Senin, 08 Juni 2026 | 00:32
Parodi

Gula-Gula Kekuasaan: Ketika Tom Jadi Tumbal

Gula-Gula Kekuasaan: Ketika Tom Jadi Tumbal
Ketika Tom jadi tumbal (Dok Askara)

ASKARA – Drama klasik republik ini kembali dipentaskan di panggung megah bernama Pengadilan Tipikor. Judulnya: "Impor Gula, Episode Kambing Hitam di tengah Karung-Manis Kekuasaan." Dan bintang utama kali ini, tak lain dan tak bukan, adalah Thomas Trikasih Lembong alias Tom, si teknokrat Harvard-an yang dulu dielu-elukan sebagai wajah modern kabinet kerja.

Kini, ia duduk di kursi pesakitan. Vonis 4 tahun 6 bulan dijatuhkan, bukan karena ia memperkaya diri, tapi karena… tidak cermat.
Ya, Anda tidak salah dengar. Bukan maling, tapi teledor. Bukan tikus, tapi lupa pakai payung hukum koordinasi antar kementerian.

"Terdakwa tidak cermat dalam memberikan izin impor gula," ujar hakim dengan tegas, seolah tak pernah ada pejabat lain yang asal tanda tangan tanpa rapat.

Dan publik pun bersorak. Ibu-ibu berkemeja putih bergambar wajah Tom menangis, bukan karena kecewa, tapi karena tahu Tom bukan penjahat, hanya terlalu jujur di lingkungan yang salah.

Kita tahu, banyak pejabat tidur di kasur gula. Tapi anehnya, hanya Tom yang disuruh bangun dan langsung diseret keluar.
iPad dan MacBook-nya dikembalikan, mungkin karena hanya itu yang bisa ditemukan sebagai "barang bukti." Uang negara yang hilang? Entah mampir ke mana, yang jelas tidak ke rekening Tom.

Kritik atas sistem? Diam. Audit kebijakan makro? LewatYang penting, kita sudah tangkap satu. Lihat, kita kerja!

Padahal, ini seperti menyalahkan juru masak karena dapurnya kebakaran, sementara bos dapur dan pemilik restoran jalan-jalan ke Swiss.

Lucunya, Tom disebut merugikan negara karena membolehkan impor ketika stok menipis.
Tapi pertanyaannya, kalau stok tidak cukup, mau makan apa? Foto swasembada?
Dan apakah kita lupa, ketika harga gula naik, rakyat ribut.
Ketika turun, petani ribut. Tapi yang selalu diam adalah para penentu kuota impor yang selalu tersembunyi di balik meja birokrasi.

Kini Tom dihukum bukan karena salah, tapi karena sendirian.

Ia bukan bagian dari gerombolan yang biasa main belakang. Ia masuk ke kabinet bukan dari jalur partai, ormas, atau konglomerat.
Dan itu kesalahan fatal: di republik ini, terlalu bersih bisa membunuh karier.

Tom bilang dia masih "pikir-pikir."
Kami juga.
Apakah vonis ini benar-benar tentang gula, atau tentang siapa yang harus dibungkam lebih dulu sebelum kebusukan lain tercium?

---

Catatan Redaksi:
Tom Lembong mungkin bukan malaikat. Tapi jika pejabat yang tak ambil sepeser pun bisa dipenjara karena "tidak cermat," maka seharusnya ratusan birokrat di barisan belakang ikut antre.
Tapi mereka tak perlu khawatir, mereka cukup cermat memilih siapa yang dikorbankan.

 

 

Komentar