Ibu Dibuang, Empat Anak Kandung Tak Mau Lagi Peduli
Air Susu Dibalas Luka
ASKARA - Dunia maya kembali dibuat terenyuh oleh sebuah video yang diunggah akun SnackVideo al-ridwansyah. Video tersebut memperlihatkan momen memilukan ketika seorang ibu lanjut usia diserahkan oleh keempat anak kandungnya ke Griya Lansia Malang, lengkap dengan surat pernyataan terbuka yang menyebut bahwa mereka tidak ingin lagi dikabari apabila sang ibu meninggal dunia.
Dalam video berdurasi sekitar empat menit itu, tampak sang ibu dijemput ambulans milik yayasan dengan tatapan kosong dan langkah lunglai. Tidak ada pelukan perpisahan, tidak ada air mata dari anak-anaknya, hanya sebuah penyerahan formal yang membekukan nurani.
Surat yang turut dibacakan dalam video itu menyatakan secara eksplisit bahwa mereka menyerahkan sang ibu secara total ke pihak panti. “Jika ibu kami meninggal, kami tidak perlu dikabari. Silakan langsung dimakamkan,” tulis salah satu anak yang mewakili saudara kandung lainnya.
Pengurus Griya Lansia mengungkapkan bahwa sang ibu datang dalam keadaan sangat tenang, namun penuh luka batin. “Beliau tak banyak bicara. Hanya memandangi sekitar seolah mencari sesuatu… atau mungkin seseorang. Tapi tak ada yang datang. Yang tersisa hanya kami dan doa,” ujar salah seorang pengurus panti dengan suara lirih.
Aksi keempat anak ini menuai gelombang simpati dan kemarahan dari warganet. Banyak yang mempertanyakan bagaimana seorang ibu bisa dilupakan begitu saja oleh anak-anak yang dulu dibesarkannya dengan peluh dan cinta.
“Setiap ibu hanya ingin ditemani di sisa hidupnya. Bukan diantarkan pergi seperti beban,” tulis seorang pengguna yang turut mengomentari unggahan viral tersebut.
Pihak Griya Lansia sendiri telah menerima sang ibu dengan penuh tanggung jawab dan kasih. Meski bukan darah daging, para pengasuh di panti tersebut berkomitmen untuk memberikan perawatan dan perhatian layaknya keluarga sendiri.
Kisah ini menjadi cermin keras bagi masyarakat kita. Bahwa di tengah kemajuan zaman, masih ada luka kemanusiaan yang menganga lebar, ketika anak kandung tak lagi menganggap ibunya sebagai bagian dari hidupnya.
Semoga peristiwa ini menyentuh nurani, dan menjadi pengingat bahwa surga masih ada di bawah telapak kaki ibu, bukan di balik surat pernyataan penolakan yang menyayat hati.

Komentar