Turun Ranjang Jokowi - Gibran, Birahi dan Aroma Kekuasaan yang Tak Kunjung Reda
ASKARA - Masa jabatan boleh habis, tapi gairah Jokowi dalam urusan politik rupanya belum pensiun. Sejak tak lagi duduk di singgasana RI-1, mantan presiden yang dikenal dengan gaya blusukannya itu justru tampak makin lincah bermanuver seperti pemuda baru kenal asmara kekuasaan.
Dari bisik-bisik Istana hingga aroma strategi politik, banyak yang menilai "libido politik" Jokowi belum juga surut. Alih-alih rehat di Solo dan menikmati teh hangat di beranda, Jokowi justru terlihat seperti sutradara bayangan yang mengatur panggung politik dari balik layar.
“Beliau memang sudah tidak jadi presiden, tapi gaya mainnya masih seperti komandan lapangan,” celetuk seorang pengamat yang minta identitasnya disamarkan karena takut diseruduk relawan.
Ketika publik mengira Jokowi akan jadi "bapak bangsa", beliau justru sibuk menjodoh-jodohkan kekuasaan. Mulai dari ikut dalam safari politik putranya, hingga memoles suksesi kekuasaan bak casting sinetron politik nasional.
"Mas Gibran ke mana, Jokowi ke situ." Bahkan ada yang menyebut, Gibran hanyalah perpanjangan tangan dari 'birahi politik' sang ayah. Tak heran, istana kini disebut-sebut seperti rumah tangga dinasti yang baru pindah ke Menteng.
Rakyat berharap mantan presiden istirahat, tapi tampaknya Jokowi ikut lomba lari estafet kekuasaan, hanya saja tidak bawa tongkat, tapi bawa pengaruh. Bila biasanya pensiunan menikmati catur dan bonsai, Jokowi malah bercocok tanam kader dan kebijakan.
Bahkan beberapa elite menyebut Jokowi seperti mantan pacar yang belum move on dari kekuasaan: sering muncul, banyak kode, dan tetap ingin tahu siapa yang pegang kendali.
Seorang sosiolog menyebut, kekuasaan itu seperti mie instan. Cepat, gurih, dan bikin nagih. Wajar bila Jokowi tak bisa langsung lepas. Apalagi jika dapur kekuasaan masih mengundang.
Masa jabatan boleh habis, tapi hasratnya lebih awet dari minyak goreng saat krisis
Pertanyaannya, apakah Jokowi akan terus bermanuver sebagai petarung bayangan, atau kelak memilih naik haji politik dan berhenti total?
Kalau birahi kekuasaan masih tinggi, mungkin yang dibutuhkan bukan jabatan, tapi "terapi politikus pensiun". Atau minimal, kursi goyang di Istana Bogor yang bisa bergetar mengikuti ritme strategi politik dari kejauhan.

Komentar