Rabu, 17 Juni 2026 | 22:07
NEWS

Dari Luka Mendalam Menuju Harapan Baru: Rabbi Leo Dee Menemukan Cinta Setelah Tragedi

Dari Luka Mendalam Menuju Harapan Baru: Rabbi Leo Dee Menemukan Cinta Setelah Tragedi
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu (kiri) berjabat tangan dengan Rabbi Leo Dee, yang kehilangan istri dan dua putrinya dalam serangan teror, selama kunjungan shiva ke Efrat pada 16 April 2023. (Dok. Amos Ben-Gershom/GPO)

ASKARA - Dua tahun setelah kehilangan istri dan dua putrinya dalam serangan teroris yang mengguncang hati bangsa, Rabbi Leo Dee, seorang pemimpin spiritual Yahudi, perlahan bangkit dan menata ulang kehidupannya. Kisahnya bukan hanya tentang duka yang mendalam, tetapi juga tentang kekuatan untuk bertahan, menemukan makna, dan membuka hati kembali terhadap cinta serta masa depan.

Dalam tradisi Yahudi, rabi (rabbi) adalah tokoh agama yang memimpin umat, mengajarkan hukum Taurat, serta menjadi pembimbing dalam hal spiritual dan etika. Bagi komunitasnya, Rabbi Dee bukan sekadar pemuka agama—ia adalah teladan yang memilih untuk bangkit dari luka dan menjadi cahaya bagi banyak orang.

Tragedi yang Mengubah Segalanya

Pada 7 April 2023, Leo Dee dan keluarganya melakukan perjalanan dengan dua mobil terpisah. Di dalam salah satu mobil, istri Dee, Lucy, dan dua putrinya, Maia (20 tahun) dan Rina (15 tahun), tengah menuju Tiberias melalui Lembah Yordan. Namun di persimpangan Hamra Junction, mobil mereka diserang oleh kelompok teroris yang dikaitkan dengan Hamas. Maia dan Rina tewas di tempat kejadian, sementara Lucy meninggal dua hari kemudian di rumah sakit akibat luka serius.

Dee, yang saat itu berada di mobil berbeda bersama anak-anak lainnya, tidak menyaksikan langsung kejadian tersebut. Namun kabar duka yang menyusul segera mengubah jalan hidupnya selamanya.

Dalam upacara pemakaman yang dihadiri ribuan pelayat, Dee menyampaikan pidato yang menyentuh hati. Ia menyebut Lucy sebagai sahabat sejatinya dan rekan hidup selama 25 tahun.

"Kami menjelajahi dunia bersama. Kami pindah ke Israel bersama. Kami membangun kehidupan baru di Tanah Perjanjian,” ucapnya penuh haru.

Dari Pertanyaan Menyalahkan ke Penerimaan

Setelah tragedi itu, Dee mengalami kesedihan mendalam, kebingungan, dan kekosongan. Namun, dalam proses pemulihannya, ia menyadari bahwa terus mempertanyakan masa lalu tidak membawanya ke mana-mana.

"Orang-orang sering bertanya, ‘Bagaimana jika kami tidak pindah ke Israel?’ atau ‘Bagaimana jika kami berangkat lebih lambat pagi itu?’ Tapi saya belajar bahwa pertanyaan itu tidak memiliki akhir dan tidak memberikan jawaban yang menenangkan,” ungkapnya.

Sebaliknya, ia menemukan ketenangan dalam sebuah pertanyaan lain:

"Bagaimana jika Tuhan memang merencanakannya seperti ini?”

Bagi Dee, keyakinan bahwa segala sesuatu memiliki makna dalam rencana ilahi membantunya menerima kenyataan, meski pahit.

Menyelamatkan Nyawa di Tengah Kehilangan

Beberapa hari setelah Lucy meninggal dunia, pihak rumah sakit meminta izin untuk menggunakan organ tubuhnya bagi pasien lain yang membutuhkan. Atas saran dari seorang rabi senior, Dee setuju. Tak lama kemudian, ia dan anak-anaknya bertemu dengan lima orang yang hidupnya terselamatkan berkat transplantasi organ tersebut.

"Kami tidak tahu bagaimana harus merasa saat itu. Tapi setelah bertemu mereka, kami merasa terhibur. Dari tragedi, masih ada kebaikan yang bisa lahir,” katanya.

Melanjutkan Hidup dan Menemukan Cinta Kembali

Tinggal di Efrat bersama tiga anak yang masih hidup—Keren (21 tahun), Tali (19 tahun), dan Yehuda (16 tahun)—Dee menyadari ada ruang kosong yang belum terisi dalam kehidupannya. Ia rindu akan kehangatan cinta dan kehadiran pasangan.

"Suatu malam saat Shabbat, saya duduk sendiri di rumah. Hening. Saya menangis terisak selama setengah jam. Di saat itu saya sadar, saya tidak ingin menjalani hidup ini sendirian.”

Setelah hampir satu tahun, Dee mulai membuka diri. Ia bertemu banyak wanita, berkenalan dan mencoba membangun hubungan, hingga akhirnya berjumpa dengan Aliza Teplitsky, seorang perempuan asal Yerusalem.

"Dengan Aliza, pembicaraan kami tak melulu soal trauma. Kami tersambung karena banyak hal lain. Ia orang yang ceria dan penuh semangat,” ujarnya.

Pada 19 Juni 2025, Dee melamar Aliza di titik pandang Ari Fuld di Gush Etzion. Anak-anaknya turut menyusun momen lamaran itu menjadi pengalaman yang penuh kehangatan dan kebersamaan.

Menjadi Mosaik Kehidupan

Dalam sebuah esai reflektif, Dee menulis:

_"Saya bukan lagi satu pribadi yang utuh seperti dulu. Saya kini adalah sebuah mosaik—terdiri dari potongan-potongan kenangan, kehilangan, penyembuhan, dan harapan.”_

Ia masih memikirkan Lucy, Maia, dan Rina setiap hari, namun kini ia mampu mengenang mereka dengan senyum, bukan hanya tangis. Kehilangan tersebut justru membentuk cara pandangnya terhadap hidup: bahwa yang paling penting bukanlah apa yang telah pergi, melainkan bagaimana kita menjadikan yang tersisa menjadi bermakna.

"Tragedi mengajarkan saya untuk memfokuskan diri pada hal-hal yang benar-benar penting: keluarga, sahabat, dan tujuan hidup.”

Harapan di Tengah Luka

Kisah Leo Dee bukanlah kisah tentang menghapus kesedihan, melainkan tentang menerima luka sebagai bagian dari kehidupan—dan tetap memilih untuk mencintai. Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian dan kekerasan, ia membuktikan bahwa harapan masih dapat tumbuh, bahkan dari tanah yang paling gersang sekalipun.

_Artikel ini disadur dan disusun berdasarkan laporan berjudul “Two years after terrorists murdered his wife and daughters, Leo Dee is getting remarried” karya Zev Stub yang diterbitkan oleh The Times of Israel pada 28 Juni 2025._

 

 

Komentar