Kamis, 04 Juni 2026 | 07:17
NEWS

Haedar Nashir: Stop Bullying di Sekolah

Haedar Nashir: Stop Bullying di Sekolah
Haedar Nashir

ASKARA - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa tidak ada anak yang bodoh, hanya tingkat kecerdasannya berbeda. Dalam program “Pak Ketum Menyapa” yang digelar secara daring oleh Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, ia menyerukan larangan keras terhadap segala bentuk perundungan, baik karena intelektualitas maupun kondisi ekonomi, di lingkungan sekolah Muhammadiyah.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, kembali menekankan pentingnya membangun iklim pendidikan yang sehat dan berakhlak di lingkungan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Dalam sambutannya pada program Pak Ketum Menyapa yang diselenggarakan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah secara daring pada Senin (21/7), Haedar menyoroti persoalan klasik yang masih membayangi dunia pendidikan: perundungan atau bullying.

"Tidak ada anak manusia yang bodoh, semuanya pintar. Tapi kepintaran dan kecerdasannya itu berbeda-beda," ujar Haedar dengan tegas saat menyapa para peserta didik baru.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar untuk menumbuhkan kesadaran sejak dini bahwa setiap anak memiliki potensi dan keunikan masing-masing. Oleh karena itu, ia melarang keras adanya perundungan antar peserta didik, terutama yang dilatarbelakangi perbedaan kecerdasan.

Lebih jauh, Haedar mengingatkan bahwa bullying juga bisa muncul dari kesenjangan ekonomi. Seringkali, kata dia, siswa yang berasal dari keluarga berada merasa superior terhadap mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi lemah.

“Itu tidak boleh terjadi di sekolah Muhammadiyah. Jangan hanya baik saat diawasi guru. Kebaikan harus menjadi budaya bersama,” pesannya lugas.

Ia juga menyinggung keberadaan Tapak Suci, seni bela diri khas Muhammadiyah, yang seharusnya menjadi wadah pembinaan disiplin, bukan digunakan sebagai alat untuk menunjukkan kekuatan atau mengintimidasi sesama.

"Kalau ada yang punya potensi untuk berkelahi, itu latihan Tapak Suci. Tapi ingat, bukan untuk membully. Tapak Suci bukan untuk menyakiti, melainkan mendidik," ujar Haedar dengan nada mengingatkan.

Dalam kesempatan tersebut, Haedar juga menyampaikan bahwa pendidikan di sekolah Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada ilmu pengetahuan umum, tetapi juga kuat pada aspek akhlak dan keimanan. Ia meminta para orang tua untuk tidak menyepelekan lembaga pendidikan, karena di situlah anak-anak dibentuk menjadi pribadi yang beriman, berilmu, dan berakhlak.

“Jangan meremehkan sekolah Muhammadiyah. Dari sinilah lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tapi juga berbudi pekerti luhur,” katanya.

Tidak hanya kepada siswa dan wali murid, Haedar juga mengarahkan pesannya kepada para guru dan kepala sekolah agar menjadi teladan. Menurutnya, pendidik dan pengelola sekolah harus tampil sebagai sosok yang adil, jujur, dan tidak menyalahgunakan wewenang.

“Jika guru dan kepala sekolah mampu berlaku adil dan jujur, maka anak-anak akan tumbuh dengan rasa hormat yang tinggi kepada mereka,” tuturnya.

Haedar berharap agar seluruh ekosistem pendidikan Muhammadiyah mampu menjaga integritasnya, menciptakan ruang belajar yang membahagiakan, bebas dari intimidasi, dan penuh dengan semangat persaudaraan.

Di akhir sambutannya, ia kembali menegaskan bahwa sekolah Muhammadiyah adalah tempat membentuk manusia unggul, bukan hanya dalam capaian akademik, tetapi juga dalam moral dan spiritual.

Dengan seruan ini, Haedar Nashir kembali mengingatkan bahwa misi pendidikan Muhammadiyah adalah menyiapkan generasi penerus bangsa yang utuh secara intelektual dan akhlak. Lingkungan pendidikan yang bebas dari bullying dan penuh kasih sayang menjadi syarat mutlak untuk mewujudkan cita-cita tersebut. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar