Rabu, 17 Juni 2026 | 15:36
NEWS

FGD Forkominhan: SDM Kunci Kemandirian Industri Pertahanan

FGD Forkominhan: SDM Kunci Kemandirian Industri Pertahanan
Suasana FGD Forkominhan (Dok Eky)

ASKARA - Sumber Daya Manusia (SDM) kembali ditegaskan sebagai faktor strategis dalam mewujudkan kemandirian industri pertahanan nasional. Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Dukungan Sumber Daya Manusia untuk Industri Pertahanan Nasional” yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Industri Pertahanan (Forkominhan) bersama mitra strategis lintas kementerian, perguruan tinggi, dan pelaku industri pertahanan, Rabu (9/7) di Bogor, Jawa Barat.

Diskusi ini menyoroti pentingnya membangun ekosistem SDM yang tidak hanya unggul secara akademik, namun juga memiliki kompetensi praktis dan mindset inovatif.

Fajar Harry Sampurno, Ph.D., selaku moderator, membuka diskusi dengan menekankan bahwa pembangunan industri pertahanan tidak bisa hanya bergantung pada infrastruktur fisik, melainkan harus dimulai dari pembangunan SDM berkualitas.

“Yang dipentingkan bukan membangun infrastrukturnya dulu, tapi membangun sumber daya manusianya. Sejarah membuktikan, pembangunan strategis seperti satelit Palapa dan energi nuklir dimulai dari pengiriman insinyur untuk belajar teknologi,” tegasnya.

Senada dengan itu, Kolonel Laut (T) Donny Mangara Nainggolan, S.T., M.Tr. Opsla, dari Direktorat Teknologi Industri dan Pertahanan, Kementerian Pertahanan (Kemhan), menggarisbawahi perlunya integrasi lintas sektor dalam pengembangan SDM.

“Ketersediaan talenta teknologi masih terbatas. Maka dibutuhkan kolaborasi antara Kementerian, BUMN, akademisi, dan swasta,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi transfer teknologi dari kerja sama internasional serta penguatan keahlian strategis seperti UAV, roket, avionik, siber, dan program pendidikan berbasis teknis.

Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Ir. Romie Oktovianus Bura, B.Eng. (Hons.), MRAeS, Ph.D., menyoroti perlunya perubahan mindset dalam menempatkan SDM sebagai prioritas utama dalam pembangunan industri pertahanan.

“Mindset kita masih menempatkan SDM di paling bawah. Padahal, industri besar dibangun dari manusianya. Kalau mau naik kelas, mindset itu harus berubah,” tegasnya.

Dr. Romie juga menekankan pentingnya pendidikan berbasis praktik dan riset nyata, bukan sekadar mengejar gelar. “Tanpa SDM yang kompeten, teknologi canggih pun tidak akan bisa dikembangkan,” ujarnya.

Ia juga mengkritisi lemahnya sistem pendukung pengembangan SDM di Indonesia, terutama minimnya kebijakan jangka panjang yang mendukung proyek riset dan pengembangan teknologi pertahanan berbasis kampus.

“Kita gagal bukan karena SDM lemah, tapi karena sistem tidak menopang mereka untuk berkembang,” tandasnya.

FGD ini menutup diskusi dengan seruan untuk aksi konkret melalui pembaruan regulasi, kolaborasi lintas sektor, dan perubahan paradigma terhadap SDM. Keseluruhan diskusi menggarisbawahi bahwa kunci kemandirian industri pertahanan nasional terletak pada investasi serius terhadap pembangunan manusia Indonesia.

 

 

Komentar