Opini: Enam Kata Jujurlah Sekali Saja Sebelum Mati
Oleh: Dwi Taufan Hidayat
ASKARA - Di negeri yang penuh parade pencitraan, kejujuran menjadi barang langka, bahkan lebih mahal dari emas atau kekuasaan itu sendiri. Maka ketika seorang penguasa mendadak sakit, sebagian publik tidak bersorak, tapi juga tidak lupa. Sakit bukan penghapus dosa publik. Di balik tubuh yang ringkih, tetap ada tuntutan yang tak bisa dipadamkan: kejujuran yang belum pernah datang.
Kami tidak ingin engkau sakit. Percayalah, tidak ada satu pun dari kami yang berdoa agar tubuhmu membusuk oleh penyakit. Tidak ada yang mengangkat tangan ke langit untuk meminta kematianmu dipercepat. Tapi jangan pernah salah sangka: kesakitanmu tidak serta merta menghapus kesalahanmu.
Karena kami tidak sedang melawan tubuhmu. Kami melawan apa yang engkau lindungi: kebohongan.
Kebohongan itu berwujud ijazah yang tidak pernah terbit dari institusi pendidikan manapun, tapi entah bagaimana bisa sah menjadi fondasi kekuasaan. Kebohongan itu berwujud senyum di depan kamera, yang di belakangnya menyimpan jaringan predator kekuasaan yang lebih buas dari mafia narkoba. Kebohongan itu bukan tentang dirimu semata, tapi tentang seluruh sistem yang engkau biarkan tumbuh di bawah bayang-bayangmu.
Kami tidak sedang marah karena engkau jatuh sakit. Kami justru bertanya-tanya: mungkinkah sakitmu itu adalah bentuk belas kasihan langit yang terakhir, sebelum semuanya terlambat?
Engkau bisa menolak kamera, bisa menghindar dari wartawan, bisa menyembunyikan kondisi medismu dari rakyat. Tapi engkau tidak bisa sembunyi dari waktu. Karena waktu akan menggerogoti seluruh kebohongan yang engkau pahat selama ini, dan hanya menyisakan satu pertanyaan penting di ujung hidupmu: apakah engkau pernah jujur?
Kami tahu engkau tidak sendirian. Engkau mungkin hanya pion dari kekuatan besar yang selama ini mengatur segalanya. Tapi pion pun punya pilihan. Bisa melanjutkan permainan kotor, atau berhenti dan mengakui bahwa ia pernah terlibat dalam penipuan sejarah.
Masalahnya, kejujuran tidak populer di istana. Di sana, semua disesuaikan. Naskah disusun, narasi dipoles, wajahmu dirias agar tampak tetap berwibawa, walau nurani mungkin sudah lama wafat. Maka kami pun tidak berharap banyak. Kami hanya menuntut satu: katakan yang sejujurnya, sekali saja, sebelum segalanya selesai.
Ini bukan soal politik. Ini soal penyembuhan bangsa. Bangsa yang terlalu lama diberi mimpi kosong. Terlalu lama ditinabobokan oleh slogan, simbol, dan sandiwara. Bangsa yang lelah dengan pemimpin yang tidak memimpin, tapi hanya menjadi juru bicara dari kekuatan gelap yang tak pernah memilih pemilu, tapi selalu menang di balik layar.
Engkau mungkin mengira bahwa rasa simpati akan memadamkan kritik. Tapi kami tidak mencari tragedi. Kami mencari pertanggungjawaban. Bukan untuk kami, tapi untuk sejarah. Agar cucu-cucu kami tahu, bahwa di zaman ini, pernah ada rakyat yang tetap menuntut kebenaran meskipun sang penguasa sedang sekarat.
Jika engkau masih bisa membaca ini, jika engkau masih punya kesadaran, maka jangan habiskan napasmu untuk menyangkal. Gunakanlah sisa waktumu untuk menebus. Karena satu kalimat jujur dari seorang penguasa yang hampir mati bisa menjadi pengakuan paling suci yang pernah ditulis dalam sejarah bangsa ini.
Katakanlah: “Ya, aku tahu ijazah itu palsu.”
Atau: “Ya, aku tahu siapa yang mengendalikanku.”
Atau cukup: “Maafkan aku, karena telah membiarkan semuanya terjadi.”
Kami tidak akan menuntut lebih. Kami tidak akan bersorak atau menari atas pengakuanmu. Kami hanya akan menuliskannya di batu sejarah: bahwa akhirnya, seorang penguasa pernah memilih jujur, meski di akhir hayatnya.
Karena jika engkau tidak jujur sekarang, maka seluruh doa rakyat akan berubah menjadi saksi bisu bahwa engkau lebih memilih mati sebagai simbol kebohongan, bukan sebagai manusia yang menebus kesalahan. Dan ketika waktu benar-benar mematikan tubuhmu, maka engkau akan ditelan dua kematian: kematian jasad dan kematian harga diri.
Di negeri ini, banyak orang sudah mati sebelum ajal datang. Mereka mati karena nuraninya dibunuh oleh kekuasaan. Jangan jadi bagian dari mereka. Pilihlah jalan pulang yang benar: pulang sebagai manusia yang jujur.
Kami tidak ingin engkau sakit. Kami hanya ingin engkau jujur.
Dan satu kejujuranmu, bisa menyembuhkan luka besar yang selama ini engkau abaikan.
Kalau saja engkau berani memilihnya. Sekali saja. Sebelum semuanya usai.

Komentar