Rabu, 17 Juni 2026 | 23:21
NEWS

Film Berani Adalah Cahaya Angkat Nilai Keberanian dalam Pendidikan Anak

Film Berani Adalah Cahaya Angkat Nilai Keberanian dalam Pendidikan Anak
Sutradara film BERANI ADALAH CAHAYA, Rm Edy Wiyanto Pr (berdiri baris pertama tengah kaos hitam) berfoto bersama dengan para pemain dan crew (Dok OMK Wedi)

ASKARA - Sebuah film musikal berjudul "Berani Adalah Cahaya" tengah digarap oleh sekelompok Orang Muda Katolik Paroki Wedi, Klaten, bersama umat Gereja Katolik St. Perawan Maria Bunda Kristus. Disutradarai oleh Rm Basilius Edy Wiyanto Pr, film ini menawarkan makna baru tentang keberanian, yang tak hanya soal fisik atau menentang larangan, tetapi sebagai cahaya dalam mengambil keputusan yang benar dan bermakna.

Film berdurasi 60 menit ini bercerita tentang anak-anak sekolah yang berani melanggar mitos dan memasuki hutan terlarang demi mencari bola voli. Di balik keputusan mereka, tersembunyi makna keberanian untuk mengikuti suara hati. Dalam narasi tersebut, keberanian bukan tindakan sembrono, tetapi wujud kesadaran terhadap nilai dan kebenaran, meskipun penuh risiko.

Proyek film ini melibatkan sekitar 90 orang dari berbagai unsur, mulai dari pemain, kru, hingga tim musik. Naskah ditulis oleh Paulus Muhammad Sodiq, sementara editing ditangani oleh Cornelius Teddy H. Musik dan lagu digarap oleh Emanuel Maria Venanto Rio Nursetyo. Rm Edy sendiri bertindak sebagai sutradara utama yang menggagas konsep dan nilai cerita.

Nilai utama film ini terinspirasi dari pemikiran Rm YB Mangunwijaya Pr, seorang tokoh pendidikan anak-anak miskin yang dikenal dengan nama "Romo Kali Code." Ia memperjuangkan pendidikan yang merata tanpa memandang suku dan agama, dengan menanamkan nilai eksploratif, kreatif, dan integral sebagai fondasi keberhasilan pendidikan anak.

Dalam refleksi sejarah pendidikan Indonesia, Rm Edy mengangkat bagaimana Politik Etis kolonial Belanda menjadi “rahmat tersembunyi” yang memunculkan kaum terpelajar pribumi. Pendidikan menurut Rm Mangunwijaya adalah alat pembebas yang harus mencerdaskan sekaligus membentuk karakter bangsa, sebagaimana juga diperjuangkan oleh Ki Hajar Dewantara melalui Taman Siswa.

Namun, Rm Edy menilai, pasca-kemerdekaan, pendidikan anak-anak kehilangan semangat eksploratif, kreatif, dan integral. Anak-anak kini lebih dibebani kurikulum dan gadget, bukan proses belajar yang membebaskan. Nilai-nilai “harta karun” tersebut, eksplorasi, kreativitas, dan integritas, justru dikaburkan oleh sistem yang seragam dan terkadang politis.

Dalam film ini, ketiga nilai tersebut disimbolkan sebagai “harta karun” yang tersembunyi di dalam hutan. Indonesia sendiri, menurut Rm Edy, adalah harta karun yang belum dimiliki sepenuhnya oleh bangsanya karena keberanian membangun karakter belum ditanamkan sejak dini. Film ini, dengan segala keterbatasan dana dan fasilitas, menjadi cermin keberanian kolektif untuk menghadirkan kembali nilai-nilai itu.

Seluruh proses pengambilan gambar dilakukan di kawasan Giri Wening, Sengonkerep, Gedangsari, Gunungkidul, menggambarkan keindahan alam dan kekayaan budaya lokal. Saat ditanya kapan film ini akan dirilis, Rm Edy tersenyum dan menjawab singkat, “Masih rahasia.” Namun satu hal yang pasti, "Berani Adalah Cahaya" adalah karya yang membawa pesan kuat: keberanian sejati adalah ketika kita mampu menyalakan cahaya dari dalam diri.

 

Komentar