Iran Akui Fasilitas Nuklir Rusak Parah Usai Digempur AS-Israel
Trump Klaim Sudah Hancur Total
ASKARA - Pemerintah Iran secara terbuka mengakui bahwa sejumlah fasilitas nuklirnya mengalami kerusakan parah akibat serangan udara gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
"Ya, instalasi nuklir kami rusak parah," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (25/6).
"Hal itu benar karena situs-situs kami diserang berulang kali."
Serangan udara yang dilancarkan AS pada Minggu (22/6) menargetkan tiga lokasi utama: Natanz, Fordow, dan Isfahan. Militer AS mengklaim ketiga situs itu telah dihancurkan sepenuhnya, termasuk kemampuan Iran untuk memproduksi senjata nuklir.
Operasi militer ini merupakan lanjutan dari agresi Israel yang lebih dulu meluncurkan Operasi Rising Lion sejak 13 Juni 2025, dengan target berulang ke infrastruktur nuklir strategis Iran.
Namun, laporan intelijen AS yang dirilis CNN menyebutkan bahwa serangan tersebut belum sepenuhnya melumpuhkan inti dari program nuklir Teheran. Penilaian awal dari Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut sebagian besar kemampuan Iran dalam pengayaan uranium dan teknologi nuklir masih dapat dipulihkan.
Menyanggah laporan tersebut, Presiden AS Donald Trump melalui platform media sosial Truth Social menyatakan bahwa penghancuran telah dilakukan secara menyeluruh.
"SITUS-SITUS NUKLIR IRAN SUDAH BENAR-BENAR HANCUR!" tulis Trump, seperti dikutip AFP.
Di sisi lain, Kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Mohammad Eslami, menyatakan bahwa Iran tetap berkomitmen melanjutkan program nuklirnya. Ia menyebut pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah strategis guna memulihkan dan mempercepat kembali proses pengembangan nuklir.
"Iran telah membuat serangkaian pengaturan sebelumnya untuk mengembalikan program nuklir kami," kata Eslami dalam pernyataan yang dikutip dari kantor berita Tasnim News.
Sementara itu, dalam laporan militer AS terungkap bahwa serangan ke bunker nuklir Iran menggunakan bom super berat GBU-57 seberat 13.600 kilogram yang dijatuhkan dari jet pengebom siluman B-2. Bom ini dikenal mampu menembus perlindungan beton tebal dan dirancang khusus untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah seperti situs nuklir Iran.
Serangan udara ini menandai babak baru ketegangan di Timur Tengah, yang tak hanya berdampak pada stabilitas regional, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran global atas potensi perlombaan senjata nuklir yang lebih luas.

Komentar