Senin, 15 Juni 2026 | 17:36
COMMUNITY

Prof. Rokhmin Dahuri Motivasi IPNU Cirebon: Jadilah Pelopor Perubahan Menuju Indonesia Emas 2045

Prof. Rokhmin Dahuri Motivasi IPNU Cirebon: Jadilah Pelopor Perubahan Menuju Indonesia Emas 2045
Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MS (ist)

ASKARA – Anggota DPR RI 2024–2029 sekaligus tokoh intelektual nasional, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, menggugah semangat ratusan pelajar Nahdlatul Ulama dalam seminar bertajuk Student Outlook: Menjadi Pelajar Visioner dan Berprestasi di Abad 21. Ia juga menantang pelajar NU untuk berhenti jadi generasi rebahan dan mulai menapaki jalan sebagai pemimpin masa depan.

“Kalau mau sukses dunia akhirat, jangan cuma main HP dan overthinking. Kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi, kuatkan iman-taqwa, dan bangun akhlak mulia. Itulah fondasi pelajar NU visioner,” tegas Rektor Universitas UMMI Bogor ini di Aula PCNU Kabupaten Cirebon, Sabtu (5/7).

Mengangkat tema "Pelajar NU, Pemimpin Masa Depan: Visi, Kompetensi, Imtaq, dan Akhlak Menuju Indonesia Emas 2045", Prof. Rokhmin menegaskan bahwa IPNU bukan sekadar organisasi pelajar, tapi lumbung kader bangsa. Ia menyerukan agar IPNU tak hanya jadi penonton sejarah, melainkan aktor utama dalam membawa Indonesia ke puncak kejayaan.

"IPNU diharapkan menjadi generasi produktif yang tidak larut dalam sikap apatis, malas, atau overthinking yang tak berujung," tegasnya.

Ia juga menyinggung betapa strategisnya peran IPNU sebagai lokomotif perubahan. “Negara ini butuh pemimpin muda yang bukan hanya pintar, tapi juga berintegritas dan berjiwa sosial. Jangan jadi generasi gampang menyerah!” ujarnya.

Prof. Rokhmin Dahuri mengingatkan bahwa kunci keberhasilan bukan semata ijazah, tapi semangat, visi, dan keteguhan iman. “Pelajar NU harus siap jadi generasi pembaharu. Karena Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai dengan pemuda yang apatis dan manja,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, ia mengajak pelajar NU untuk menggali potensi personal, memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan, dan meletakkan agama sebagai fondasi utama dalam menjalani kehidupan. "Jika IPNU mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing global, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan sekadar utopia, tapi keniscayaan," tuturnya.

Di hadapan kader PC. IPNU-IPPNU Kabupaten Cirebon, Prof. Rokhmin tidak hanya menyampaikan motivasi, tapi juga membongkar “amalan kunci” menuju kebahagiaan hakiki—sukses dunia dan akhirat.

"Untuk menjadi pelajar NU yang sukses-bahagia dan bermanfaat bagi sesama, kuasai ilmu pengetahuan dan teknologi (ipteks), perkuat iman dan takwa (imtaq), bangun akhlak mulia, dan rancang masa depan mulai hari ini," ujarnya  dengan penuh semangat.

Pilar Muda Menuju Indonesia Emas 204

Menteri Kelautan dan Perikanan 2001 - 2004 itu mengingatkan bahwa IPNU adalah kader strategis yang akan membawa Indonesia menuju puncak kejayaan 2045. “Jangan hanya jadi penonton. IPNU harus jadi pelaku utama. Jadi pengusaha, jadi presiden, jadi politisi, tapi tetap dengan iman dan akhlak!” tegasnya.

Lalu, ia memetakan enam peran strategis yang bisa diambil IPNU:

1. Sebagai entrepreuneur (pengusaha) yang menghasilkan barang dan jasa
(goods and services) yang berdaya saing tinggi (top quality, harga relatif murah, dan produksi teratur serta berkelanjutan) untuk memenuhi pasar dalam negeri maupun internasional (ekspor). Menciptakan lapangan kerja, dengan penghasilan yang mensejahterakan pekerja (lebih Rp 7,5 
juta/bulan).

2. Menjadi Kepala Desa, Camat, Bupati/Walikota, Gubernur, Menteri, atau Presiden yang capable, ber IMTAQ kokoh menurut agama masing-masing, berakhlak mulia, dan strong.

3. Menjadi politikus yang capable dan baik: Partai Politik, anggota legislatif (DPRD dan DPR RI), dan anggota DPD (Senator).

4. Menjadi ASN (PNS), NGO, Lembaga Internasional, dll.

5. Melanjutkan ke Jenjang Pendidikan: (1) Vokasi atau (2) PT umum
.

6. Apapun profesi IPNU kelak, setiap anggota IPNU harus memiliki IMTAQ 
yang kokoh, dan akhlak mulia.

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan dinamika ketenagakerjaan dan kompetensi, kemampuan serta skills yang dibutuhkan di Abad-21.

Transformasi Dunia Kerja: Tantangan & Peluang

Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan mengenai transformasi dunia kerja, menekankan pentingnya kesiapan menghadapi perubahan keterampilan yang disebabkan oleh AI dan otomatisasi menuntut keterampilan digital, analisis data, dan kecerdasan emosional. 

Ia juga menyoroti perlunya peningkatan daya saing ekonomi dan transformasi struktural. "Akses terbatas ke pendidikan digital memperlebar kesenjangan peluang kerja," katanya.

Selain itu, kerja jarak jauh meningkat, tetapi menantang keseimbangan hidup dan stabilitas karier.Kemudian, kurikulum harus selaras dengan teknologi dan memperkuat soft skills. Lalu, pekerjaan hijau berkembang, tetapi membutuhkan 
pelatihan ulang.

Masa depan kerja 2025 ditandai oleh kerja hybrid, AI & otomatisasi, serta reskilling untuk menutup kesenjangan keterampilan. Kesejahteraan karyawan semakin diperhatikan, sementara Gen Z mendorong inklusivitas dan fleksibilitas. Adaptasi dan pengembangan
keterampilan adalah kunci sukses.

8 Karakter Alumni Perguruan Tinggi Yang 
Dibutuhkan Di Abad-21 

Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan 8 karakter alumni yang dibutuhkan di abad ke-21, mulai dari penguasaan IPTEK, kecerdasan emosional, bahasa asing, hingga keimanan dan akhlak.“Yang dibutuhkan bukan cuma orang pintar, tapi orang berakhlak, adaptif, dan siap kerja lintas zaman,” tegasnya.

Pertama, kompeten pada bidang IPTEK (PRODI) yang ditempuh selama kuliahnya. “Di era Industry 4.0 dan Soceity 5.0 ini, keahlian (expertise) dan keterampilan (skills) para alumni ISI Padang Panjang, baik yang berasal dari Fakultas Seni Pertunjukan maupun Fakultas Seni Rupa dan Desain semakin dibutuhkan, baik di Indonesia maupun di dunia,” ujarnya.

Kedua, memiliki kemampuan analisis, sintesis, kritis, kreatif, inovatif, dan problem solving (memecahkan masalah). Ketiga, menguasai dan terampil menggunakan teknologi digital termasuk komputer, HP, dan gadget lainnya. Keempat, memiliki soft skills seperti dapat memelihara dan memompa motivasi diri, adaptive (cepat belajar dan menyesuaikan diri dengan hal baru), agile (gesit, cekatan), bisa bekerjasama, teamwork, disiplin, entrepreneurship, dan leadership.  

Kelima, menguasai sedikitnya satu bahasa asing seperti Inggris, Arab, atau Mandarin.  Keenam, berakhlak mulia termasuk jujur, amanah, fathonah (cerdas dan visioner), tabligh, berempati, menyayangi sesama makhluk Tuhan YME, sabar, dan bersyukur. Ketujuh adalah beriman dan taqwa kepada Tuhan YME menurut agama masing-masing. Kedelapan, Hidup harmonis penuh kedamaian dengan sesama insan.

Kemampuan Yang Di Butuhkan Pelajar Abad 21

Guru Besar Emiritus Shinhan University, Korea Selatan tersebut menekankan pentingnya beberapa kemampuan untuk pelajar abad 21, antara lain: Literasi Humanitas, yaitu problem solving, komunikasi, Kolaborasi, relasi sosial, berpikir kritis, kreatif, inovatif, humanis, ikatan kewargaan.

Literasi teknologi, yaitu memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi (coding, programing, artificial intelegence & engineering principles.

Literasi Keagamaan, yaitu pemahaman, penghayatan & pengamalan agama; penghargaan dan toleransi dalam keragaman keyakinan; inklusif, moderat & terbuka: memperkuat kohesi sosial & membangun harmoni dalam perbedaan; berperan dalam proses sosial politik berbasis kebijakan publik & untuk kemaslahatan bersama.

Literasi Digital, yaitu mampu mengakses konten digital, memilih & memilah materi, kritis terhadap data dan informasi digital yang beredar via media sosial, self censorship.

Literasi Data, yaitu kemampuan membaca & menganalisis informasi & mengolah data (big data) di dunia digital.

Apa Yang Harus Dilakukan IPNU Sebagai 
Pelajar?

Prof. Rokhmin Dahuri mengatakan dunia kerja tak lagi seperti dulu. Tak cukup dengan ijazah atau nilai tinggi. Ia memperingatkan generasi muda NU bahwa masa depan kerja sudah berubah total.

“Abad ke-21 bukan zamannya rebahan lalu sukses. Ini era di mana AI dan robot mengambil alih pekerjaan. Siapa yang tak adaptif, tersingkir,” tegasnya.

Prof. Rokhmin mengurai tantangan besar: digitalisasi, otomatisasi, kerja jarak jauh, hingga meningkatnya tuntutan kesejahteraan karyawan. Tapi di balik itu semua, ada peluang emas, asal pelajar NU siap berubah.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan - IPB University ini menekankan pentingnya reskilling dan transformasi kurikulum. Menurutnya, kerja hijau dan digital adalah masa depan, tapi hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki kombinasi skill teknis, soft skill, dan akhlak mulia.

Prof. Rokhmin Dahuri, mengingatkan bahwa pelajar abad ke-21 wajib menguasai lima literasi kunci untuk bisa bersaing dan bertahan di tengah revolusi digital dan sosial global.

1. Literasi Humanitas: Kemampuan berpikir kritis, kreatif, memecahkan masalah, kolaboratif, hingga komunikasi yang efektif. Pelajar harus mampu membangun relasi sosial yang sehat dan punya kesadaran kewargaan yang kuat.

2. Literasi Teknologi: Mengerti prinsip kerja mesin, teknologi terkini, termasuk coding, AI, dan engineering. Bukan cuma jadi pengguna, tapi juga pencipta teknologi.

3. Literasi Keagamaan: Bukan sekadar tahu, tapi mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama secara inklusif, toleran, dan moderatis. Pelajar harus bisa menjadi agen harmoni dan penjaga kohesi sosial.

4. Literasi Digital: Mampu menyaring informasi, kritis terhadap konten media sosial, dan menguasai self-censorship. Di era banjir informasi, skeptis itu penting.

5. Literasi Data: Kemampuan membaca, menganalisis, dan mengolah big data adalah kunci sukses di era informasi.

“Siapa yang tak punya lima literasi ini, akan jadi penonton dalam peradaban. Bukan pemain,” tegas Ketua Umum MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) ini.

Prof. Rokhmin Dahuri, mengingatkan para pelajar NU melalui organisasi IPNU untuk tidak hanya sibuk berorganisasi, tapi juga wajib membekali diri dengan keterampilan dan karakter unggul. "Jangan cuma aktif kumpul-kumpul atau apel pagi. IPNU harus siap jadi ASN, pengusaha, politisi, bahkan presiden! Tapi semua itu dimulai dari sekarang dari bagaimana kalian belajar, berlatih, dan membangun karakter," tegasnya.

Empat hal utama yang harus dilakukan IPNU menurut Prof. Rokhmin:  Pertama, Belajar cerdas dan rajin, siapkan diri untuk kuliah atau langsung ke dunia kerja. Kedua, Aktif berorganisasi dan olahraga,  untuk mengasah soft skills seperti komunikasi, kepemimpinan, dan kerja tim.

Ketiga, Rajin ibadah, tingkatkan spiritualitas dan akhlak mulia. Keempat, Hidup rukun dalam keberagaman, jaga toleransi dan harmoni sosial.

Sedangkan karakter emas pelajar abad ke-21, yaitu, Soft Skills: komunikatif, adaptif, kerja tim, kepemimpinan. Etos kerja: kerja keras, disiplin, tahan banting, profesional. Akhlak mulia: jujur, empati, tanggung jawab sosial, toleransi.

“IPNU harus jadi wajah baru NU yang tidak hanya religius, tapi juga kompeten, kreatif, dan solutif. Negara ini butuh pemimpin muda dengan akal cerdas dan hati bersih,” tandasnya.

Apa Yang Harus Lembaga Pendidikan?

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan pentingnya pendidikan berkualitas dan penguatan nilai-nilai kebangsaan untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Ia percaya bahwa kombinasi antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas, serta peran aktif perguruan tinggi dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, akan membawa Indonesia menuju kemajuan, kemakmuran, dan kedaulatan. 

Visi Pendidikan Indonesia 2045

Visi Pendidikan Indonesia 2045 menurut Prof. Rokhmin Dahuri adalah mewujudkan bangsa Indonesia yang maju, adil, makmur, dan berdaulat, dengan menekankan pentingnya kombinasi antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas. 

01. Critical Mass, 02. Taraf Pendidikan Tinggi, 03. Cerdas, Kreatif, Inovasi, Mandiri, 04. Kecakapan Literasi Tinggi, 05.  Penguasaan IPTEK, 06. Produktivitas tinggi, 07. Promosi dan Penguatan Demokrasi, 08. Berkarakter Kuat & berkepribadian, 09. Penguatan kohesi sosial & wawasan multikulturalisme, 10. Berakhlak mulia, moralitas, integritas, 11. Penguatan identitas & jatidiri, 12. Kewarganegaraan global.

Dengan demikian, visi pendidikan Indonesia 2045 menurut Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Laut, Universitas Bremen, Jerman itu adalah menciptakan generasi muda yang unggul, berkarakter, berdaya saing, dan memiliki semangat kebangsaan yang tinggi, serta mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam Indonesia untuk mewujudkan kemakmuran dan kedaulatan bangsa. 

Transformasi Pendidikan Indonesia

Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat 2022 – 2026 itu menekankan pentingnya transformasi pendidikan sebagai kunci untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, yang dicita-citakan sebagai negara maju, adil, makmur, dan berdaulat. Ia berpendapat bahwa pendidikan berkualitas tinggi akan membentuk generasi yang mampu bersaing di era globalisasi dan revolusi teknologi, serta mampu memanfaatkan bonus demografi untuk kemajuan bangsa. 

Selanjutnya, Duta Besar Kehormatan Kepulauan Jeju dan Kota Metropolitan Busan, Korea Selatan itu memaparkan tren terbaru dalam teknologi pendidikan mencakup E-Learning, pembelajaran berbasis video, personalisasi, AR/VR, serta asesmen digital. 

"Inovasi lain seperti pembelajaran berbasis game, lingkungan belajar di luar kelas, analitik pembelajaran, AI dalam pendidikan, dan pemanfaatan big data semakin berkembang untuk meningkatkan pengalaman belajar," ujarnya.

Dengan transformasi pendidikan yang komprehensif, Prof. Rokhmin Dahuri meyakini bahwa Indonesia dapat mencapai visi menjadi negara maju dan sejahtera, serta berperan penting dalam kancah global. 

Kaderisasi Transformasional untuk Indonesia Emas 2045

Kebutuhan zaman memanggil organisasi pelajar untuk berinovasi. IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) menjawab dengan digitalisasi pelatihan, pembelajaran berbasis proyek, serta kemitraan lintas sektor. Semua untuk menjaga semangat belajar, berjuang, dan bertakwa tetap relevan.

Prof. Rokhmin Dahuri mengingatkan kita bahwa tantangan masa depan tak hanya menuntut kecerdasan kognitif, tapi juga karakter yang utuh. Disinilah pentingnya sistem dan mekanisme kerja pendidikan, pelatihan, dan perkaderan di IPNU  dan IPPNU mengambil peran strategis sebagai kawah pembentukan kepribadian dan kepemimpinan generasi muda Nahdliyin.

Ia menekankan pentingnya membentuk kepribadian di IPNU - IPPNU yang berwawasan luas, berjiwa enterpreneur dan inovator, serta memiliki karakter yang kuat untuk menghadapi tantangan global. Ia juga menyoroti peran penting pendidikan dalam membentuk karakter dan moral, serta perlunya dukungan terhadap guru sebagai pembentuk generasi penerus bangsa. 

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan, IPNU–IPPNU bukan sekadar tempat berkumpul atau menambah jaringan sosial. Ia adalah medan latihan kepemimpinan, ruang diskusi ide, serta wadah pelatihan akhlak dan tanggung jawab sosial. "Seperti pendidikan non-formal di negara maju, organisasi ini membentuk karakter generasi produktif masa depan," terangnya mengutip OECD, 2023.

Pendidikan Akhlak dan Kepemimpinan: Dua Tarikan Napas

Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, mereka bukan hanya kader NU, tetapi juga calon pemimpin bangsa yang siap menghadapi kompleksitas zaman—tanpa kehilangan akarnya.

Dengan sistem pelatihan seperti MAKESTA dan LAKMUD, serta kegiatan non-formal seperti diskusi ke-Aswaja-an dan pengabdian masyarakat, kader IPNU–IPPNU tumbuh dalam irisan antara ilmu dan adab. Menurut UNESCO (2022), pola ini mirip dengan pendekatan pemberdayaan pemuda di Skandinavia—mengedepankan nilai, etika, dan tanggung jawab sosial.

"Studi menunjukkan anggota mengalami peningkatan dalam kepemimpinan, tanggung jawab, dan etika sosial—mirip model pemberdayaan pemuda Skandinavia," ujarnya.

Lima Karakter Pemimpin Profetik (Kenabian)

Prof. Rokhmin Dahuri memberi pesan penting tentang kepemimpinan nasional dengan role model kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

“Suatu ciptaan (makhluk) hanya akan sukses, bila ia menjalankan kehidupannya berdasarkan pada pedoman (manual, guidelines) yang dibuat oleh penciptanya (Allah SWT, Tuhan YME). Maka, seorang pemimpin akan sukses memimpin anggota (rakyat) nya, bila ia mengikuti pedoman dari Allah SWT, yakni kepemimpinan model Rasulullah Muhammad saw,” ujarnya.

Mengutip Dr. Fahmi, Karakter Pemimpin Profetik (Kenabian), antara lain Integritas: Konsisten antara ucapan, tindakan, dan nilai yang diyakini. Keberanian: Berani mengambil keputusan sulit demi kebenaran. Kebijaksanaan: Melihat jauh ke depan dan memahami prinsip keberhasilan. Energi: Memberi semangat dan melayani, bukan sekadar memerintah. Inspirasi: Membangkitkan keyakinan dan 
visi dalam diri orang lain.

"Dr. Fahmi mengidentifikasi lima karakter pemimpin profetik (kenabian) yang terinspirasi dari sifat-sifat nabi. Karakter tersebut adalah shiddiq (jujur dan benar), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), fathonah (cerdas dan bijaksana), dan istiqomah (konsisten dan teguh pada prinsip)," terang Prof. Rokhmin Dahuri.

Kelima karakter ini, menurutnya, jika diterapkan dalam kepemimpinan, akan menciptakan pemimpin yang disegani, dihormati, dan mampu membawa organisasi atau komunitas menuju kesuksesan. Kepemimpinan profetik menekankan pentingnya keteladanan, kejujuran, dan kebijaksanaan dalam memimpin. 

Kaderisasi Pelajar NU: Moderat, Toleran, Dan Berdaya

1. Didirikan pada 1954 (IPNU) dan 1955 (IPPNU), telah menjadi motor utama dalam mencetak ribuan pemimpin birokrasi, akademisi, pengusaha, hingga aktivis. 2. Membawa nilai Ahlussunnah wal Jama’ah ke dalam pelatihan dan pembentukan karakter. "Landasannya adalah nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, dengan karakter moderat, toleran, dan berdaya," terangnya.

3. Menjadi organisasi kader berbasis agama yang progresif dan moderat. 4. Telah melahirkan ribuan pemimpin di bidang birokrasi, politik, pendidikan, dan ekonomi. 5. Menjadi model kaderisasi pelajar berbasis nilai dan misi keumatan.

Mempersiapkan Kader Bangsa yang Kritis dan Kontributif

• IPNU–IPPNU tidak hanya membentuk identitas NU, tetapi juga menyiapkan pelajar menghadapi tantangan bangsa dengan nalar kritis, strategi advokasi lokal, dan wawasan kebangsaan. 
• Tujuannya: mencetak agen perubahan di tingkat akar rumput demi menyongsong 
Indonesia Emas 2045.

Format Kaderisasi Berbasis Transformasi

Kaderisasi berbasis transformasi, menurut Prof. Rokhmin Dahuri, adalah upaya untuk menciptakan kader-kader yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki pemahaman yang mendalam tentang transformasi struktural ekonomi dan mampu mengimplementasikannya dalam berbagai bidang. 

Ia menekankan pentingnya, kaderisasi IPNU–IPPNU terus bertransformasi: dari digitalisasi pelatihan, pembelajaran berbasis proyek, hingga kolaborasi eksternal. Semua ini, tegasnya, dilakukan untuk menjaga semangat “belajar, berjuang, dan bertakwa” tetap relevan di tengah perubahan zaman. "Ini melibatkan pengembangan kualitas kader melalui pelatihan dan pendidikan politik, serta mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuan pembangunan," katanya.

Kepemimpinan Dimulai Dari Langkah Kecil

Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan, menjadi pemimpin bukan tentang jabatan, tetapi tentang ketekunan dan konsistensi dalam kontribusi. 

IPNU–IPPNU mengajarkan itu: dari rapat kecil hingga gerakan besar, dari diskusi sunyi hingga gema perubahan. IPNU–IPPNU membentuk pemimpin lewat proses bertahap: dari ambisi, partisipasi 
aktif, hingga tanggung jawab dan dampak.

"Kepemimpinan bukan soal jabatan, tapi soal kontribusi dan warisan nilai yang 
ditinggalkan," kata Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se Indonesia) itu.

Komentar