebagai solusi darurat. Sementara itu, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam pernyataan pada Minggu lalu menyebut krisis ini lebih gawat dari yang selama ini dibicarakan.

"Krisis air lebih serius daripada yang dibicarakan. Jika tren ini terus berlanjut, kita akan menghadapi situasi di masa depan yang tidak dapat ditemukan solusinya," tegasnya.

Pezeshkian juga memperingatkan bahwa kebijakan sementara seperti memindahkan air dari daerah lain ke Teheran bukanlah solusi jangka panjang.

Kondisi cuaca ekstrem ini datang di tengah tekanan ekonomi yang sudah menghimpit rakyat Iran, dengan inflasi tinggi dan ketegangan politik yang belum mereda. Gelombang panas yang melumpuhkan air dan listrik kini menjadi ujian berat bagi stabilitas pemerintahan di negeri para mullah itu.

 

 

Komentar