Kamis, 04 Juni 2026 | 07:50
NEWS

Pesta Gay di Puncak Picu Keprihatinan Nasional: MUI Tegaskan, Ini Bukan Gaya Hidup, Tapi Azab dan Kemungkaran

Pesta Gay di Puncak Picu Keprihatinan Nasional: MUI Tegaskan, Ini Bukan Gaya Hidup, Tapi Azab dan Kemungkaran
Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis (ist)

ASKARA — Jagat maya dan publik Tanah Air diguncang oleh penggerebekan pesta gay berkedok family gathering di kawasan Megamendung, Puncak, Bogor, Jawa Barat, belum lama in. Sebanyak 75 pria diamankan dalam penggerebekan tersebut, dan hasil tes medis menunjukkan 30 orang di antaranya reaktif HIV dan sifilis.

Ironisnya, pesta ini digelar diam-diam di tengah upaya keras pemerintah dan masyarakat untuk menekan angka penularan penyakit menular seksual. Fakta ini menguatkan kekhawatiran banyak pihak soal penyebaran HIV yang terus meningkat.

Setelah pesta gay berkedok family gathering di Megamendung, Puncak-Bogor, digerebek dan menghebohkan publik, suara keras kini datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, menyampaikan kecaman tegas terhadap perilaku homoseksual yang dinilai bertentangan dengan fitrah dan hukum agama. Ia menegaskan bahwa praktik homoseksual bertentangan dengan kodrat penciptaan manusia oleh Allah SWT.

“Laki-laki mencintai laki-laki adalah penyimpangan, dan dilaknat oleh Allah SWT. Gay adalah bentuk penyimpangan yang harus diobati, bukan dirayakan,” kata Kiai Cholil dikutip dari MUIDigital, Jumat (4/7). Ia menyebut, dalam hukum Islam, perbuatan semacam itu justru lebih berat daripada zina. Bahkan disebutkan, hukumannya bisa berupa dilempar, dimusnahkan, bahkan dibakar.

Kecaman ini tak lepas dari fakta medis yang mencengangkan: dari 75 orang peserta pesta, 30 dinyatakan reaktif HIV dan sifilis. Menurut data Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Barat, kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL) menyumbang angka tertinggi kasus baru HIV di tahun 2024. Dari 52.105 orang LSL yang dites, 3.247 dinyatakan positif HIV, angka tertinggi di antara seluruh kelompok populasi kunci.

Kiai Cholil menjelaskan, setiap larangan Allah SWT mengandung pelindung dari kemudharatan. Ia mengibaratkan, perilaku menyimpang seperti minum bensin alih-alih air putih, pasti membawa kehancuran.

“Penyakit yang muncul bisa jadi bagian dari azab dan peringatan Allah SWT. Ini bukan hanya soal moral, tapi soal keselamatan umat dan generasi.

Kiai Cholil juga menegaskan bahwa umat Islam wajib memberikan perhatian, bukan dukungan kepada pelaku homoseksual untuk kembali kepada fitrah. "Ini bukan gaya hidup, ini gaya kemungkaran," tegasnya.

Ia mengajak umat Islam untuk tidak diam. “Wanti-wanti keluarga dan sahabat. Jangan sampai penyimpangan ini dianggap normal. Secara agama dilarang, secara sosial hina, dan secara medis berbahaya."

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah Depok Jawa Barat ini menerangkan, ada hukum kausalitas (sebab-akibat) seperti seharusnya minum air putih, tetapi malah meminum air bensin. Tindakan tersebut akan berakibat negatif.

“Sama pasangan kita harus laki dengan perempuan yang sah, maka jika tidak dilakukan dengan pasangan yang sah, apalagi bukan pada tempatnya, melahirkan kekotoran, dan kekotoran itu pastinya bagian dari hukum alam,” tegasnya.

Sehingga, menurut dia, penyakit HIV-sifilis yang banyak menyasar kaum gay bisa jadi bentuk azab dari Allah SWT sebagai peringatan.

“Bagi kita, keluarga kita, sahabat kita, kita wanti-wanti dan waspadai. Berilah mereka pemahaman dan kesadaran tentang (gay) secara agama itu dilarang, secara sosial juga dilarang, lalu akibatnya kenistaan (hina),” tutupnya

Komentar