Senin, 15 Juni 2026 | 22:02
NEWS

Di Hari Kelautan Nasional, Prof. Rokhmin Dahuri: Revolusi Ekonomi Biru Bukan Sekadar Jargon, Ini Soal Martabat Bangsa

Di Hari Kelautan Nasional, Prof. Rokhmin Dahuri: Revolusi Ekonomi Biru Bukan Sekadar Jargon, Ini Soal Martabat Bangsa
Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS (tvp)

ASKARA - Dalam momentum peringatan Hari Kelautan Nasional, Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDIP Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, menyuarakan keprihatinan tajam atas merosotnya kontribusi sektor kelautan dan perikanan terhadap PDB nasional. 

Meski mencatat sejumlah capaian positif seperti kinerja ekspor dan partisipasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di forum internasional, ia menyoroti menurunnya kontribusi sektor kelautan dan perikanan terhadap PDB nasional.

Menurutnya, sektor ini harus digarap lebih optimal, termasuk perikanan tangkap, budidaya, serta hilirisasi industri.

"Di 2014 kontribusinya 2,2%, sekarang justru turun jadi 2,03%! Ini ironi besar mengingat Indonesia negara maritim!" tegas Prof. Rokhmin Dahuri di Senayan, Jakarta, Rabu (2/7).

Ia menyayangkan bahwa meski Indonesia merupakan produsen ikan terbesar kedua di dunia, peringkat ekspor perikanan Indonesia malah hanya di urutan ke-10 global.

"Ada yang salah! Industri pengolahan kita lemah. Hilirisasi mandek," kritik Rektor UMMI Bogor itu.

Pada kesempatan itu, Prof. Rokhmin Dahuri menyalakan alarm pembangunan sektor kelautan. Meski Indonesia lautnya luas, industrinya belum maksimal.

Ia menyebut pemanfaatan budidaya perikanan baru menyentuh 19% dari potensi raksasa yang dimiliki Indonesia. “Masih something wrong. Ini potensi emas yang justru diabaikan!" ujarnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu menyampaikan harapan dan evaluasinya dengan menekankan pentingnya pembangunan ekonomi biru sebagai motor kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.

Prof. Rokhmin Dahuri juga mendorong inovasi dalam pemanfaatan biota laut menjadi bahan farmasi, kosmetik, biofuel, dan bioplastik yang sudah mulai berkembang di Surabaya dan Lombok.

Lebih lanjut, ia juga mendorong revolusi ekonomi biru melalui pemanfaatan biota laut untuk farmasi, kosmetik, biofuel, hingga bioplastik. "Lima tahun terakhir sudah terbukti rumput laut bisa jadi plastik ramah lingkungan. Tapi kenapa tak didorong masif?"

Ketum Masyarakat Hortikultura Indonesia (MAI) memberi catatan bahwa meski produksi meningkat dan kiprah Indonesia di forum internasional membanggakan, nelayan tetap miskin, dan masyarakat pesisir masih jauh dari sejahtera.

"Ekonomi biru bukan sekadar jargon. Ini soal martabat bangsa. Kalau tidak segera dibenahi, laut kita akan terus jadi ladang emas yang hanya menguntungkan korporasi besar, bukan rakyatnya sendiri," tegas Guru Besar bidang Kelautan dan Perikanan IPB University itu.

"Selamat Hari Kelautan Nasional. Semoga bangsa ini bisa segera maju dan makmur melalui pembangunan blue economy atau ekonomi biru dan seluruh nelayan, pembudidaya ikan, masyarakat pesisir dan masyarakat kelautan lainnya akan hidup lebih sejahtera secara berkelanjutan," ucapnya

Komentar