Rabu, 17 Juni 2026 | 15:32
NEWS

Kekejaman OPM di Yahukimo, Guru Perdamaian Tewas Diserang

Kekejaman OPM di Yahukimo, Guru Perdamaian Tewas Diserang
Korban kekejaman OPM tengah dievakuasi (Dok Puspen TNI)

ASKARA - Duka mendalam menyelimuti Tanah Papua, khususnya Kabupaten Yahukimo. Seorang guru muda yang penuh dedikasi, Rosalia Rerek Sogen, gugur dalam tugas pengabdiannya setelah menjadi korban penyerangan brutal oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) OPM di Distrik Anggruk, Yahukimo, Papua Pegunungan, pada 21-22 Maret 2025.

Rosalia, alumnus Program Studi Matematika FKIP Universitas Nusa Cendana Kupang, dikenal sebagai pribadi sederhana, cerdas, dan berhati besar. Sejak 2021, ia mengabdikan diri sebagai guru di Distrik Anggruk, wilayah yang selama ini dikenal relatif aman. Berasal dari Larantuka, Nusa Tenggara Timur, langkah Rosalia ke pelosok Papua adalah panggilan hati, sebuah pilihan hidup untuk menjadi bagian dari perjuangan membangun masa depan anak-anak Papua.

Namun, pengabdiannya terhenti di ujung senjata. Penyerangan pertama terjadi pada 21 Maret 2025 sekitar pukul 16.00 WIT, dilakukan oleh sekitar 10 - 15 orang bersenjata. Esok paginya, 22 Maret 2025 pukul 07.00 WIT, serangan susulan kembali terjadi, melibatkan delapan orang pelaku. Dalam insiden kedua itu, Rosalia ditemukan telah meninggal dunia. Tiga rekan Rosalia mengalami luka berat, sementara tiga lainnya luka ringan.

Peristiwa ini mengguncang hati banyak pihak, terutama keluarga besar pendidikan dan kesehatan, juga TNI yang selama ini aktif membantu pembangunan Papua. Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menegaskan bahwa para guru dan tenaga kesehatan yang bertugas di Yahukimo adalah warga sipil murni yang tidak memiliki keterkaitan dengan aparat militer.

“Mereka adalah tenaga profesional, orang-orang baik yang memilih jalan sunyi untuk melayani masyarakat Papua di bidang pendidikan dan kesehatan. Mereka bukan bagian dari Satgas TNI. Mereka datang dengan hati, bukan dengan senjata,” ujar Mayjen Kristomei, Senin (7/7) di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.

Pemerintah Daerah Yahukimo dan Yayasan Serafim turut menegaskan hal serupa. Mereka menyampaikan bahwa seluruh guru dan tenaga kesehatan yang ditempatkan di 33 distrik adalah hasil seleksi ketat, bertugas murni untuk melayani masyarakat, bukan bagian dari kegiatan militer.

Kehilangan Rosalia bukan sekadar kehilangan seorang guru. Ini adalah luka besar bagi upaya bersama membangun Papua. Penyerangan terhadap para pengajar dan tenaga kesehatan bukan hanya tindakan keji terhadap individu, tetapi juga kejahatan kemanusiaan yang mengancam masa depan generasi Papua.

Rosalia telah pergi, namun jejak ketulusannya tak akan pernah hilang. Namanya akan selalu dikenang sebagai simbol pengabdian tanpa batas. Di pelosok Anggruk, di antara lebatnya hutan dan terjalnya pegunungan Papua, kenangan tentang guru sederhana dari Larantuka ini akan terus hidup, seperti doa-doa yang tak pernah putus, berharap kelak tanah Papua benar-benar menjadi tempat damai bagi semua anaknya.

 

Komentar